Opini

Homo Ludens: Manusia Bermain (Tentang Integritas Manusia)

MANUSIA adalah makhluk bermain (homo ludens). Integritas, keutuhan dan pengenalan diri seorang manusia akan menjadi lebih transparan ketika ia tengah

Oleh: Dony Kleden
(Rohaniwan dan Antropolog di STKIP Weetebula, Sumba Barat Daya, NTT)

MANUSIA adalah makhluk bermain (homo ludens). Integritas, keutuhan dan pengenalan diri seorang manusia akan menjadi lebih transparan ketika ia tengah bermain.

Dalam bahasa Yunani semua akhiran -inda, diartikan sebagai permainan, dalam arti permainannya sebagai seorang manusia. Misalnya; sphairinda (bermain dengan bola), helkustinda (bermain tarik tambang), streptinda (main lempar), basilinda (main raja-rajaan).

Berbeda sekali dengan bahasa Yunani, dengan ungkapannya yang beraneka ragam dan heterogen untuk fungsi permainan, bahasa Latin hanya mempunyai satu kata saja yang mengungkapkan keseluruhan bidang permainan dan bermain, yakni: ludus, ludere di mana lusus hanya merupakan turunan kata-katanya saja. Dalam konteks yang semacam ini maka pengertian permainan sebatas semua aktivitas manusia yang tidak sungguh-sungguh, hanya iseng dan tidak serius.

Artinya, konsep ludens, secara klasik, sama seperti ada pada ikan yang sedang berenang kian ke mari, burung yang sedang

mengepak-ngepakkan sayapnya, dan hewan-hewan lain yang sedang bermain.

Dari sini kita bisa melihat bahwa, pengertian bermain itu seolah-olah secara berangsur-angsur meliputi semua bidang kehidupan yang tentunya sangat luas dan jamak dan tidak spesifik pada manusia yang adalah juga homo sapiens (manusia bijak), homo economicus (manusia terampil), homo religius (manusia beragama), homo faber (manusia tukang).

Kalau homo sapiens menunjuk kepada kemampuan inteligensi yang khas dipunyai manusia, homo faber dan homo economicus menunjuk kepada aspek keterampilannya dan kecerdikannya dalam hal mencari nafkah dan ketahanan diri dalam pergulatan eksistensial kejasmanian, maka dapat diduga bahwa di balik sebutan homo ludens, terhampar suatu analisis dan refleksi yang maha luas.

Homo Ludens dan Integritas manusia

Sudah sejak pertengahan abad ke-5 sebelum Masehi, Protagoras, yang bermahzab Sofis dari Yunani, sudah menunjuk pada keyakinan, yang telah menjadi salah satu program utama kaum filsafat tentang manusia, yakni "manusia adalah tolok ukur segala hal". Disusul oleh Socrates: "Kenalilah dirimu".

Jelaslah bahwa ide semacam ini hanya mungkin timbul dalam suatu iklim pemikiran kaum genius yang entah, bagaimana asal mulanya, sudah mampu membebaskan diri dari kurungan dunia mitologis, egoistis, dan parsial dan karenanya melihat bahwa ada satu manusia yang lebih otonom dan integral.

Dalam kaitannya dengan homo ludens, ada pembeda yang sangat substantif antara ludens yang terdapat pada manusia dan ludens yang terdapat pada hewan. Letak pembeda itu adalah kesadaran dan integritasnya. Pada hewan ludesns-nya dikendalikan oleh naluri, insting yang bersifat refleks dan bukan refleksif. Pada manusia, ludens-nya kendalikan oleh akal, otonomi, integritas dan kesadaran (consciousness).

Kualifikasi ludens pada manusia ini mempunyai konsekuensi logis yang sangat besar, yakni bahwa dia tidak mudah dan tidak akan membiarkan dirinya terperosok ke dalam ludens yang merendahkan integritasnya, otonominya dan melenyapkan kesadarannya. Mengapa? Karena ludens pada manusia selalu berangkat dari kesadarannya yang rasional sebagai manusia yang selalu memperhitungkan segala konsekuensi logis dari perbuatannya. Artinya, segala perilaku hidupnya selalu berangkat dari refleksi, bukan refleks sebagaimana yang ada pada hewan.

Pertanyaannya adalah; kalau memang demikian sebuah kualifikasi ludens pada manusia, mengapa begitu banyak kejahatan, ketidakadilan yang dewasa ini begitu marak dan masif diperankan oleh manusia? Dan jawabannya sangat sederhana; orang yang demikian sedang tidak memerankan ludens-nya sebagai manusia. Artinya manusia yang demikian sedang kehilangan otonominya, kehilangan integritasnya, kehilangan kesadaran rasionalnya dan akibatnya adalah kehilangan martabat dan harga dirinya.*

Editor: Alfred Dama
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved