Anak anak Bali Peduli Lingkungan
Oh Baliku, Mengapa Subak-subak Itu Berganti Vila
Sekitar dua bulan lalu subak kami mendapatkan air yang debitnya kecil. Kian hari kian mengecil sampai tidak cukup mengairi
Penulis: Benny Dasman | Editor: Ferry Ndoen
TATAPAN mata I Wayan Rauh (50), nanar menerawang hamparan sawah di depannya. Padi yang seharusnya menguning tak ia lihat lagi. Kini hanya rerumputan tumbuh di tanah sawah yang kian padat mengering. Sembari menenteng sebilah sabit, Rauh lalu berujar, "Kami gagal panen untuk kedua kalinya tahun ini," ujarnya, Rabu (21/10/2015).
Sudah dua bulan lamanya petani di Subak Bonbiu, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar, mengalami kekeringan. Tak pelak ihwal ini membuat setidaknya sekitar 10 hektare sawah yang digarap 200 petani terancam gagal panen. Tanah sawah mengering, pecah terbelah. Tiada padi yang mampu tumbuh.
"Sekitar dua bulan lalu subak kami mendapatkan air yang debitnya kecil. Kian hari kian mengecil sampai tidak cukup mengairi para petani pemilik maupun penggarap sawah ini," keluhnya.
Dari satu hektare sawah yang ia garap, 50 are sudah ia tanami padi. Dua bulan tidak mendapatkan air, tanamannya pun kini mati. Padi berganti padang. Ini membuat Rauh memastikan diri mengalami kerugian Rp 2,3 juta. "Rugi, pasti rugi. Lihat saja di sekeliling subak ini. Tak sepetak pun sawah yang digenangi air. Itu nominal rugi untuk biaya pupuk, bibit, traktor dan lainnya. Belum termasuk tenaga kami setiap hari," keluh Rauh.
Aktivitas para petani Subak Bonbiu pasca kekeringan dihabiskan dengan menyabit rumput untuk pakan sapi. Rauh pun bertanya, bagaimana bisa petani mewujudkan swasembada dan ketahanan pangan, namun masalah-masalah pertanian direspon lamban. "Saya baca di koran, di televisi juga terus didengungkan ketahanan dan swasembada pangan. Bagaimana bisa sawah kami kekeringan begini dibiarkan," kesalnya.
Tahun lalu, kekeringan juga dirasakan para petani. Bahkan berlangsung hampir enam bulan lamanya. Penyebabnya sama, ada longsoran bekas tambang batu cadas liar yang menutupi saluran Tukad Petanu.
Anggota Komisi IV DPRD Gianyar, Ni Made Ratnadi, mengungkapkan, selain Subak Bonbiu, jebolnya Bendungan Bedulu, di daerah Bangunliman yang menimbun Tukad Petanu juga berimbas pada delapan subak lainnya. "Ada delapan subak lainnya yang mengalami kekeringan. Jika rata-rata satu subak terdiri dari 10 hektare, maka tertimbunnya Tukad Petanu membuat 90 hektare sawah kekeringan. Kami akan cek," ungkapnya.
Tak hanya Wayan Rauh yang hatinya meronta. I Made Lekusa pun demikian. Ia hanya berdiri termangu di pinggir Subak Buangga di Desa Getasan, Kecamatan Petang, Badung, Minggu (13/9/2015). Diam seribu bahasa. Menarik napas panjang. Seolah tak percaya subak di hadapannya itu kering kerontang.
Praktis sejak mengecilnya debit air ke areal persubakan ini, petani setempat tidak bisa lagi menanam padi. Kemarau panjang yang saat ini mendera Bali semakin menyulitkan aktifitas pertanian di subak ini yang saban tahun mengelola pertanian organik. Pasalnya, selain tidak bisa menanam padi, jenis tanaman lain seperti kacang-kacangan dan palawija juga sulit tumbuh akibat mengerasnya tanah sawah.
Luas Subak Buangga 148 hektar. Terdiri dari empat munduk, yakni Munduk Buangga, Munduk Kasianan, Munduk Beng dan Munduk Pandian. Jumlah krama subak 215 orang petani. "Sejak tiga tahun terakhir, krama Subak Buangga sama sekali tidak bisa bercocok tanam. Selain tidak bisa menanam padi, tanaman palawija juga tidak bisa hidup karena keringnya tanah. Jangan kan padi, kacang-kacangan dan palawija pun tak bisa tumbuh karena sama sekali tidak ada air. Kondisi ini sudah terjadi sejak tiga tahun lalu," ujar Lekusa, seorang petani Subak Buangga.
Mantan Pekaseh ini juga mengatakan, kehidupan petani di subak ini sangat kesulitan. Hasil pertanian yang menjadi satu-satunya tumpuan hidup petani sudah tidak ada lagi. "Kami sudah pasrah. Sudah tiga tahun kami tidak bisa menanam padi. Tidak ada hasil apa dari sawah, sementara kebutuhan hidup naik terus," beber Lekusa.
Jika kondisi ini tidak segera diatasi, Lekusa khawatir petani akan banyak beralih profesi dan menjual tanahnya dan orang kaya membangun vila di atasnya. Sebab, sebagian sawah sudah mulai dikavling untuk dibangun vila. "Kami petani sudah tidak bisa hidup dari bertani. Kami berharap pemerintah turun dan memberi solusi," harap Lekusa.
Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (DP2K) Badung, IGAK Sudaratmaja , tak menampik kondisi yang dialami warga. "Untuk Subak Buangga memang sejak dulu kekurangan air. Untuk kondisi lahan seperti itu, cocoknya bertanam palawija seperti kacang tanah," sarannya. (balitribune.co.id, 14 September 2015).
Sementara petani di Subak Mambal, Desa Mambal, Badung, justru tersenyum. Mereka tak terkena dampak musim kemarau tahun ini. Memanen padi dua kali. Mengapa? Para petani yang tergabung dalam Subak Mambal terlibat dalam Gerakan Mambal Lestari melestarikan DAS Ayung. Wujudnya, mengembangkan pertanian sehat atau ramah lingkungan.
"Terbukti ampuh, air di Subak Mambal dari DAS Ayung tidak surut. Kami juga punya laboratorium sebagai tempat belajar petani untuk mengembangkan pertanian ramah lingkungan," ujar Wayan Sulendra, Ketua Subak Mambal, akhir September lalu di Mambal. Dia mengakui Garakan Mambal Lestari ini bekerja sama dengan Aqua Mambal karena mereka (Aqua) juga memanfaatkan DAS Ayung.
Sulendra menyebut petani Subak Mambal yang sudah mandiri mengembangkan pertanian ramah lingkungan adalah Aji Oka (Munduk Bedugul) luas lahan 0,20 ha; Putu Widana (Munduk Kedampal) luas lahan 0,25 ha; Made Oka (Munduk Bedugul) luas lahan 0,25 ha; Rembig (Munduk Bedugul) luas lahan 0,13 ha: Pan Koncreng (Munduk Cungkub) luas lahan 0,20 ha; Runda (Munduk Cungkub) luas lahan 0,25 ha.
Bagi masyarakat Bali, subak adalah organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah yang digunakan dalam bercocok tanam. Subak yang telah terjaga selama lebih dari 1.000 tahun mendapat anugerah World Heritage (Warisan Dunia) untuk kategori lansekap budaya oleh badan PBB, UNESCO, pada 2012. Tidak hanya itu, kepopuleran subak mampu memikat lebih dari 2 juta wisatawan domestik dan mancanegara setiap tahunnya.
Lansekap dan tradisi budaya subak sangatlah populer sehingga petani pun menjual sawah mereka kepada pengembang dan membuat luas lahan produksi berkurang 1.000 hektare setiap tahunnya, Kondisi ini turut berkontribusi memberi tekanan lebih besar bagi petani lain untuk menjual sawah mereka.
