Jumat, 10 April 2026

Kisah Bripda Eka, Polwan yang "Nyambi" Jadi Tukang Tambal Ban (2)

Bengkel tambal ban sekaligus rumah yang ditinggali Bripda Eka Yuli Andini (19) bersama keluarganya terbilang kurang layak.

Editor: Alfred Dama
Kisah Bripda Eka, Polwan yang
Kompas.com/ Syahrul Munir
Bengkel tambal ban, sekaligus rumah yang ditinggali Bripda Eka Yuli Andini (19), anggota Sabhara Polresta Salatiga bersama keluarganya terbilang kurang layak. Rumah yang terletak di Jalan Veteran, Pasar Sapi, Salatiga ini hanya berukuran 6x6 meter. Dindingnya dari papan dan lantai plesteran menghitam akibat ceceran oli.
Kisah Bripda Eka, Polwan yang
DOKUMENTASI PRIBADI Bripda Eka Yuli Andini (19), anggota Sabhara Polresta Salatiga

POS KUPANG.COM, SALATIGA -- Bengkel tambal ban sekaligus rumah yang ditinggali Bripda Eka Yuli Andini (19) bersama keluarganya terbilang kurang layak.

Rumah yang terletak di Jalan Veteran, Pasar Sapi, Salatiga, ini hanya berukuran 6 x 6 meter. Dindingnya dari papan dan lantai plesteran menghitam akibat ceceran oli. (Baca: Kisah Bripda Eka, Polwan yang "Nyambi" Jadi Tukang Tambal Ban (1)

Di rumah itu, ada dua kamar berpintu gorden yang menjadi tempat istirahat Eka bersama adik dan kedua orangtuanya. Tidak ada ruang tamu atau ruang keluarga di sana. Kamar tidur tanpa ventilasi itu langsung berbatasan dengan ruang tamu yang penuh dengan peralatan bengkel dan onderdil kendaraan.

Rumah kontrakan Bripda Eka juga tidak mempunyai halaman. Teras berukuran 2 x 3 meter difungsikan sebagai tempat kerja ayahnya untuk menambal ban. Tempat itu langsung berbatasan dengan trotoar jalan raya.

"Rumah ini kontrak per tahunnya Rp 2 juta, kata ibu. Selama tinggal di sini, pernah kebanjiran tiga kali. Air saat itu meninggi selutut," kata Bripda Eka yang ditemui, Rabu (25/2/2015) sore.

Memang, di rumah itu terlihat beberapa bagian atap rumah yang bocor. Kebetulan saat Kompas.com berkunjung ke sana, hujan turun sangat deras. Saat melongok ke atas, terlihat banyak kayu yang sudah lapuk dan beberapa genting ada yang melorot. "Kami pindah di sini tahun 2005. Saat itu, saya masih kelas III SD. Ceritanya kami ditipu," ujar Eka.

Menurut Eka, kedua orangtuanya, Sabirin (49) dan Darwanti (40), dulu mempunyai sebuah rumah di Kebonsari, Kalicacing, Salatiga. Rumah itu ditinggali bersama dengan kakek Eka. Namun, sepeninggal sang kakek, keluarga Sabirin terpaksa angkat kaki dari rumah itu lantaran ada pihak ketiga yang mengklaim memiliki rumah tersebut.

"Rumah kami sudah diambil orang karena kena tipu. Kata ibu, dulu rumah itu dibeli oleh Mbah (kakek). Tapi, sayangnya, karena orang zaman dulu, jual belinya antar-dua orang tidak pakai surat-surat. Saat kakek meninggal tahun 2005, kami diusir," kenang Eka.

Tidak terasa, hampir 10 tahun, Eka dan keluarganya menempati rumah kontrakan sekaligus tempat ayahnya mengais rezeki. Namun, kenangan akan rumah lamanya di Kebonsari masih teringat sampai sekarang. "Sampai-sampai, bapak menamai bengkel ini Bonsa. Itu diambil dari nama kampung kami dulu, Kebonsari," tutur Eka.

"Tapi, kami sudah ikhlaskan, insya Allah mau beli rumah kalau uangnya sudah cukup," kata Eka sambil tersenyum.

Kini, Eka hanya berharap dengan penghasilannya sebagai polisi, kondisi perekonomian keluarganya dapat terbantu. Sejak dua bulan bertugas menjadi anggota Sabhara Polresta Salatiga, Eka mengaku sudah sekali menerima gaji, yang seluruhnya diserahkan kepada sang ibu. "Belum lama ini terima, dirapel (dua bulan)," kata Eka lagi. (Kompas.com)

Ikuti Terus Berita Terbaru di http://kupang.tribunnews.com
silahkan
Like www.facebook.com/poskupang.online
Follow https://twitter.com/poskupang

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved