SMAN 1 Amanuban Selatan Kunjungi Pos Kupang

Pantauan Pos Kupang, Sabtu (23/5/2015) rombongan dipimpinan Ibu Oma Babys, Andre Feo

Penulis: PosKupang | Editor: Dion DB Putra
zoom-inlihat foto SMAN 1 Amanuban Selatan Kunjungi Pos Kupang
POS KUPANG/JUMAL HAUTEAS
Siswa-siswi SMAN 1 Amanuban Selatan dan guru pendampingnya berpose bersama Sekretaris Redaksi Pos Kupang, Marsel Ali usai diskusi di ruang rapat redaksi Pos Kupang, Sabtu (23/5/2015).

POS KUPANG.COM - Kerja para jurnalis kerap menjadi pertanyaan bagi kalangan awam. Sebab, peristiwa yang baru saja terjadi sudah diberitakan keesokan harinya bahkan untuk media elektronik beberapa menit setelah kejadian sudah dipancarluaskan.

Karena itulah, pada Sabtu (23/5/2015) 37 siswa kelas XI, Sekolah Menegah Atas Negeri (SMAN) 1 Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) mengunjungi redaksi Pos Kupang. Selain berdiskusi dengan Sekretaris redaksi Pos Kupang, Marsel Ali, puluhan anak yang didampingi tiga guru mereka juga berkesempatan mengintip ruang dan mesin yang digunakan untuk mencetak surat kabar harian Pos Kupang setiap harinya.

Pantauan Pos Kupang, Sabtu (23/5/2015) rombongan dipimpinan Ibu Oma Babys, Andre Feodan Debi Rihi ini tiba di Kantor Pos Kupang pukul 10:50 Wita, diterima security Pos Kupang, Dominikus Nuri dan langsung diantar ke ruang rapat redaksi di lantai dua untuk berdiskusi.

Kepada para siswa, Marsel Ali menjelaskan tahapan-tahapan peliputan berita yang harus dilakukan setiap wartawan yang dimulai dari perencanaan liputan yang dibahas bersama dalam rapat pagi. Selanjutnya setiap wartawan melakukan peliputan berita di lapangan dan membuat beritanya untuk diserahkan ke news editor atau redaktur.

"News editor itu melihat lagi apakah ada penempatan tanda baca yang salah, atau pengunakaan istilah yang kurang tepat dan kesalahan lainnya baru diserahkan lagi kepada penyunting akhir, sebelum dicetak," jelasnya.

Dijelaskannya, menjadi wartawan adalah pekerjaan yang sangat mulia dan membanggakan, sekaligus memiliki tantangan untuk dijalani. Karena itu, setiap wartawan harus mampu melihat pekerjaan jurnalisme sebagai bagian dari panggilan hidupnya.

"Kalau ada wartawan yang meninggal, seluruh dunia bisa ikut berduka. Tetapi pekerjaannya cukup berat dan tidak mengenal batas waktu. Jadi kami ini kerja 24 jam sehari. Kalau dibutuhkan untuk datang kerja jam 03:00 dini hari tetap harus datang," tegasnya.

Pada kesempatan tersebut sejumlah siswa menyempatkan diri bertanya tentang bagaimana teknik mencari dan menulis berita hingga berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memproses semua bahan berita hingga menjadi sebuah koran setiap hari.

Ibu Oma Babis usai diskusi dan meninjau ruangan dan mesin cetak Pos Kupang menjelaskan, kedatangannya bersama dua orang guru dan 37 siswa SMAN 1 Amanuban Selatan adalah bagian dari upaya sekolah untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan berpikir siswa dalam berbagai hal, termasuk dalam rangka menyelesaikan tugas-tugas di sekolah yakni pembuatan laporan.

"Kami sudah melihat dari dekat dan mendengarkan penjelasannya, sehingga nanti kami akan lihat seberapa jauh pemahaman anak-anak dalam menyerap penjelasan dan melihat apa yang ada di Pos Kupang. Karena selama ini kami hanya membaca korannya di sekolah, dan hari ini bisa melihat langsung," jelasnya.(meo)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved