Breaking News

Teror Bom di Jakarta

Catatan Aksi Teror Bom di Indonesia

Tiga ledakan terjadi di dekat kantor konsulat Amerika di Renon, Denpasar. Ledakan di Legian menewaskan 187 orang dan 385 luka-luka.

Editor: Ferry Ndoen

POS KUPANG.COM - Jakarta dengan semua aktivitas belasan juta warganya tidak kebal dari bom, ledakan, dan aksi-aksi teror. Motif pelaku beraneka rupa, mulai dari sekedar menyatakan eksistensi diri, kontra pemerintahan, jaringan teror internasional, hingga bermotif politik ingin menggulingkan pemerintahan sah.

Paling mutakhir adalah bom di depan Gedung Sarinah, persimpangan antara Jalan MH Thamrin dan Jalan Kebon Kacang-Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, sekira pukul 10.30 WIB Kamis.

Berikut ringkasan peristiwa teror bom di Jakarta, dan sejumlah tempat di Indonesia:

1957: Teror bom pertama yang meledak setelah Indonesia merdeka. Presiden Soekarno yang sedang berkunjung ke sekolah Perguruan Cikini, Jakarta Pusat, dan hendak dibunuh melalui ledakan bom. Bung Karno selamat pada serangan saat hari ulang tahun (HUT) Perguruan Cikini, yang juga menjadi tempat anak-anaknya bersekolah.

1976: Pada era Soeharto, setelah sekian tahun tidak ada teror bom, tiba-tiba Masjid Nurul Iman di Padang, Sumatera Barat, diledakkan orang tidak dikenal. Pelakunya tak pernah tertangkap. Menurut aparat keamanan, pelakunya bernama Timzar Zubil, yang tidak bisa dikonformasi kebenarannya hingga kini.??

1978: Masjid Istiqlal, Jakarta, diteror bom, dan belum diketahui pelaku dan motifnya hingga kini.
?
4 Oktober 1984: Bank BCA di Pecenongan, Jakarta Pusat, diledakkan. Beberapa nama terkenal terseret kasus ini, seperti AM Fatwa, Letnan Jenderal (Purnawirawan) HR Dharsono, mantan Menteri Perindustrian HM Sanusi. Kebanyakan adalah anggota Petisi 50 yang kritis terhadap cara Soeharto memerintah Indonesia. Menurut pengakuan pelaku di lapangan, aksi ini merupakan pelampiasan kekecewaan mereka atas Peristiwa Tanjung Priok. ?

1985: Satu bus malam, Pemudi Express, diledakkan di daerah Banyuwangi, Jawa Timur. Pelakunya adalah Abdul Kadir Alhasby. Teror bom ini diduga kuat ada kaitannya dengan kasus Tanjung Priok.??

Di tahun yang sama, sejumlah stupa di Candi Borobudur, Jawa Tengah, berantakan dihajar bom. Tempat suci agama Budha itu dibom kelompok radikal keagamaan berlatar politik. Dua bersaudara Abdulkadir bin Ali Alhabsyi dan Husein bin Ali Alhabsyi dituding sebagai pelaku peledakan Candi Borobudur.

1986: Kali ini pelaku bom adalah orang asing yang menamakan dirinya Brigade Anti Imperialisme dari Jepang. Sasarannya adalah Wisma Metropolitan dan Hotel Presiden (sekarang Hotel Nikko). Kedua bangunan tersebut milik pemerintah yang dibangun dengan rampasan perang dari Jepang.??

Kelompok dari Jepang itu diduga akan meluncurkan roket dari kamar Hotel Presiden ke Kedutaan Besar Jepang di Jakarta dan Kedutaan Besar Kanada di Jakarta. Saat itu, ekonomi Indonesia masih sangat mengandalkan utang dari Kelompok Antarpemerintah bagi Indonesia (Intergovernmental Group on Indonesia/ IGGI), yang menempatkan Jepang pemberi utang utama.

1991: Anak buah gerilyawan Fretilin, Kay Ralla Xanana Gusmao, meledakkan bom di Demak, Jawa Tengah. Jakarta sangat represif pada pergerakan di Dili, Timor Timur, itu yang puncaknya adalah peristiwa Santa Cruz, di Dili,??1991. Satu Hotel juga diledakkan di Surabaya.

??1998: Pada awal reformasi Januari 1998, bom meledak di rumah susun Senen, Jakarta.
Di tahun yang sama tempat parkir kendaraan di Atrium Plaza di Jakarta Pusat, diledakkan. Sejumlah mobil rusak berat.

1999: Pusat perbelanjaan Ramayana di Jalan Agus Salim (dikenal sebagai Jalan Sabang), Jakarta Pusat, diledakkan sehingga merusak bagian toko itu. Pelakunya sama dengan pelaku di Atrium Plaza, pusat perbelanjaan Senen, Jakarta Pusat.?, pada 1998.
Di tahun ini pula pusat perbelanjaan Plaza Hayam Wuruk di Jakarta Barat, diledakkan sejumlah pemuda yang mengaku anggota Angkatan Mujahidin Islam Nusantara. ??

Malam Natal 2000: Sejumlah gereja yang dipenuhi jemaat yang merayakan Malam Natal di Jakarta, Bekasi, Sukabumi, Bandung, Mojokerto, Mataram, Pematang Siantar, Medan, Batam, dan Pekanbaru, diledakkan. ??Inilah awal keterlibatan Hambali dalam rangkaian teror di Indonesia. Pria asal Cianjur yang ditangkap di Ayutthaha, Thailand, 2003, oleh aparat intelijen Thailand. Ia menunjuk Imam Samudra untuk pelaksana aksi teror di Batam dan Idris alias Gembrot untuk Pekanbaru. ??

1 Agustus 2000: Bom meledak di kediaman Duta Besar Filipina untuk Indonesia, di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, dan menewaskan dua stat kedutaan besar negara ASEAN itu.? ?

Sumber: Bangka Pos
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved