Mengenal Sejarah Kota Kupang
Lima Pancasila yang Memudar
Kegiatan Gowes Asik Tribun-Pos Kupang dengan tema Bike to Heritage alias bersepeda mengunjungi situs sejarah ini baru pertama kali digelar di Kupang.
Sungguh, satu monumen sederhana dengan makna yang begitu kaya. Dan, monumen ini menjadi lebih bermakna, karena monumen dibangun tak jauh atau menghadap ke benteng pasukan Australia (pro Hindia Belanda) yakni Benteng Concordia - yang sekarang menjadi Markas Yonif 743/SYB Kupang.
Maknanya bahwa monumen itu menentang penjajahan, dan menantang pasukan penjajah yang masih bercokol dan tetap ingin bercokol di Tanah Air-Kupang-NTT.
Karena itu, tak mengherankan jika dalam setiap kunjungan ke Kupang, hal yang pertama kali akan dilakukan Bung Karno adalah berjalan menuju monumen yang berada di Kelurahan LLBK Kecamatan Kota Lama-Kupang itu, lalu meletakkan karangan bunga dan memberi hormat sekhidmat-khidmatnya.
Roso Daras dalam laman net menulis, saya masih SD tahun 1950, ketika Bung Karno pertama kali ke Kupang. Saya ikut berbaris menyambut dan menyaksikan Bung Karno turun dari pesawat catalina, yang ketika itu letaknya di bibir jalan yang terletak monumen `Empat Kemerdekaan' itu. Dia langsung menuju monumen itu dan meletakkan karangan bunga serta memberinya hormat."
Ironisnya, nilai-nilai sejarah itu sepertinya tak berlanjut oleh penguasa negara penggantinya. Pada zaman Orde Baru, monumen itu dicat hitam pekat, menutup plakat bersejarah yang ada di kedua bagian monumen.
Saat ini, Agustus 2014 kondisi monumen sudah dicat putih bersih. Pada kelima garis, dicat warna merah. Namun dasar monumen sebagiannya sudah tenggelam karena ditimpa peninggian aspal jalan.
Bahkan kini di era pemerintah Provinsi NTT, Gubernur dan Wagub NTT, Drs. Frans Lebu Raya-Dr.Beny Litelnoni serta di era pemerintahan Walikota dan Wakil Walikota Kupang, Jonas Salean-dr. Herman Man, tugu itu makin tak terawat.
Tak ada sentuhan perawatan untuk tugu itu meski pun baru-baru ini NTT-Indonesia, melewati perayaan HUT ke- 69 tahun Indonesia Merdeka tanggal 17 Agustus 2014. Kondisi cat putihnya sudah memudar, begitupun cat warna merah sebagai lambang nilai Pancasila pun sudah memudar dan terkelupas.
Tugu itu kini hanya 'ditunggui' oleh para tukang ojek yang 'parkir' menunggu penumpang yang hendak menggunakan jasa mereka.
* Benteng Concordia
Tak jauh dari Tugu Pancasila terdapat sebuah Markas Yonif 743/SYB Kupang. Markas itu dulunya adalah sebuah benteng pasukan Australia (pro Hindia Belanda) yang diberi nama Benteng Concordia.
Sejarah benteng ini dimulai tahun 1613 dimana VOC yang berkedudukan di Batavia mulai melakukan kegiatan perdagangannya di NTT dengan mengirim tiga kapal yang dipimpin oleh Apolonius Scotte menuju Pulau Timor dan mendarat di Teluk Kupang.
Mereka diterima oleh Raja Helong, yang sekaligus menawarkan sebidang tanah untuk keperluan markas VOC. VOC belum mempunyai kedudukan yang tetap di Pulau Timor.
Pada tanggal 29 Desember 1645 seorang Padri Portugis yang bernama Antonio de Sao Jasinto mendarat di Kupang. Beliau mendapat tawaran yang sama dari Raja Helong, dan tawaran tersebut disambut baik oleh Antonio de Sao Jasinto dengan mendirikan sebuah benteng kecil di tempat tersebut. Namun benteng tersebut ditinggalkan karena terjadi perselisihan di antara mereka.
VOC semakin menyadari penting wilayah NTT bagi kepentingan perdagangannya, sehingga pada tahun 1625-1663 VOC melakukan perlawanan ke daerah kedudukan Portugis di Pulau Solor. Dengan bantuan orang-orang islam di Solor, benteng Portugis Ford Henricus Concordia berhasil direbut dan jatuh ke tangan VOC.
Pada tahun itu juga terjadi gempa bumi yang dahsyat di Pulau Solor, sehingga benteng tersebut runtuh. Pada tahun 1653, VOC melakukan pendaratan di Kupang dan berhasil merebut bekas benteng Portugis Ford Henricus Concordia yang terletak di muara sungai Teluk Kupang - yang sekarang berada di Kelurahan Fatufeto, Kecamatan Kota Lama-Kupang - di bawah pimpinan Kapten Johan Burger.
