Sengketa Pilpres
Novela Bantah Adik Prabowo
Mengenakan kaos warna merah jambu, Novela langsung disambut Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai, dan seorang Ketua DPC Partai Gerindra di Papua Barat
POS KUPANG.COM, JAKARTA-- -Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Paniai yakni Novela Nawipa akhirnya muncul ke hadapan publik setelah sempat menjadi bulan-bulanan netizen atau pembaca di internet gara-gara kesaksiannya di Mahkamah Konstitusi (MK) atas hasil Pilpres 9 Juli 2014.
Kemunculan Novela ini cukup mengejutkan. Selain datang sendiri, pernyataannya justru mementahkan pernyataan Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra Hashim Djojohadikusuma yang sebelumnya mengatakan Novela mendapat intimidasi dan rumahnya dirusak pasca kesaksiannya di Gedung MK.
Novela hadir sendiri di Gedung Komnas HAM, Jakarta pada Minggu (17/8) sore sekitar pukul 16.30 WIB. Dengan mengenakan kaos warna merah jambu, Novela langsung disambut Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai, dan seorang Ketua DPC Partai Gerindra di Papua Barat.
Novela mengaku menemui Natalius Pigai lantaran sudah ia anggap sebagai kakak sendiri, karena sama-sama berasal dari Kabupaten Paniai. "Sampai saat ini saya tidak berada dalam kondisi terintimidasi," kata Novela.
Terkait keterangannya di MK pada Selasa (12/8) lalu, Novela tak mau banyak berkomentar. Ia menegaskan sama sekali tak mempermasalahkan hasil Pilpres. Yang ia sayangkkan adalah tahapan-tahapannya yang dianggapnya tidak sesuai prosedur.
Novela pun berharap, proses Pemilu di Papua kedepannya berlangsung lebih baik. Kesalahan-kesalahan yang menurutnya sudah terjadi pada pilpres 2014 ini tidak dijadikan alasan, terutama sistem Noken.
Natalius Pigai mengatakan bahwa Novela datang sendirian ke kantor Komnas HAM untuk mengklarifikasi semua keterangan pihak lain yang menyatakan ada teror, ancaman dan intimidasi terhadap dirinya. Kondisi rumahnya pun baik-baik saja dan tidak ada yang dirusak.
"Novela membantah dirinya dalam keadaan ancaman dan teror. Ia menilai pernyataan ancaman dan teror terhadap dirinya itu berlebihan," ujar Natalius.
Bagi Natalius, Novela hanya dimanfaatkan sekelompok orang. Dalam situasi politik seperti ini, makanya nama Novela digiring terus.
Novela juga sempat mengklarifikasi apa yang disampaikannya di MK saat sidang sengketa hasil Pilpres 2014 pekan lalu. "Ia juga menyampaikan apa yang sebenarnya disampaikan saat sidang MK. Kenapa Pilpres itu tidak ada sosialisasi di kampungnya? Dia tidak keberatan dengan hasil Pilpres," tambah Natalius.
Walau mendatangi kantor, menurut Natalius, Novela tidak meminta hal khusus dari Komnas HAM. Ia hanya ingin opini ancaman terhadap dirinya karena bersaksi dihentikan karena tidak benar dan sarat politisasi. "Kita tutup opini yang terkait ada kecenderungan yang memanfaatkan dia," tutup Natalius.
Keterangan Novela ini membantah pernyataan adik kandung Prabowo yakni Hashim. Sehari setelah Novela bersaksi di MK atau tanggal 13 Agustus lalu, Hashim mengatakan bahwa Novela mendapat intimidasi. "Saksi yang kita datangkan dari Papua telah mengalami intimidasi. Bahkan rumah Novela dihancurkan hari ini," kata Hashim.
Tim Prabowo-Hatta yakni Jend (Purn) Djoko Santoso juga mengatkan bahwa Novela bersama sejumlah saksi dari Papua mendapat ancaman dan takut pulang ke Papua. Bahkan, mereka juga meminta pengalaman sehingga Novela Cs ditampung di rumah Djoko Santoso.
Jangan Mencibir
Pada kesempatan tersebut, Natalius mengatakan bahwa kesaksian Novela di MK telah ditarik terlalu jauh ke ranah politik. Natalius Pigai menganggap, Novela saat ini tengah dipolitisir oleh Tim Hukum Prabowo-Hatta untuk berusaha mempengaruhi keputusan hakim MK.
Mengenai keriuhan soal Novela di media sosial, ia berpendapat, itu adalah reaksi spontan masyarakat karena aksi Novela di persidangan. Kepada seluruh masyarakat Indonesia, Natalius mengimbah agar tidak mencibir Novela. "Jangan ada lagi yang mencibir Novela, kepada seluruh rakyat Indonesia khususnya di Papua. Dan jangan ada juga yang memuji dia secara berlebihan," kata Natalius. (tribunnews/rek/kompas)