Jumat, 10 April 2026

Maria Firmantia Masuk Hutan Kumpulkan Biji Asam

Maria berkisah, di rumahnya ada delapan orang penghuni. Untuk makan pagi mereka mengandalkan pisang

Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra

POS KUPANG.COM, MAUMERE - Sebagian warga Desa Watugong, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka kini masuk hutan mengumpulkan biji asam untuk dijual ke pasar. Dengan begitu mereka bisa membeli beras dan aneka kebutuhan lainnya.Hal tersebut dilakoni Maria Firmantia, salah seorang ibu rumah tangga di Dusun Nataweru.

Maria mengakui daerahnya memang tandus dan gersang. Setiap tahun, kata ibu empat anak ini, hasil jagung pada lahan seluas setengah hektar tidak menggembirakan. Untuk tahun ini, misalnya, stok jagung di dapur dan tempat penyimpan bahan makanan keluarganya sudah habis.

"Tahun lalu kami tanam jagung hasilnya tidak baik. Maka suami saya setiap hari ke Pasar Alok jualan pisau dan parang. Kebetulan suami saya bisa buat pisau dan parang pakai besi tua. Saya bersyukur ada hasil, biar kami bisa beli beras satu dua kilo (gram) buat makan," kata Maria di kediamannya di Dusun Nataweru, Rabu (29/7/2015).

Maria berkisah, di rumahnya ada delapan orang penghuni. Untuk makan pagi mereka mengandalkan pisang dan ubi kering. Selanjutnya, makan siang nasi dari hasil keringat suami. "Kalau makan malam kami makan nasi yang sisa dari siang. Kami harus kerja lagi dengan mencari dan menjual asam di hutan. Kalau ada hasil penjual asam kami pakai beli beras," ujar Maria sambil memperlihatkan dapur tempat ia menyimpan jagung.

Maria juga memperlihatkan pisang dan ubi kering yang dijemur di atas seng dapurnya kepada Pos Kupang. Sambil menggendong anaknya, Maria terus berkisah kalau di dusunnya masih belum ada air bersih. Kebutuhan air bersih masih mengandalkan mobil tangki dengan harga Rp 225.000,00 sekali isi.

"Kebutuhan air sebulan harus dua kali. Sekali isi Rp 225.000,00. Kalau dua kali maka kami harus siapkan uang Rp 450.000,00. Maka itu kalau ada hasil jual asam, pisau dan hasil bumi di kebun perlu kami simpan buat beli air," papar Maria.

Dominggus Dadu, suami Maria mengakui ia harus bekerja keras agar bisa menghidupi keluarganya. "Daerah kami tandus. Air tidak ada. Kami masih beli air. Setiap hari mandi secukupnya. Kalau siang kami buka baju karena mau mandi saja air tidak ada," kata Dadu.

Saat ditemui Dadu tidak mengenakan baju. Ia bertelanjang dada. Ditanya kenapa tidak memakai baju, pria berambut keriting ini menjawab sederhana saja.

"Kalau pakai baju nanti berkeringat. Biar buka baju sehingga sebentar tidak mandi. Mau mandi air tidak ada. Air di bak harus hemat biar tidak cepat habis," ujar Dadu.

Pria berkulit hitam ini menegaskan, di rumahnya dia pelihara ayam dan babi. Itu pun belum dijual karena ia masih mengandalkan usaha kerajinan besi. "Kalau sudah ke pasar pasti pulang beli beras. Maka itu setiap pagi saya jual pisau dan parang di Pasar Alok," tutur Dadu.

Ia menambahkan, kesulitan air bersih masih menjadi masalah di Nataweru. Sumber mata air memang ada tapi sudah kering karena debitnya kecil. "Ada sumber mata air tapi debitnya berkurang. Mata air itu ada di kawasan hutan lindung. Hutan itu milik pemerintah," kisah Dadu.

Penderitaan Dadu dan keluarganya merupakan bagian dari keluhan warga Nataweru yang hingga kini merindukan air bersih. "Jalan sudah. Listrik sudah. Sekarang hanya air yang kami masih pakai beli," demikian Dadu.(ris)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved