Kisah Petugas IB Mandiri
Bisa Rekayasa Jenis Kelamin Sapi IB
Menjadi inseminator kawin suntik sapi Mandiri memang tak gampang. Rekrutmen terhadap profil inseminator oleh Dinas Peternakan NTT rada-rada susah.
POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Menjadi inseminator kawin suntik sapi (Inseminasi Buatan/IB) Mandiri memang tak gampang. Rekrutmen terhadap profil inseminator oleh Dinas Peternakan Provinsi NTT rada-rada susah.
Beberapa syarat yang terbilang kecil tapi sebagai penentu keberhasilan program ini seperti rela berkorban, punya dedikasi yang tinggi dan pantang menyerah. Beberapa variabel ini sangat menentukan karier seorang inseminator yang sehari-hari adalah warga setempat.
Banyak pengalaman yang dipetik Hermanus Tainmeta, Ketua Kelompok Tani Manekat, Desa Fatukanutu, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang yang telah lama menyandang predikat sebagai petugas IB Mandiri Teladan Tingkat Provinsi NTT.
Selain medan pelayanan yang luas meliputi Desa Fatukanutu, Raknamo, Kuanheun, Oefeto, Kaerane, Neunbaun, Oemofa bahkan hingga ke Kelurahan Naioni di Kota Kupang, Hermanus selalu berupaya untuk melakukan yang terbaik. Ketika IB berhasil maka cerita "harum" dari mulut ke mulut akan beredar dengan cepat.
Begitu pula bila IB gagal, maka kabar itu akan segera beredar di tengah masyarakat. Nama baik menjadi taruhan. Dari sekitar 200-an kali IB, hanya sekitar 15 kali ia gagal. IB-IB yang gagal itu ia ulangi sekali lagi dan semuanya berhasil. Karena itu, siapa saja atau anggota kelompok wajib mengamati lagi daur atau siklus birahi sapi pada 21 hari mendatang. Mereka menggunakan kalender untuk membantu penghitungan.
Penyebab kegagalan, bisa jadi karena laporan atau informasi bahwa sapi tengah birahi terlambat sampai ke petugas inseminator dan ketika petugas tiba masa birahi itu sudah lewat. Sekadar untuk diketahui masa birahi sapi hanya bertahan selama 12 jam.
Pejabat Fungsional Penentu Kebuntingan Dinas Peternakan NTT, drh. Fredi Warata, mengatakan, ketika masa kebuntingan lewat maka rahim sapi itu tak bisa terbuka lagi.
"Jadi, rahim itu otomatis terbuka ketika masa birahi tiba. Ketika masa birahi telah lewat maka rahim sapi secara otomatis tertutup dan tak bisa dibuka dengan cara apa pun termasuk menggunakan instrumen IB," kata Wirata.
Wirata yang sudah berpengalaman sebagai tenaga IB di Kabupaten Kupang belasan tahun ini mengatakan, pernah muncul pertanyaan apakah tanpa masa birahi petugas boleh menyuntikkan sperma ke rahim sapi? Ia mengatakan, banyak masyarakat yang belum paham tentang masa birahi dan perkawinan sapi.
Banyak kisah pula yang disampaikan Hermanus Tainmeta. Suatu ketika ia menyuntik sapi itu dalam kondisi birahi yang dibuktikan dengan beberapa indikator, yakni kelamin sapi itu memerah dan terdapat bercak putih pada kelamin hewan itu. Secara teoritis sudah menjadi indikator sapi itu siap kawin. Tapi, setelah IB tak ada hasil. Pada IB berikut baru sapi itu bunting.
Dari berbagai pengalaman itu, Hermanus mengatakan, saat ini pihaknya bisa merekayasa jenis sapi jantan atau betina yang akan lahir. Caranya? Untuk mendapatkan sapi jantan, maka ia melakukan IB pada sore hari. Sedangkan untuk mendapatkan sapi betina maka IB ia lakukan pada pagi hari.
Ketika itu Wirata mengatakan, secara ilmiah pada sore hari kromoson X atau pembawa jenis kelamin jantan lebih dominan ketimbang kromoson Y, pembawa jenis kelamin betina. Begitu pula pada pagi hari kromoson Y atau pembawa jenis kelamin betina jauh lebih kuat ketimbang kromoson X.
Meski demikian, Wirata mengatakan, sesusai dengan perkembangan teknologi, saat ini sperma sapi IB sudah dapat diketahui sebagai sperma untuk mendapatkan sapi bakalan jantan dan sapi betina. "Sperna sapi jantan dan betina kita sudah pisahkan," katanya.
