Tamu Kita

Febyolla Ratu Nite: Menuju Bintang Melalui Jerih Payah

Menuju 'bintang' melalui jerih payah atau Per Aspera Ad Astra. Itulah motto hidup Febyolla Ratu Nite atau biasa disapa Feby.

PK/VEL
Febyolla Ratu Nite 

POS-KUPANG.COM KUPANG --- Menuju 'bintang' melalui jerih payah atau Per Aspera Ad Astra. Itulah motto hidup Febyolla Ratu Nite atau biasa disapa Feby. Wanita kelahiran Kupang 40 tahun silam ini adalah pengusaha suvenir handmade di Kelurahan Oesao, Kabupaten Kupang.

Melalui keterampilan dan tekad yang kuat, ibu tiga anak yang berperan sebagai orang tua tunggal ini bangkit dan mendirikan Ent Art Shop pada tahun 2014. Dengan visi menjadi pusat kerajinan khas NTT dan pusat pariwisata NTT, ia bercita-cita menjadi tempat industri kreatif perajin etnik lokal NTT. Berkat kerja keras dan ketekunannya, saat ini produk kerajinan kreatif miliknya sudah menembus pasar dunia.

Produknya sudah sampai di Belanda, Inggris dan Brunai Darussalam bahkan di Inggris beberapa bulan yang lalu. Bagaimana kiprahnya sampai sukses seperti saat ini dan apa saja tipsnya agar menjadi pengusaha sukses. Ikuti wawancara lebih lanjut Feby bersama wartawan Pos Kupang, Apolonia Matilde Dhiu dan OMDSMY Novemy Leo, di Swissbelinn Kristal Hotel Kupang, Selasa (11/6/2015).

Anda termasuk pengusaha aksesoris handmade dari bahan tenun ikat NTT modifikasi rajutan benang wol, yang cukup sukses di Kupang. Bisa diceritakan bagaimana Anda mengawali bisnis fashion ini?
Saya baru memulai usaha ini beberapa tahun belakangan. Awalnya saya bekerja serabutan. Apa yang bisa saya hasilkan untuk bisa mendapatkan uang secara positif, saya lakukan agar bisa menyambung hidup saya dan anak-anak. Saya pernah membuat dan berjualan kue dan nasi.

Saya masak pagi, dan ketika anak ke sekolah, mereka akan membawa untuk menjualnya di sekolah. Keuntungan jualan kue dan nasi dipakai untuk membiayai sekolah anak-anak dan kehidupan kami berempat. Untuk mengisi waktu lain, saya dan anak-anak bergabung dalam pelayanan rohani di Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI).

Mengapa Anda bergabung dalam pelayanan LPMI tersebut?
Saya merasakan bahwa pelayanan LPMI itu sangat menolong dan bisa memperbaharui kehidupan saya yang sangat terpuruk. Tahun 2008 lalu, saya mengalami masalah rumah tangga yang sangat besar. Saya dan suami adalah kontraktor. Namun saat itu ada masalah proyek sehingga dia melarikan diri, meninggalkan saya dan anak-anak sampai saat ini.

Karena itu, saya yang harus bertanggung jawab secara hukum dan masuk penjara selama 10 bulan. Setelah masuk dan keluar dari penjara, saya menjadi orang tua tunggal untuk tiga orang anak. Anak saya yang paling kecil saat itu baru masuk SMP. Saya seperti kehilangan kendali karena sudah terbiasa hidup di bawah naungan suami. Semua warisan dijual untuk menutup hutang dan saya mulai dari nol.

Saya sangat stres dan depresi. Kalau keluar rumah di tempat umum melihat ada kerumunan orang, saya akan pingsan. Saya juga seperti trauma jika melihat banyak orang. Saya langsung berpikir pasti orang itu sedang membicarakan saya. Saya gugup, lemas dan sebagainya. Pada masa seperti itu, saya sangat goyah dan mengalami banyak sekali godaan.

Untuk bisa mengatasinya, saya bergabung dengan LPMI dan mengikuti kegiatan pelayanan ke sejumlah daerah sehingga perlahan-lahan rasa percaya diri saya kembali. Saya menemukan jati diri saya saat menjadi pelayan Tuhan. Di wilayah pedalaman kami 'mencari jiwa' untuk diselamatkan meski tantangannya berat. Misalnya, di Loli, Sumba Barat. Di sana kami selama dua minggu dan wilayahnya sangat ekstrem. Tapi kami sangat senang karena Rato-nya bisa dibaptis.

Dengan kesibukan itu, tidak ada waktu lagi untuk berpikir tentang masa lalu yang suram. Sebaliknya, saya bisa mulai berpikir untuk masa depan. Saya juga bisa menentukan ke mana arah tujuan hidup saya selanjutnya. Dan, dari pelayanan rohani itulah saya kemudian memulai usaha menjual tenun ikat NTT.

Mengapa awalnya Anda memilih bisnis tenun ikat NTT?
Saat saya memberikan pelayanan rohani, saya banyak menerima hadiah tenun ikat NTT dari masyarakat Biboki dan Sumba Barat. Karena banyak sekali kain dan selendang tenun ikat NTT yang saya punya, maka saya berpikir untuk bisa menjualnya sehingga bermanfaat. Lalu saya mulai menjual ke teman-teman. Belakangan hari saya berpikir untuk mencoba membuat kerajinan tangan seperti patung etnik.

Kemudian saya mencoba membuat aksesoris fashion seperti gelang, kalung, bandana, ikat rambut, topi, sepatu, tas, dompet dan lainnya dari kain tenun ikat NTT. Setelah itu baru saya memodifikasi aksesoris tenun ikat NTT itu dengan rajutan benang wol karena saya bisa dan senang merajut.

Saat itu Bank Indonesia (BI) melakukan seleksi terhadap 378 UKM se-NTT dan saya juga ikut dan masuk empat besar. Kami diberikan pelatihan manajemen kemudian saya membuka usaha dengan nama Ent Art Shop East Nusa Tenggara pada tahun 2014.

Apa pertimbangannya menggunakan nama Ent Art Shop East Nusa Tenggara?
Nama ini dipilih oleh anak saya dan saya merasa nama ini sangat baik. Karena target saya jauh ke depan bahwa produk saya bisa sampai dan disukai oleh masyarakat luar negeri, termasuk masyarakat Indonesia. Karenanya saya tidak memakai nama NTT, tetapi East Nusa Tenggara.

Oh ya, Anda memodifikasi aksesoris tenun ikat NTT dengan rajutan benang wol. Bagaimana itu?
Untuk memulai pembuatan aksesoris dari benang wol, saya mencari benang yang kualitasnya bagus. Tapi saat itu di Kupang belum ada benang wol yang bagus. Saya coba mencarinya di Pulau Jawa, membuka internet dan mencari teman-teman yang memiliki hobi rajut dan bertukar pikiran dengan mereka.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved