Pilkada Serentak 2015

Awas Virus G

Ulasan media sosial beragam versi ditampilkan. Salah satu bisa disimak. Facebook Belu Memilih

Editor: Dion DB Putra

Oleh Romo Inosensius Nahak Berek, Pr
Imam Projo Keuskupan Atambua, Tinggal di Paroki Nualain

POS KUPANG.COM - Jantung pasti berdebar. Nadi kehidupan tersentuh. Kenyataan 'ekstrem' akan dihadapi. Seperti apa? Sorotan publik tertuju pada hari bersejarah. Rabu, 9 Desember 2015. Peristiwa akbar. Sungguh menegangkan. Bisa menakutkan bagi pribadi pesimistis. Menggembirakan bagi insan berpengharapan.

Ulasan media sosial beragam versi ditampilkan. Salah satu bisa disimak. Facebook Belu Memilih digandrungi peminat tanpa batas umur. Semua bisa beropini. Ada sisi gelap. Saling menuding menebar catatan buram. Figur publik jadi sorotan. Tersentil pujian demi prestise. Seakan bermantol selebriti dalam berita. Menarik.Tentu ada maksud terimplisit.

Bicara soal pemilihan langsung tentu tertanam standar kebebasan. Bebas nyatakan pikiran. Leluasa jatuhkan pilihan. Unsur kebebasan masuk dalam sisi demokrasi. Kebebasan berekspresi memberi jaminan akan capaian tujuan. Kondisi aman bisa didapat secara maksimal bila situasi bathin terlepas dari intimidasi. Idealnya ada ketenangan bathin. Bila kebebasan terpasung akan menuai masalah. Sejarah bangsa kita telah mengukir catatan kelam.

Ulasan seputar Demokrasi Pancasila tak pernah lupat dari coretan. Menjelang pemilihan umum (pemilu) tahun 1977 timbul satu gerakan kelompok kaum muda, terutama mahasiswa untuk memboikot pemilu karena dianggap tidak demokratis. Kurang adanya kebebasan (civil liberties) sebagai syarat dalam ranah pemilihan yang jujur dan adil. Untuk melaksanakan sikap ini, mereka (baca:mahasiswa) bertekad untuk tidak mengunjungi masing-masing Tempat Pemilihan Suara (TPS). Gerakan ini disandang Golongan Putih (golput).

Dampak golput sungguh terasa. Apatisme warga bermunculan. Ketidakpuasan terangkat ke permukaan. Kebebasan berpendapat hilang. Tak lagi dihargai. Saksikan apa yang terjadi. Jaman Demokrasi Pancasila (1965-1998) di bawah kekuasaan Soeharta dari orde baru menggantikan orde lama lebih ditekankan peran absolut presiden. Sosok presiden Soeharto telah menjelma menjadi tokoh yang paling dominan dalam elit politik Indonesia.

Secara politis golput cukup berpengaruh dalam sistem berdemokrasi. Berjalannya waktu, preseden golput nampak mengejutkan. Prosentasi golput bisa disimak: 0,7% (1971) 3,5% (1977) 4,8% (1982) 3,8% (1987) dan 4,9% (1992), (Miriam Budiardjo: Dasar-Dasar Ilmu Politik,p.480).

Keterlibatan warga berdemokarasi sangat vital. Ada sisi positif. Unsur kebebasan dipergunakan secara maksimal. Hasilnya ditemukan dalam keputusan menjatuhkan pilihan. Tanggung jawab terbesar pemilih berkiblat pada nilai yang ingin dicapai. Mengedepankan kebersamaan. Mengutamakan kepentingan publik. Meninggalkan sikap ego yang mengkerdilkan martabat insani. Hak bersuara memperlihatkan image persona sebagai ens politicon (maklum berpolitik). Mengangkat harga diri yang terbelenggu dalam sistem. Mengungkap kenyataan tanpa tekanan.

Keputusan yang tepat nampak dalam keutuhan diri yang otentik. Jatuhkan pilihan pada salah satu figur. Berangkat dari kedalaman diri. Pertajam kearifan untuk mengabdi kebenaran. Keputusan itu tepat bila keluar dari kebebasan bukan paksaan. Sangatlah miris. Kebebasan diri dibungkus dengan selubung kepentingan kaum elit. Terjepit diantara beragam isu miring. Membisu dalam ketakpastian.

Pemilihan langsung kepala daerah (pilkada) akan berlangsung. Kabupaten Belu, Malaka, TTU dan beberapa daerah lain. Dukungan semua pihak sangat diharapkan. Masa depan daerah pemilihan tergantung pada sosok pemimpin panutan. Kata pilihan memperlihatkan opsi. Dibutuhkan ketepatan untuk menentukan. Mana yang perlu disinkronisasikan. Gunakan hak suaramu (baca:masyarakat). Berusaha memilih karena pengertian yang tepat atas pilihan itu. Berkomitmen untuk setia pada keputusan pribadi. Berani berkata tidak atas hasutan dan plesetan 'serangan fajar'. Pilihan itu berdaya reformis bila diaktualisasikan secara sadar.

Pilihlah pemimpin bukan pemimpi. Pemimpin yang sejati mampu 'menghipnotis' orang lain dengan keteladanan. Sanggup menaklukkan keinginan diri. Menuntun orang lain menemukan kenyamanan. Perubahan sungguh terjadi bila alibi kejar kuasa tunduk pada kepentingan publik. Benar kata Napoleon Bonaparthe: "Satu-satunya penaklukan permanen dan tidak menyisahkan penyesalan adalah penaklukan diri sendiri. Jangan pernah mencoba menaklukkan dunia sebelum anda membereskan hal-hal kecil di dalam dirimu."

Taklukkan diri untuk berani bersuara. Tentukan pilihan demi sebuah perubahan. Lupakan kecemasan di masa lampau. Inilah saatnya untuk menangkan kebenaran dalam kebebasan. Ketakutan tanpa dasar mampu meruntuhkan mimpi kita menuju sebuah perubahan. Awas 'virus' golput. Hindarilah. Biasnya akan memperlemah perjuangan. Pilihanmu menentukan masa depan daerahmu.*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved