Pesta Emas SMPK St Yoseph Kupang
Tempat Belajar yang Menyenangkan
Setelah Gerakan 30 September 1965, situasi politik dalam negeri belum stabil.
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Setelah Gerakan 30 September 1965, situasi politik dalam negeri belum stabil. Ratusan anak usia sekolah di Kota Kupang saat itu kesulitan untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Selain karena masalah ekonomi, juga karena keterbatasan sarana prasarana pendidikan. Akibatnya banyak anak tidak dapat melanjutkan pendidikan ke SMP setelah tamat sekolah dasar (SD).
Kondisi ini disebabkan minimnya lembaga pendidikan menengah pertama. Selain itu, daya tampung rombongan belajar sangat terbatas dan jarak tempuh yang cukup jauh. Realitas sosial yang terjadi kala itu menjadi keprihatinan berbagai pihak.
Di kondisi memrihatinkan, Yos Djogo, B. Sc, salah seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Pertanian Provinsi NTT, berinisiatif menghadirkan satu lembaga pendidikan menengah pertama, yaitu SMP.
Kala itu wilayah Naikoten, Kota Kupang, belum terlalu padat dan Yos memutuskan membangun sebuah lembaga pendidikan menengah pertama.
Motivasinya saat itu untuk menampung anak - anak yang sudah tamat sekolah dasar dan hendak melanjutkan pendidikan lebih tinggi. Niat itu akhirnya terwujud pada 6 Januari 1966, sebuah sekolah menengah pertama resmi didirikan dengan nama SMP Katolik Sapientia (Kebijaksaan) II.
Lokasi sekolah itu berada di Jalan ER Herewila No. 27, RT 05/RW 03, Kelurahan Naikoten II, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang.
Setelah sukses mendirikan lembaga pendidikan, Yos mengajak sekitar lima orang mahasiswa asal Flores yang sedang menimba ilmu untuk menjadi guru. Kelima orang tenaga honorer yang bertugas untuk mengasuh sekitar 23 orang siswa angkatan pertama saat itu dipimpin Barlon Parera. Ke-23 orang siswa angkatan pertama kala itu berasal dari berbagai latar belakang etnis dan agama.
Rata-rata para siswa yang biasanya mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) pada siang hari tinggal bersama wali murid dan orangtuanya. Selain itu, dua orang staf guru itu adalah di antaranya Drs. Piter Boli Keraf (mantan Penjabat Bupati Lembata) dan Bernard Belo Ola (mantan Kadis Sosial Kabupaten Sumba Timur dan Sikka).
"Kegiatan KBM dilakukan pada siang hari dan dipimpin oleh Bapak Barlon Parera, sebagai kepala sekolah. Beliau sebenarnya sudah memiliki tugas pokok, karena pagi hari menjadi kepala sekolah SDK Santo Belarnus, yang kemudian berubah nama menjadi SDK Santo Yoseph I ini," jelas Kepala Sekolah SMP Katolik St Yoseph Naikoten, Romo Amanche Frank OE Ninu, Pr, di ruang kerjanya, Jumat (4/9/2015).
Seiring perjalanan waktu, lembaga ini bergabung dengan Yayasan Swastisari Keuskupan Kupang (Keuskupan Agung Kupang saat ini) pada tahun 1969. Namun setelah berdirinya Paroki Santo Yoseph yang memekarkan diri dari Paroki Katedral Kristus Raja, pengelola lembaga itu diserahkan kepada Dewan Pastoral Paroki Santo Yoseph Naikoten.
"Oleh Pater C Nellisen SVD, misionaris asal Belanda yang menjadi pastor paroki saat itu, nama SMPK Sapientia II berubah menjadi SMPK Santo Yoseph. Nama Santo Yoseph pun diabadikan menjadi santo pelindung sekolah ini," jelas Romo Amanche.
Sebagai lembaga pendidikan, SMP Katolik Santo Yoseph Naikoten - Kupang, sejak awal hadir dengan visi membentuk manusia berkarakter yang unggul dalam ilmu, iman dan moral.
Selain itu, misinya antara lain, menciptakan sekolah sebagai komunitas pendidikan yang menyenangkan dan bersaudara, berdasarkan norma dan nilai budaya bangsa dan nilai-nilai Kristiani. Mengembangkan profesionalitas pendidikan dan tenaga pendidik dalam layanan pendidikan berkualitas.
Mengembangkan kurikulum secara optimal dan proses pembelajaran secara efektif, efisien dan inovatif. Mendorong dan membantu peserta didik untuk mengenali potensi diri, sehingga dapat dikembangkan secara optimal. Membekali peserta didik agar lebih mencintai alam serta lingkungan sekitar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/smpk-st-yoseph-kupang_20150907_100733.jpg)