Senin, 8 Juni 2026

Kisah Petugas IB Mandiri

Bisa Rekayasa Jenis Kelamin Sapi IB

Menjadi inseminator kawin suntik sapi Mandiri memang tak gampang. Rekrutmen terhadap profil inseminator oleh Dinas Peternakan NTT rada-rada susah.

Tayang:

Anak Sapi Terlalu Besar
Sehari sebelumnya, Kamis (12/2/2015), Kepala Dinas Peternakan NTT, Ir. Thobias Ully, M.Si, memantau persiapan Kelompok Tani Ternak Embung Harapan di Desa Tuatuka di Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang. Ikut mendampingi Thobias Ully, yang kini sebagai Kadis Pertambangan dan Energi NTT, ini yakni Kepala Bidang (Kabid) Agri Bisnis Disnak NTT, Ir. Kornelius Herewila dan drh.Fredi Wirata.

Thobias memberi arahan kepada kelompok ini untuk menyiapkan diri jelang program Gertak Birahi ini. Terutama menyiapkan pakan dan ternak sapi. Kadis juga melakukan IB langsung terhadap seekor sapi milik Gusten Meok, petani setempat.

Ada banyak kisah yang disampaikan Javar Jampi, petugas IB dari Disnak NTT. Ia bercerita, awalnya ia mengalami kesulitan ketika melakukan pendekatan kepada petani peternak. Mereka mengatakan pernah mengalami hal buruk ketika program IB bergulir pada tahun 80-an. Ketika itu, kata Javar Jampi, sapi betina tak bisa melahirkan hingga mati. "Anak sapi itu terlalu besar sehingga sapi induk tak bisa melahirkan," katanya.

Karena itu, Kadis Thobias mengatakan, dinas sudah mengambil kebijakan dengan membolehkan sapi mengikuti IB bila sudah pernah melahirkan dengan cara kawin alami. Tujuannya agar pinggul sapi menjadi lebih besar.

Saat ini, kata Thobias, kasus-kasus sebagaimana dialami penduduk pada tahun 80-an itu sudah tak ada lagi. Karena itu, ketika petugas dari disnak turun untuk membentuk kelompok-kelompok tani binaan, maka perlu melakukan klarifikasi dan verifikasi, di antaranya dengan menanyakan apakah sapi induk miliknya sudah pernah melahirkan hasil kawin alami?

Jika jawaban ya, maka tak soal. Bila sapi itu masih "perawan" dan mengikuti program IB maka kemungkinan sapi induk dan anak sapi akan mati. Sebab, bibit-bibit yang dihasilkan dari kawin suntik ini adalah bibit unggul. Thobias memberi pertimbangan kepada masyarakat untuk mengikuti program IB karena berdampak positif bagi kemajuan peternakan di NTT.

Kualitas bibit terjamin dan secara ekonomis nilai jual sapi IB jauh lebih tinggi ketimbang sapi-sapi dengan induk jantan lokal. Thobias mengatakan, ketika seorang petani memiliki sekitar lima sampai 10 ekor saja dikali dengan masa pelihara dua tahun dengan berat 500-600 kilogram dikalikan dengan harga sapi hidup Rp 40 ribu per kilogram, maka seekor sapi bisa menghasilkan Rp 35 juta sampai Rp 40 juta.

"Coba kalikan dengan 10 ekor sapi. Berapa banyak uang yang diperoleh. Yang penting harus bisa me-manage ternak. Jangan cepat terpengaruh untuk jual. Kemudian siapkan pakan ternak yang banyak," katanya.

Ketika menyuntik sperma (IB), sang pemilik sapi Gusten Meok sangat gembira. Kepada Pos Kupang Gusten mengatakan, bila sapi ini jantan maka ia akan memberinya nama Sapi Pak Kadis. Bila sapi yang lahir betina maka namanya Sapi Bu Kadis.

Saat itu Wirata menanyakan kepada petugas IB, Javar menggunakan bibit sperma yang mana? Ketika itu, Wirata mengatakan, kemungkinan sapi yang lahir betina.

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved