Selasa, 19 Mei 2026

Beginilah Tradisi “Sepa Api” dari Nagekeo

Berada di kampung terpencil dan pedalaman menjadi salah satu kendala dalam memperkenalkan tradisi yang masih dipertahankan hingga era teknologi di

Tayang:
Editor: Alfred Dama

Vinsensius Pitu, tokoh adat Kampung Pautola menjelaskan, tradisi ini melibatkan leluhur kampung Pautola yang sudah meninggal dunia, sebelum dimulai acara terlebih dahulu digelar acara memanggil leluhur. Tujuannya, agar atraksi ini tidak ada kecelakaan sebab dalam tarian massal, warga kampung menginjak-injak bara api unggun. Buktinya, setelah menginjak-injak bara api unggun, telapak kaki atau kaki warga yang ikut dalam tarian massal ini tidak mengalami luka.

Uniknya, lanjut Pitu, atraksi ini tidak ikuti oleh anak gadis dan anak laki-laki remaja. Apabila ada anak gadis kampung yang ikut maka anak gadis itu tidak memiliki keturunan jika tidak diobati oleh Nete Niro atau dukun adat yang diwariskan turun temurun. Dan di tengah-tengah halaman kampung, ada sebuah batu yang dilarang injak. Jika ada kaum perempuan injak batu itu maka apabila tidak diobati maka rambutnya rontok. Jika ada kaum perempuan menginjak batu yang berbentuk bulat itu, secepatnya menginformasikan kepada Nete Niro (dukun adat) untuk diobati.

“Kami berterima kasih kepada Pemkab Nagekeo di mana tradisi kami diliput media massa. Kami mengharapkan promosi melalui media massa dapat memperkenalkan tradisi ”Sepa Api” yang satu-satunya di NTT berada di Kampung Pautola. Kami mengharapkan ke depannya, pemimpin di NTT dapat menyaksikan atraksi unik ini,” katanya.

KOMPAS.COM/MARKUS MAKUR Kepala Suku Pautoda di Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, NTT.

Michael Mura, tokoh adat Tegu Toda, Kampung Pautola mengatakan, sejarah pertama bagi masyarakat Pautola di mana ritual “Sepa Api” dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Nagekeo, Paulus. Pemerintah Kabupaten Nagekeo sudah mulai memperhatikan budaya yang masih tersembunyi di kampung-kampung di Kabupaten Nagekeo.

“Kami akan terus mempromosikan tradisi ini bersama dengan Pemerintah Kabupaten Nagekeo berusia 7 tahun setelah mekar dari kabupaten induknya yakni Kabupaten Ngada. Ada untungnya sebuah daerah dimekarkan. Tradisi-tradisi unik dapat diperhatikan,” jelasnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved