Sabtu, 16 Mei 2026

Ayub: Senyum Rifan Manis Sekali

Rifan Joi Ximenes Laalobang (19) yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas (Lakalantas) di Kampung Kuannoah, Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah,

Tayang:
Editor: Alfred Dama
Ayub: Senyum Rifan Manis Sekali - Rifan_almarhum.jpg
Facebook
Rifan Joi Ximenes Laalobang saat masih hidup yang diposting di akun facebooknya

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Rifan Joi Ximenes Laalobang (19) yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas (Lakalantas) di Kampung Kuannoah, Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Jumat (27/3/2015), ternyata tidak hanya sempat bergembira dengan teman-teman sekolahnya.

Rifan juga sempat memberikan senyum yang indah bagi kakek-nenek dan bercanda dengan bapak-mama besarnya.

Kakek almarhum, Ayub Laalobang, ditemui Pos Kupang di Kapal Feri Uma Kalada, Sabtu (28/3/2015) menjelaskan, saat pulang dari kantor, ia sempat berpapasan dengan almarhum Rifan dan temannya, Yosafat Fampula, di dalam kompleks sekolah.

Rifan dan Yosafat hendak ke Oesapa untuk mengambil kiriman Yosafat dari Alor, dan saat itu almarhum sempat memberikan senyum yang manis buat kakeknya sebelum berangkat. Ternyata senyum manis Rivan adalah senyum terakhir kepada kakeknya.

"Kemarin itu dia pamit dengan neneknya (Helena Laalobang) untuk bersama dengan temannya Yosafat, ambil kiriman di Oesapa, karena kebetulan mereka dua tinggal dengan kami, mereka dua baku ajak. Pas bertemu itu Rifan sempat senyum dengan saya dan senyumnya itu indah sekali. Dia juga kelihatan ganteng sekali. Jadi sampai di rumah saya sempat kasih tahu neneknya bahwa Rifan senyum dengan saya manis sekali dan ganteng," jelas Ayub, dengan sedikit tersenyum menahan rasa sedihnya.

Mengenai firasat lainnya, Ayub mengaku sampai dengan Rifan menemui ajalnya, ia tidak mendapatkan firasat yang luar biasa. Walau dua hari sebelum Rifan meninggal, sikap almarhum tampil lebih ceria dari biasanya. Ayub dan istrinya tidak mengira perubahan sikap Rifan adalah tanda-tanda dia akan meninggalkan mereka untuk selamanya.

Karena itu, demikian Ayub, saat mendengar ada kecelakaan cucunya di depan sekolah, ia langsung bergegas keluar dan mendapati cucunya sudah tergeletak di badan jalan dan kepala berlumuran darah.

"Saya langsung tidur di atas perutnya sambil menangis di jalan raya itu. Kemudian baru banyak orang datang dan pindahkan dia ke bahu jalan. Dan saat itu saya pingsan, tidak sadarkan diri," tutur Ayub.

Candaan dan senyuman manis juga sempat diberikan almarhum Rifan kepada bapak dan mama besarnya, Yarens Laalobang dan Swari Laalobang, pada Jumat (27/3/2015). Bahkan sampai dua kali almarhum bercanda dengan orang tua angkatnya itu.

"Dia tidak biasa ganggu (bercanda) dengan saya. Tetapi kemarin pagi saat saya dan mama besarnya mau ke sekolah dia ganggu kami, bilang mama besar peluk bapak yang kuat, sambil tersenyum manis sekali. Kemudian pas kami pulang sekolah, kami berpapasan dengan dia lagi dan dia ganggu ulang kami," tutur Yarens.

"Benar dia sempat ganggu saya dengan bapaknya. Dia suruh saya peluk bapaknya yang kuat, sambil memperagakan pelukan, dan saat itu dia senyum manis sekali. Saya tidak berpikir bahwa itu adalah tandanya dia akan meninggal. Tetapi setelah kejadian baru saya berpikir, pasti senyum manis dan ganggu kepada kami itu adalah tanda perpisahannya dengan kami," ujar Ibu Swari.

Dimakamkan di Moimol
Mengenai sikap keluarga atas peristiwa naas yang dialami almarhum, Yarens menegaskan, keluarga menerima peristiwa ini sebagai bagian dari rencana Tuhan untuk anak mereka.

Bagi keluarga peristiwa ini sudah merupakan ajal bagi anak mereka, sehingga tidak perlu dipersoalkan.

"Saya baru dapat telepon dari keluarga sopir truk yang tabrak anak saya. Katanya sudah minta Polres Kupang untuk mediasi mempertemukan kami keluarga korban dengan sopir truk. Saya katakan tidak harus dengan polisi, juga tidak apa-apa. Karena inilah jalan Tuhan untuk memanggil kita manusia ciptaan-Nya. Ada dari kita yang meninggal karena usia tua, tetapi ada juga yang harus kembali ke hadapan Tuhan dengan cara kecelakaan seperti ini," tutur Yarens.

Mengenai orang tua kandung almarhum di Kampung Moimol, Kelurahan Kabola, Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor, Yarens menjelaskan, Rifan adalah anak sulung dari empat bersaudara dari adik kandungnya. Ibunya sudah meninggal saat Rifan dan adik-adiknya masih kecil sehingga bapaknya menikah lagi. Karena itu, Rifan dan adik-adiknya lebih dekat dengan dirinya dan istrinya, serta kakek- neneknya di Kupang.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved