Mezra E Pellondou: Generasi Muda Sastrawan NTT (2)
Sebutlah beberapa nama penulis muda NTT yang sekarang ini pantas didengungkan, misalnya Mario Lawi dan Amance Franck
POS KUPANG.COM -- Perbincangan lalu dengan Mezra Pellondou sudah memberi catatan tentang generasi pendahulu sastrawan asal NTT. Dan, menurutnya, seiring dengan makin terbukanya media untuk berekpresi bagi sastrawan, maka muncul pula nama-nama baru yang langsung memberi harapan lahirnya penulis-penulis muda dari bumi Flobamora. Dalam perbincangan dengan Pos Kupang, Mezra Pellondou memberi catatan agar sastrawan muda diharapkan menjadi tonggak baru munculnya sastrawan baru dari NTT untuk meramaikan panggung sastra nasional, bahkan Internasional. Berikut kelanjutan perbincangan dengan Pos Kupang.
Bagaimana Anda melihat talenta-talenta dalam dunia satra yang bisa menjadi kebangaan NTT?
Sebutlah beberapa nama penulis muda NTT yang sekarang ini pantas didengungkan, misalnya Mario Lawi dan Amance Franck, yang sempat mempersembahkan Ubud Writer Award bagi NTT. Saya mengatakan demikian karena dua penulis muda ini telah mengharumkan nama NTT. Sebagai penulis muda karyanya berhasil menyisihkan ribuan penulis lainnya, tidak hanya sesama penulis NTT tetapi juga mereka bersaing dengan penulis Indonesia dan penulis dunia. Ini untuk menunjukkan keberadaan mereka di pentas sastra dunia. Karya-karya mereka berdua telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris agar lebih dinikmati oleh masyarakat dunia. Bahkan puisi-puisi kontempelatif Mario Lawi hampir dapat kita temui di setiap terbitan Kompas Minggu, sebuah perkembangan yang berarti bagi penulis muda NTT sekarang. Mario Lawi telah memberi spirit yang besar bagi kepenyairan generasi muda NTT sekarang dan nanti. Saya juga menyebutkan nama Deky Senda yang terlibat pula dalam Makasar Internasional Writing bersama Amance Franck dan juga Mario Lawi. Ada juga cerpenis dan penyair Januario Gonzaga. Prestasi Januario dan Deky tidak bisa diuraikan satu per satu di sini.
Bagaimana di tingkat nasional?
Pembaca Indonesia juga diguncangkan oleh karya fenomenal Buang Sine, novel Dua Malam Bersama Lusifer, yang menduduki buku best seller pada toko Gramedia di beberapa kota di Indonesia. Bahkan pemberitaan terakhir dari Pos Kupang, Novel Buang Sine tersebut akan difilmkan di Amerika. Jika itu terjadi, maka ini sebuah perkembangan ke arah terkuakknya akses penulis-penulis muda berbakat NTT di kancah Internasional. Kita pasti mengenal Pion Ratuloly yang mulai memfokusukan aktivitasnya pada membina penulis-penulis muda Lamalera dan telah menghasilkan buku kumpulan puisi. Masyarakat NTT juga mengenal penyair Bara Pati Raja, Jefta Atapeni, yang telah menerbitkan buku kumpulan puisi. Ada pula novelis Roberth Faik yang memiliki semangat bersastra yang pantas diacungkan jempol. Robert cukup serius menggarap tanah kelahirannya yakni Bumi Malaka di NTT dalam novel-novelnya, yang terbaru yang akan segera terbit adalah Likurai Untuk Sang Mempelai. Yang saya sebutkan di atas baru segelintir nama generasi muda NTT yang kehadirannya di pentas sastra telah membawa perkembangan berarti bagi Provinsi NTT dalam bidang tulis menulis khususnya sastra.
Banyak nama yang Anda sebutkan, apakah sastra NTT bergerak maju?
Dengan mengurai berbagai hal sederhana ini, saya mencoba membawa kita melihat perkembangan sastra di NTT yang walaupun berjalan perlahan, namun menunjukkan perkembangan yang berarti. Topografi NTT yang unik, dengan rimbunan budayanya yang juga unik dan beragam, hampir bisa dipastikan cukup rumit untuk dilacak perkembangan sastra di masing-masing daerah sehingga kadang jawaban atas pertanyaan wartawan ini juga belum dipastikan sebagai jawaban yang final karena sesungguhnya masih banyak aktivitas lain dan nama-nama lain yang tidak sempat disebutkan satu persatu. Bahkan mungkin tidak sempat dilacak dan diketahui, namun sesungguhnya mereka sangat pasti dan terus berkarya di dunia sastra dengan segala ketulusan mereka untuk membangun NTT ini. Kendala lainnya adalah miskin, bahkan hampir tidak adanya kritikus sastra di NTT sehingga perkembangan sastra di NTT hanya bisa dilhat dari produktivitas, aktivitas, dan karya sastra masyarakt NTT, baik di dalam NTT sendiri maupun di luar NTT.
Bagaimana dengan aktivitas Anda? Selain berkarya, ibu juga disibukkan dengan menumbuhkan dan memotivasi generasi muda NTT untuk menulis dan mencintai sastra. Bisa diceritakan?
Iya. Saya sendiri masih terus memelihara spirit bersastra dan menulis dengan menerbitkan beberapa buku setiap tahun. Tiga buku saya yang terbit tahun 2013 yaitu Kumpulan Puisi Kekasih Sunyiku, serta dua buku pelajaran untuk siswa dan mahasiswa yakni, Jangan Takut Menulis Naskah Drama serta buku yang satunya lagi adalah Jurnalisme, Jurnal, Jurnalis dan Pers. Selain itu, atas undangan Kantor Bahasa NTT pimpinan Lutfi Bagiaqi saya membimbing beberapa penulisan kreatif bagi anak-anak sekolah di daerah kepulauan dan daerah perbatasan. Hasilnya telah dibukukan dalam bentuk kumpulan cerpen, Anak Gerbang Selatan (Kumpulan Cerpen Siswa SMA Negeri 1 Rote Barat Daya, Nemberalla) dan, Lima Dolar (Kumpulan cerpen siswa SD Motaian) dan kedua buku tersebut dipamerkan dalam pameran buku Kongres Bahasa X di Jakarta, Oktober 2013. Tahun 2013 ini pula sedang menyiapkan dua novel saya, dan satu kumpulan cerpen bertema lokalitas yang akan segera saya terbitkan awal tahun 2014, sambil saya menghadiri beberapa undangan memberikan pelatihan menulis, menjadi juri kegiatan sastra, serta beberapa pertemuan sastra dan pementasan di tingkat nasional.
Anda juga mendapat penghargaan dari karya-karya Anda!
Saya bersyukur pada Tuhan karena tahun 2012 saya masih bisa mempersembahkan bagi NTT penghargaan sastra untuk pendidik karena Novel saya berjudul Nama Saya Tawwe Kabota menghantar saya sebagai pemenang pertama nasional peraih penghargaan sastra, yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Diurutan kedua diraih oleh Pare-Pare, sedangkan diurutan ketiga diraih oleh Magelang.
Saya selalu bersyukur masih dipercayakan Tuhan untuk membentuk dan membina Ume Kreatif Inspirasi Mezra (UKIM) sejak 19 Juli 2006, sejak cerpen saya berjudul Manusia-Manusia Jendela menjadi pemenang pertama nasional penulisan cerpen yang diselenggerakan oleh Kementerian Pendidikan Nasional, bagian Peningkatan Perpustakaan Sekolah.
Sebagai guru sastra dan Bahasa Indonesia, bagaimana Anda melihat minat sastra di kalangan pelajar atau siswa?
Minat berurusan dengan kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu yang muncul dalam bentuk gairah, keinginan dan kesenangan. Masalahnya adalah sekalipun seseorang mengetahui akan sesuatu, belum tentu bergairah. Sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia, tugas untuk menggairahkan anak/siswa (membuat anak/siswa berminat) adalah tugas yang gampang-gampang susah karena sebagian orang menganggap bahwa menguasai materi sastra yang hendak kita ajarkan, akan mampu menggairahkan anak pada sastra. Namun bagi saya itu keliru, karena anak sekarang butuh diyakinkan serta membutuhkan keteladan dan contoh nyata seorang guru, bukan kata-kata yang keluar saat pembelajaran di kelas. Untuk menggairahkan anak/siswa pada sastra kepintaran mengajar dan menguasai ilmu sastra saja tidaklah cukup. Seorang guru bahasa dan sastra Indonesia harus memiliki seni mendekati anak, bahkan seni bagaimana "menjadi anak" dan terlibat dalam kehidupan bersastra anak. Dan, untuk hal ini tidak semua bersedia memiliki waktu untuk itu. Jika ingin melihat minat sastra di kalangan pelajar atau siswa, kita juga harus melihat bagaimana kegairahan bersastra seorang guru. Sejak November 2005 saya telah berusaha membuat kegiatan sederhana bagi lima belas sekolah di Kota Kupang dengan menggairahkan siswa memusikalisasi puisi dan itu dimulai dengan memusikalisasi puisi karya guru bahasa Indonesia di sekolahnya sendiri.
Anda selalu membuat karya sastra seperti cerpen dan puisi dengan latar belakang alam dan budaya. Kultur etnik yang dideskripsikan dalam karya-karya ibu, lebih khususnya NTT sangat kuat. Mengapa?
Kesusastraan, meski bermain dalam tataran imajinasi, sesungguhnya merefleksikan roh kultural sebuah komunitas. Ia merupakan refleksi evaluatif atas kehidupan yang melingkari diri seorang sastrawan. Ia hadir dan dilahirkan dari sebuah proses panjang berbagai macam kegelisahan yang terus menerus menggerayangi sikap, pemikiran, ideologi, kepercayaan, dan kepedulian sastrawan atas nasib orang per orang dalam konteks sosial yang terikat pada kebudayaan masyarakat.
Dan, saya memiliki panggilan hati untuk melakukannya dalam setiap karya saya. Beberapa teman sastrawan, wartawan dan budayawan selalu mengatakan bahwa saya adalah sastrawan pejuang lokal genius. Saya tidak menolak bahwa dengan kesadaran yang besar, saya memang memperjuangkan kultur etnik, lokal genius dalam hampir semua karya saya, entah puisi, cerpen maupun novel. Dan, saya sangat konsisten hingga detik ini. Pertanyaannya, mengapa itu saya lakukan? Bagi saya, karya-karya yang bersumber dari kultur etnik sangat pantas menjadi bahan awal memperkenalkan serba sedikit mengenai berbagai kultur etnik yang tersebar di Nusantara ini, dan NTT terlalu kaya dan tidak akan habis-habisnya untuk diceritakan. Dengan menceritakan, menampilkan, mengahadirkan, bahkan mungkin mengkritisi berbagai kultur etnik dalam karya-karya sastra yang saya tulis, saya telah melakukan dengan sangat sadar upaya untuk memperkaya khasanah sastra Indonesia dengan ciri yang pluralistik. Bukankah NTT dengan kultur etniknya adalah salah satu dari kekayaan Indonesia? Dengan menghadirkan kultur Etnik NTT pada khsanah sastra Indonesia, diharapkan terjadi keterbukaan menerima dan mencoba melakukan apresiasi terhadap berbagai kultur etnik Indonesia yang kaya ini sehingga secara perlahan mengikis sikap menganggap rendah kebudayaan orang lain dan sebaliknya menimbulkan dan menghargai keragaman bangsa Indonesia bahkan dunia yang memang berbeda.
Selain Anda, siapa lagi yang juga bermain dengan etnik NTT?
