Tinus Berdoa Sebelum Tanam Jeruk SoE
Bermodalkan beberapa pohon jeruk yang ditinggalkan sang ayah, Martinus mulai membudidayakan
Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG.COM - Hanya segelintir anak petani yang meneruskan pekerjaan sang ayah menjadi petani. Martinus Banoet (71) termasuk kelompok itu. Warga Desa Bosen, Kecamatan Mollo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) ini meneruskan pekerjaan ayahnya, Istofanus Banoet sebagai petani jeruk keprok SoE.
Bermodalkan beberapa pohon jeruk yang ditinggalkan sang ayah, Martinus mulai membudidayakan tanaman khas TTS itu pada lahan seluas kurang lebih 10 hektar. Tahun berganti tahun, Martinus terus mengembangkan usaha itu hingga pada tahun 1996, dia berhasil melakukan panen raya 1.500 pohon jeruk keprok SoE. Hasil panennya itu diangkut 11 truk dan menghasilkan uang Rp 76 juta.
Ditanya apa rahasianya, Martinus mengatakan, tidak menggunakan pupuk untuk pohon jeruknya itu. "Ba'i (kakek) saya dulu tanaman jeruk tidak pernah pakai pupuk atau obat aneh-aneh seperti sekarang, tetapi hasilnya sangat baik. Buahnya lebih besar, rasanya lebih enak. Dan sekarang saya juga tidak pernah pakai pupuk," tutur Martinus.
Namun, rahasia yang paling jitu, lanjutnya, yaitu berdoa sebelum menanam. "Minta berkat Tuhan agar tanaman yang ditanam bisa menghasilkan buah yang baik. Taman Eden saja tanpa pupuk bisa begitu subur," ujar Martinus.
Ia sudah kapok menggunakan pupuk kimia untuk tanaman jeruknya. Pasalnya, tahun 2000, hampir 1.500 pohon tanaman jeruk mati akibat serangan hama seusai menggunakan pupuk dari luar negeri.
Pupuk itu dibawa oleh orang asing saat mengikuti panen raya tahun 1996. Setelah memberikan pupuk itu, batang dan akar tanaman jeruk menjadi lembek dan berwarna kuning kemudian tanaman jeruk mati. "Saat itu saya harus kembali membudidayakan jeruk keprok dan baru bisa kembali menikmati hasilnya Tahun 2005. Sekarang saya tidak mau menggunakan pupuk kimia lagi," tegas suami dari Santi Toto itu.
Ayah empat orang anak ini mengaku dari satu pohon jeruk ia bisa mendapatkan penghasilan Rp 1 juta. Dari penghasilan menjual jeruk, lanjut Martinus, ia bisa menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi.
"Dulu yang uang Rp 76 juta hasil panen raya 1996 orang bawa lari. Saya simpan uang itu di bank swasta di Kupang. Eh... ternyata pemilik bank lari dan bank itu tutup. Saya sangat terpukul. Tetapi berkat Tuhan terus mengalir hingga saya bisa menyekolahkan anak-anak saya sampai perguruan tinggi. Bahkan ada yang sudah mau selesai kuliah. Tidak hanya itu, rumah tembok yang saya tinggal saat ini merupakan hasil menjual jeruk keprok SoE," ujar Martinus.
Martinus tidak perlu repot membawa jeruknya ke pasar karena sudah ada langganan. "Jadi, begitu mendekati musim panen mereka sudah datang untuk melihat hasil panen tahun ini. Bahkan ada yang langsung membayarnya. Sistemnya langsung beli per pohon dan mereka petik sendiri," ujar ayah dari Ayub, Maria, Amina dan Yeri.
Ia mengatakan, untuk menjadi petani sukses harus turun lapangan. "Kalau mau menjadi petani sukses tidak bisa lewat omong, tapi turun dan kerja di kebun. Maka Anda akan sukses. Biar alam yang mengajarkan kepada Anda apakah tanah ini cocok untuk tanaman apa dan tanah juga yang mengajarkan bagaimana menghasilkan panen yang baik," kata Martinus. (din)