Fiat Voluntas Tua
Sukacita yang emosional atau meletup-letup tersebut sama sekali tidak mencerminkan spiritualitas ketaatan sebagaimana yang dihayati oleh Maria.
Oleh Pdt. Yuda D Hawu Haba, M.Th
Bekerja di Kantor Sinode GMIT Bagian Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Sinode GMIT (BPPPPS)
NATAL 2014 telah tiba. Apakah kita merayakannya dengan berpaut pada kehendak Tuhan atau kenginan manusia? Mari kita belajar dari Maria, seorang perempuan yang bersahaja!
Istilah "Fiat Voluntas Tua" berasal dari bahasa Latin, artinya: "biarlah dilakukan" atau: "jadilah menurut kehendak-Mu" atau "Ketaatan membawa sukacita". Ungkapan tersebut keluar dari mulut Maria saat malaikat Gabriel memberitakan kabar gembira bahwa Allah telah menyatakan kasih-karunia-Nya untuk memperkenankan Maria melahirkan Anak Allah yang maha-tinggi. Sebagai wanita yang masih perawan, Maria bertanya: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (Luk. 1:34).
Malaikat Gabriel menjawab bahwa Roh Kudus akan turun dan menaunginya sehingga dia akan melahirkan Anak Allah. Jawaban Maria terhadap berita malaikat Gabriel adalah: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu" (Luk. 1:38). Maria mengungkapkan isi imannya yang otentik dan paling dalam terhadap rahasia keselamatan Allah. Ia mendemonstrasikan imannya dengan ketaatan yang tanpa syarat kepada kehendak dan rencana Allah. Saat Maria mengambil keputusan dengan berkata: "Jadilah padaku menurut perkataanMu" berarti saat itu pula Maria mengalami proses pembuahan dalam rahimnya.
Atau saat Maria menyatakan "fiat"-nya, berarti saat ini pula Maria menyetujui peristiwa inkarnasi firman Allah terjadi dalam dirinya. Dengan peristiwa itu, berarti sejak itu pula Maria sedang mengandung dalam keadaan tanpa suami yang resmi. Hidup Maria pada waktu itu dapat membawanya kepada situasi yang sulit dan dapat membahayakan keselamatan hidupnya, diamana ia dapat menerima hukuman rajam. Sebagaimana dipahami, bahwa hukum Taurat bersikap tegas terhadap orang-orang yang dianggap atau terbukti telah melakukan dosa perzinahan. Ul. 22:23-24 berkata:
"Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan -jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia.
Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu". Hukum Taurat tadi, dapat dipakai para pemimpin dan masyarakat Israel sebagai dasar yang kuat untuk melakukan hukuman rajam bagi Maria yang berstatus gadis dan hamil tanpa pernikahan yang resmi atau berbuat zinah.
Paradoks bagi Maria, antara kasih-karunia dan bahaya maut. Maria menerima kasih-karunia atau rahmat Allah yang begitu khusus sebagai "Theotokos" (Bunda Allah), untuk melahirkan Anak Allah yang maha-tinggi, tetapi pada saat yang sama, ia juga siap menerima konsekuensi terburuk yaitu hukuman rajam sesuai ketentuan hukum Taurat. Maria mengutamakan ketaatan tanpa syarat kepada kehendak dan rencana Allah. Dengan mata imannya, ia melihat karya keselamatan Allah yang lebih agung dan berarti daripada rasa aman dan kepentingan dirinya.
Ketaatannya lahir dari kemurnian hidupnya di hadapan Allah. Fiat-nya bukanlah sekadar pernyataan pelengkap (supplementary statement), tetapi merupakan bentuk dialog yang menempatkan Allah sebagai pihak yang berinisiatif dalam karya keselamatan dan sikap manusia yang memberi respons. Jadi, secara teologis tidaklah cukup bilamana kita hanya menempatkan Allah sebagai pihak yang berinisiatif dan menyatakan diri-Nya tanpa tanggapan dari manusia. Penyataan Allah dan inisiatif Allah juga membutuhkan respon dari umat yang percaya.
Kehidupan kita, sering hanya mengimani inisiatif dan penyataan Allah, dan mengabaikan respons iman dalam bentuk "fiat" yang mau menempatkan kehendak Allah di atas keinginan manusia. Kita sering memisahkan antara tindakan iman dengan sikap ketaatan untuk melakukan kehendak Allah. Padahal ketaatan adalah wujud dari sikap iman yang berani menjawab "ya" kepada kehendak Allah walaupun ketaatan tersebut dapat memposisikan diri kita di tempat yang kurang menyenangkan secara manusiawi. Iman (fidei) dan ketaatan (fiat) kepada kehendak Allah adalah satu paket dalam spiritualitas umat percaya.
Kesaksian Luk. 1:46-55 disebut gereja sebagai "magnifikat". Arti harafiahnya adalah: "a hymn or song of praise" (suatu himne atau nyanyian pujian). Maria menyampaikan suatu pujian yang mempermuliakan Allah, "Magnificat anima mea Dominum" (Jiwaku memuliakan Tuhan). Ungkapan ini memperlihatkan bagaimana konsistensi dan sikap ketaatannya terhadap rencana Allah dengan kegembiraan dan sukacita yang begitu dalam. Maria memuji dan mempermuliakan Allah sebagai Juru-selamatnya. Magnifikat Maria adalah pengakuannya yang begitu total terhadap karya penebusan Allah yang hadir sebagai Juru-selamat umat manusia.
Hakikatnya, Allah telah memperlihatkan bagaimana seorang hamba yang dianggap tidak berarti oleh dunia menjadi sangat bermakna di hadapan-Nya. Kata-kata Maria adalah kegenapan nubuat nabi Mikha 5:1, yaitu: "Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala". Jadi penyebutan kota Betlehem Efrata sebenarnya menunjuk status Maria yang secara sosial dianggap tidak berarti, tetapi akhirnya dia dipilih oleh Allah; sehingga dari rahimnya, lahirlah seorang pemimpin yang keberadaan-Nya telah ada sejak purbakala. Nubuat nabi Mikha, sinkron dengan magnifikat Maria selanjutnya yakni, "sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus" (Luk. 1:48-49).
Substansi magnifikat ini mengandung suatu ungkapan iman yang revolusioner dalam 3 aspek, yaitu: revolusi secara etis-moral dengan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya (Luk. 1:51), revolusi sosial dengan menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah (Luk. 1:52), dan revolusi ekonomi dengan melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar sehingga orang kaya tidak mampu menindas orang-orang yang miskin (Luk. 1:53). Karya keselamatan Allah sebagai Juru-selamat kelak akan hadir dalam diri Kristus tidak untuk mengadakan revolusi keagamaan belaka, tetapi revolusi atau transformasi yang menyeluruh dalam kehidupan umat manusia.
Jadi karya penebusan Kristus adalah suatu tindakan rekonstruksi ilahi dalam kehidupan umat manusia, dimana umat manusia dapat mengalami pemerintahan Allah dalam kerajaan kasih-Nya. Untuk tujuan itulah, gereja dipanggil untuk menempatkan magnifikatnya secara kontekstual dan transformatif agar setiap pujian-pujian yang dinaikkan umat Allah tidak hanya menjadi pujian-pujian yang hanya memuaskan keinginan duniawi. Tetapi puji-pujian yang dinyanyikan oleh umat mampu membawa perubahan dan pemulihan dalam setiap aspek kehidupan manusia, sehingga sistem dan pola-pola Kerajaan Allah diberlakukan secara nyata.
Kita, (Gereja) sangat prihatin dengan pemaknaan puji-pujian yang kini sedang menghinggapi roh sebagian anggota jemaat. Puji-pujian digemari oleh sebagian besar anak-anak muda, bahkan orang-tua dan cenderung tidak lagi memperhatikan makna teologis dan pengajaran iman Kristen.
Yang terpenting dari puji-pujian tersebut adalah iringan musiknya. Ayat-ayat Alkitab yang dikutib dalam puji-pujian tersebut telah dianggap layak sebagai nyanyian ibadah. Pengutipan isi yang mirip dengan ayat-ayat Alkitab dalam syair di lagu-lagu "persekutuan" seharusnya memperhatikan penafsiran yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan, tidak dangkal tetapi mampu memberi pengajaran iman yang sehat. Isi dan pemaknaan teologisnya seharusnya menjadi pesan atau ajaran gereja yang terpenting. Selama puji-pujian yang dinyanyikan oleh umat tidak mampu memperbaharui hidup secara pribadi dan sosial, maka puji-pujian tersebut hanya menjadi media pemuas nafsu religiusitas atau pemuas emosi sesaat belaka. Sukacita yang emosional atau meletup-letup tersebut sama sekali tidak mencerminkan spiritualitas ketaatan sebagaimana yang dihayati oleh Maria.