Subak ini biasanya memiliki pura yang dinamakan Pura Uluncarik atau Pura Bedugul, yang khusus dibangun oleh para pemilik lahan dan petani yang diperuntukkan bagi dewi kemakmuran dan kesuburan Dewi Sri. Sistem pengairan ini diatur oleh seorang pemuka adat yang juga adalah seorang petani. Jika subak kering, petani Bali menganggapnya sebagai bencana. Sebab, subak merupakan urat nadi kehidupan para petani Bali.
***
Tak hanya subak yang kering. Dampak kekeringan di Bali juga membuat air Danau Buyan di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, menyusut sekitar satu meter dari permukaan selama kurun waktu sebulan terakhir. Penyusutan ini diduga karena musim kemarau dan pertumbuhan eceng gondok yang semakin liar. Kondisi berkurangnya air hampir mencapai seperempat danau, dan praktis hanya menyisakan lumpur.
Seorang petani stroberi di sekitar danau, Nyoman Lantur mengatakan, susutnya air danau ini diperkirakan sejak sebulan lalu. Ia pun mengaku kesulitan untuk mengairi kebun stroberinya. Pria ini harus membeli mesin pompa dan pipa panjang untuk mengalirkan air dari danau ke kebun stroberinya. "Biar tanaman stroberi tidak mati, saya beli mesin air agar tanaman tetap hidup," ujar Lantur.
Warga lainnya, Ni Putu Merta mengatakan, susutnya air danau ini membuatnya kesulitan mendapatkan air bersih. Selama ini ia mengandalkan sumur bor yang airnya bersumber dari danau. Kini air di dalam sumurnya turut surut dan keruh. "Kami tetap gunakan saja, karena tidak ada pilihan lain. Mudah-mudahan sumur tidak sampai mengering. Kalau kering saya mesti beli air galon di warung," ucapnya.
Dosen Pertanian Undiksha, Dr. Kartini, mengatakan, sumber air dari Danau Buyan tidak saja dimanfaatkan warga sekitarnya untuk penghidupan. Namun juga berfungsi sebagai kawasan daerah resapan air di Bali.
"Penurunan air diperkirakan terjadi akhir Agustus lalu. Diduga karena kekeringan dan fenomena alam ini akibat sedimen sangat tinggi. Selain itu, gulma mulai banyak, apalagi tanah di sekitar danau sudah sangat kering. Ini harus menjadi perhatian berbagai pihak," katanya.
Mimpi Anak-anak Bali
Keringnya subak dan sawah serta air Danau Buyan yang menyusut sebagai dampak kekeringan, mengundang keprihatinan anak-anak Bali. Adalah Pande Putu Setiawan melalui Komunitas Anak Alam mengobarkan semangat anak-anak untuk peduli lingkungan. Apa wadahnya?
Spektakuler. Sekitar 10.000 anak-anak Bali unjuk gigi pada Senin, 12 Oktober 2015 lalu. Mereka tidak kerja fisik dengan menanam anakan atau pohon-pohon di sumber-sumber mata air, tetapi kepedulian mereka terhadap lingkungan divisualkan melalui lukisan. Ide-ide mereka dituangkan di atas kanvas. Entah itu berupa jeritan alam karena eksploitasi secara besar-besaran ataupun masukan kepada penentu kebijakan agar melestarikan alam.
Anak-anak Bali menggambar harapan atas masa depan mereka di Pulau Dewata, tempat mereka tinggal. Dengan satu mimpi yang sama, agar alam sekitar yang masih ada sekarang, tidak tersisa hanya dalam rupa lukisan. Kini, banyak subak kering, tinggal kenangan, hanya nama. Mangkrak diganti vila-vila dan hotel megah. Penduduk lokal, sang pemiliknya, semakin tersisih. Terpinggirkan oleh kaum berdasi yang punya duit. Oh Baliku!