Kepada anggota kelompok ini, Wirata meminta untuk siap menyukseskan program Gertak Birahi yang tahun ini mulai berjalan. Selain itu, ia meminta agar kelompok tani ternak ini dapat ditingkatkan statusnya menjadi Kopnak (koperasi ternak) yang berbadan hukum. Khusus di Kabupaten Kupang, Wirata mengatakan, terdapat 15 kelompok tani ternak yang ditingkatkan statusnya menjadi Kopnak.
Tujuannya agar dapat bergaining dalam hal harga sapi. Jika tidak, akan merugikan anggota kelompok.
Selain itu, bila membutuhkan biaya maka perbankan akan memberi kemudahan- kemudahan kredit. Bahkan menurut Wirata, 15 Kopnak itu sudah mendapat supervisi dari Badan Litbang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum lama ini.
Anak Sapi Terlalu Besar
Sehari sebelumnya, Kamis (12/2/2015), Kepala Dinas Peternakan NTT, Ir. Thobias Ully, M.Si, memantau persiapan Kelompok Tani Ternak Embung Harapan di Desa Tuatuka di Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang. Ikut mendampingi Thobias Ully, yang kini sebagai Kadis Pertambangan dan Energi NTT, ini yakni Kepala Bidang (Kabid) Agri Bisnis Disnak NTT, Ir. Kornelius Herewila dan drh.Fredi Wirata.
Thobias memberi arahan kepada kelompok ini untuk menyiapkan diri jelang program Gertak Birahi ini. Terutama menyiapkan pakan dan ternak sapi. Kadis juga melakukan IB langsung terhadap seekor sapi milik Gusten Meok, petani setempat.
Ada banyak kisah yang disampaikan Javar Jampi, petugas IB dari Disnak NTT. Ia bercerita, awalnya ia mengalami kesulitan ketika melakukan pendekatan kepada petani peternak. Mereka mengatakan pernah mengalami hal buruk ketika program IB bergulir pada tahun 80-an. Ketika itu, kata Javar Jampi, sapi betina tak bisa melahirkan hingga mati. "Anak sapi itu terlalu besar sehingga sapi induk tak bisa melahirkan," katanya.
Karena itu, Kadis Thobias mengatakan, dinas sudah mengambil kebijakan dengan membolehkan sapi mengikuti IB bila sudah pernah melahirkan dengan cara kawin alami. Tujuannya agar pinggul sapi menjadi lebih besar.
Saat ini, kata Thobias, kasus-kasus sebagaimana dialami penduduk pada tahun 80-an itu sudah tak ada lagi. Karena itu, ketika petugas dari disnak turun untuk membentuk kelompok-kelompok tani binaan, maka perlu melakukan klarifikasi dan verifikasi, di antaranya dengan menanyakan apakah sapi induk miliknya sudah pernah melahirkan hasil kawin alami?
Jika jawaban ya, maka tak soal. Bila sapi itu masih "perawan" dan mengikuti program IB maka kemungkinan sapi induk dan anak sapi akan mati. Sebab, bibit-bibit yang dihasilkan dari kawin suntik ini adalah bibit unggul. Thobias memberi pertimbangan kepada masyarakat untuk mengikuti program IB karena berdampak positif bagi kemajuan peternakan di NTT.
Kualitas bibit terjamin dan secara ekonomis nilai jual sapi IB jauh lebih tinggi ketimbang sapi-sapi dengan induk jantan lokal. Thobias mengatakan, ketika seorang petani memiliki sekitar lima sampai 10 ekor saja dikali dengan masa pelihara dua tahun dengan berat 500-600 kilogram dikalikan dengan harga sapi hidup Rp 40 ribu per kilogram, maka seekor sapi bisa menghasilkan Rp 35 juta sampai Rp 40 juta.
"Coba kalikan dengan 10 ekor sapi. Berapa banyak uang yang diperoleh. Yang penting harus bisa me-manage ternak. Jangan cepat terpengaruh untuk jual. Kemudian siapkan pakan ternak yang banyak," katanya.
Ketika menyuntik sperma (IB), sang pemilik sapi Gusten Meok sangat gembira. Kepada Pos Kupang Gusten mengatakan, bila sapi ini jantan maka ia akan memberinya nama Sapi Pak Kadis. Bila sapi yang lahir betina maka namanya Sapi Bu Kadis.
Saat itu Wirata menanyakan kepada petugas IB, Javar menggunakan bibit sperma yang mana? Ketika itu, Wirata mengatakan, kemungkinan sapi yang lahir betina.