Usai menggelar proyek Menggambar Bersama 5.000 Anak Lereng Batur, dengan tema "Aku Cinta Danau Batur", kini Komunitas Anak Alam melanjutkan proyek serupa dengan tema berbeda. Dengan mengusung tema "Aku Cinta Sawah dan Subak Bali," Pande Putu Setiawan bersama teman-teman di Komunitas Anak Alam menggiring anak-anak di seluruh Bali untuk menggambarkan sawah dan subak di sekitar tempat tinggalnya dan bagaimana cara melestarikannya jika kekurangan air.
"Kalau yang Batur kemarin, kami mengajak anak-anak yang tinggal di sekitaran Danau Batur untuk peduli lingkungan di sekitar danau dengan cara yang sederhana, yaitu dengan melukis. Sementara untuk yang sekarang, lebih luas lagi untuk keseluruhan Bali," ujar Pande, Senin (12/10/2015).
Menurut Pande, sawah dan subak adalah bagian dari peradaban kebudayaan masyarakat Bali. Tapi, ironisnya, keberadaan sawah dan subak ini semakin sedikit dan berganti dengan hadirnya gedung-gedung dan vila-vila mewah.
"Setiap tahunnya, dari apa yang saya baca, sekitar 1.000 hektar sawah per tahunnya yang beralih fungsi. Kalau terus seperti ini, sawah dan subak di masa mendatang hanya tersisa dalam rupa gambar, lukisan atau foto saja. Ini yang kita advokasikan kepada anak-anak agar mereka mulai sekarang peduli dengan kondisi ini. Mereka mulai dengan melukiskan kondisi itu dan bagaimana solusinya. Juga tertuang dalam lukisan," ujar Pande.
Salah satunya, sudah dimulai bersama anak-anak di kawasan Ceking, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, pada awal Oktober 2015 ini. Berfokus pada anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), hingga saat ini sudah ada sekitar 200 anak dari kawasan Gianyar dan Bangli yang menggambar dengan tema subak yang kering dan sawah tersebut.
Proyek ini juga digarap oleh Anak Alam, bekerja sama dengan mahasiswa KKN Universitas Udayana, yang mana mereka mendatangi daerah-daerah di Bali yang masih memiliki potensi sawah dan mengajak anak-anak di sana untuk menggambar bersama. "Anak-anak seumuran ini (SD), bisa berekspresi lebih jujur. Dan, mereka harus diajak sejak awal agar paham akan apa yang terjadi di sekitar mereka," tambahnya.
Antusiasme anak-anak ini pun, menurutnya, sangat luar biasa. Tidak perlu diiming-imingi hadiah, dengan diberi kesempatan seperti ini, menurutnya, anak-anak tersebut sudah merasa senang.
"Gambar yang dihasilkan pun, untuk seusia mereka luar biasa. Bisa menggambar sedetail mungkin tentang kondisi subak dan sawah yang kering. Jarang-jarang mendapat kesempatan, ketika ada, mereka langsung menunjukkan kemampuannya," ujar Pande sumringah.
Tak hanya dalam rupa gambar, di belakang lukisannya anak-anak juga menceritakan tentang gambar mereka. Dalam bentuk tulisan, mereka mengungkapkan apa alasan mereka mencintai Danau Batur, Danau Buyan. Begitu juga mengapa mereka mencintai sawah dan subak.
Pamerkan Secara Online
Rencananya, proyek lanjutan 5.000 anak yang melukis sawah dan subak ini akan dilangsungkan selama setahun ke depan. Tidak hanya itu, dengan memanfaatkan teknologi yang terus berkembang, lukisan-lukisan tersebut dipamerkan pada sebuah pameran online.
"Proyek ini akan dipamerkan secara online guna mendapat masukan dan solusi yang ditawarkan nitizen dalam mengatasi problem subak di Bali. Selama satu atau maksimal dua tahun ke depan, rencananya akan ada minimal 10 gambar per hari yang diposting di online," ujar Pande.
Pameran secara online ini dicanangkan oleh Pande dengan tujuan semua orang bisa mengakses karya anak-anak Bali ini, tanpa terbatas wilayah tertentu. Yang penting adalah solusi dari nitizen. Pameran ini mencakup kedua tema, yakni Batur serta Sawah dan Subak. "Biar bisa diakses lebih banyak orang tanpa batas geografis," terangnya.
Pada tanggal 28 Oktober 2015, pameran tahap pertama, yakni tentang Danau Batur dilaunching. Dalam bentuk fisik, Pande dan anak-anak Komunitas Anak Alam menggelar pameran tersebut di Denpasar. "Untuk launchingnya akan dilakukan di Denpasar, 10 persen tentang Batur, 90 persen tentang sawah dan subak yang sudah ada. Baru setelah itu tiap hari kami posting secara online," pungkas Pande.
Asuransi untuk Petani
Wakil Gubernur Bali, Ketut Sudikerta, memberi solusi agar Subak tidak diincar kaum berduit. Ketika menghadiri acara Inisiasi Workshop dalam Pariwisata Berkelanjutan di Situs Warisan Budaya Dunia yang bertajuk, 'Lansekap Budaya Provinsi Bali: Subak sebagai Manifestasi Filosofi Tri Hita Karana,' di Hotel Sanur Paradise, Rabu (21/10/2015), Sudikerta memaparkan Subak tidak bisa dipisahkan dari filosofi agama Hindu, yakni Tri Hita Karana yang merupakan tiga harmonisasi yang mencakup hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan manusia lainnya.
Tri Hita Karana, menurut Sudikerta, menggambarkan betapa kayanya Bali dengan sistem budaya, dan penghormatan kepada alam sehingga Bali terkenal sebagai Pulau Dewata. "Inti dari sistem Subak adalah masyarakat sehingga pemerintah diharapkan senantiasa mendukung pengelolaan berbasis masyarakat dalam melestarikan sistem Subak. Karena itu, jangan dijual. Itu harga diri kita," tegas Wagub Sudikerta.
Subak, diakui Sudikerta, sebagai tulang punggung pertanian Bali. Karena itu, perlu dijaga dan dilestarikan dengan menata pengelolaan lembaga subak. Subak yang secara adat memang sudah ada di Bali, menurutnya, perlu dikelola lebih profesional oleh satu lembaga yang menaungi seluruh Subak, sehingga memberikan asas manfaat yang lebih baik dan diakui secara nasional.
Terkait usaha-usaha pemerintah dalam mendukung keberadaan Subak, Sudikerta memaparkan sudah banyak hal yang sudah dilaksanakan, di antaranya dari segi penataan infrastruktur, pemerintah sudah melaksanakan perbaikan saluran irigasi, membangun saluran baru. Pun jalan-jalan di daerah subak sudah diprogramkan setiap tahun.
Kepedulian pemerintah lainnya, lanjut Sudikerta, dari segi sarana prasarana berupa bantuan bibit-bibit unggul, dari sisi saprodi dibantu pupuk yang setiap tahun disubsidi mencapai Rp 10 miliar. Dan, dari sisi ketenagakerjaan yang saat ini susah untuk sektor pertanian, sudah diperingan dengan bantuan traktor tangan dan mesin pemanen.
Sudikerta pun mencanangkan perlunya sistem asuransi yang akan melindungi para petani apabila mengalami gagal panen. "Apabila petani mengalami gagal panen, maka sudah ada yang akan membayar tanggungannya, sehingga kerugian yang dialami bisa teratasi," pungkas Sudikerta.
Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kacung Marijan, pun mendukung agar pengelolaan Subak di Bali haruslah terintegrasi, menyeluruh dan lintas sektoral melibatkan kementerian terkait. Tidak hanya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tetapi, menurutnya, juga Kementerian Pariwisata.
Pengelolaan tersebut, diakui Kacung, juga harus melibatkan pemerintah tingkat provinsi dan kabupaten. Pengelolaan yang terintegrasi haruslah menjamin pelestarian Subak dari aspek warisan budaya maupun hidup masyarakat. Jika tidak, kelak, Subak hanya tinggal nama, tinggal kenangan dalam cerita dan gambar. Semoga tidak! (benny dasman)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/anak-anak-di-bali_20151026_075510.jpg)