Saya juga bangga pada beberapa sastrawan Indonesia yang juga konsisten mengusung kultur etnik dalam karya-karya mereka. Bahkan saya merasa banyak belajar dari proses kreatif mereka. Gerson Poyk dengan setting karya-karya bersumber pada kultur etnik NTT (Enu Molas di Lembah Lingko dsb) juga Maria Matildis Banda. Selain Gerson, Maria Matildis Banda dan saya, ada juga misalnya novel pertama F Rahardi tentang Lembata, serta beberapa karya puisi penyair NTT semisal Marsel Robot, Hadzarmawit Netty, Amance Franck serta bahkan hinggga sastrawan-sastrawan muda NTT, Jefta Attapani, Saddam HP, Deky Senda, Pion Ratuloli, Bara Pati Radja , Januario Gonzaga, Mario Lawi, Ragil Sukriwul atau karya-karya Joko Bayu, Deki Seo dalam berbagai pertunjukan teaternya, Pieter Kembo dengan keberanian menyentuh audio visual berupa film yang semakin mempertegas bahwa setiap karya sastra pada dasarnya unik. Dan, keunikan dalam sastra Indonesia sangat dipengaruhi oleh kultur dan masyarakat tempat sastrawan itu lahir dan dibesarkan atau pengalaman yang kuat dan terus menerus dengan lingkungan yang digarapnya dalam karya-karyanya. Sastrawan NTT telah melakukan semua hal positif tersebut, semoga pemerintah NTT memiliki apresiasi yang baik terhadap keberadaan sastrawan NTT dan menganggap mereka ada.
Anda begitu antusias dan semangat memperkenalkan musikalisasi puisi. Apa tujuannya?
Aduh, apakah saya terlihat antusias saat memperkenalkan musakalisasi puisi? (tersenyum). Memang awal tahun 2005, saya cukup dikenal sebagai sosok yang menghidupkan dan memperkanalkan kembali semangat bermusikalisasi puisi di kalangan pelajar se-Kota Kupang. Walaupun sebelum saya, ada sosok lain seperti Frans Ola Wuran dan Niko Ratulangi yang begitu bersemangat di era tahun 1998-1999. Jadi, jika musikalisasi puisi saya gairahkan kembali di tahun 2013 ini, bagi saya antusiasme itu tidaklah setinggi tahun 2005. walau begitu jujur saya katakan bahwa saya tetap antusis. Mengapa? Puisi tanpa dimusikalisasi pun tetap sudah musikal karena diksi, dan irama dimiliki sebuah puisi, namun musikal dalam pengertian tersebut pada tataran sastra. Sedangkan musikalisasi puisi merupakan kolaborasi dua seni yakni musik dan puisi (sastra). Dengan musikalisasi puisi, siswa dibangkitkan minatnya pada sastra (puisi) sekaligus mengembangkan minat bermusik dan mengasah kepekaan atau intusisi kreatif. Dua kenikamatan yang diperoleh sekaligus, yakni kenikmatan sastra dan kenikmatan musik. Setelah siswa menikmati sastra dan musik, siswa akan mengambil berbagai nilai yang hendak disampaikan pengarang lewat karya puisinya itu. Musikalisasi puisi dapat meningkatkan apresiasi siswa dan guru terhadap sastra sekaligus menyalurkan minat dan bakatnya siswa dalam bidang musik.
Di NTT banyak kalangan muda yang menyukai sastra tetapi bingung mengawalinya. Apa saran Anda?
Pertanyaan ini bisa diajukan di zaman awal kepengarangan Gerson Poyk, Hadmarwit Netti hingga Maria Matildis Banda atau zaman saya muda dulu di mana segala sesuatu serba terbatas. Sekarang ini, semua pintu kreatif terbuka untuk dimasuki. Setiap detik Indonesia, bahkan NTT menghasilkan penulis sastra dan kary sastra. Terdapat ruang yang merdeka dan sangat kompetitif untuk setiap anak muda menjatuhkan pilihan apakah dirinya akan terus "tidur" atau mulai "terbangun" dan beraktivitas? Bahkan sekarang ini, kita dengan mudahnya menemukan seorang anak muda yang "berlari" dengan begitu cepat dalam melakukan aktivitas bersastra. Sebagian anak muda lainnya bahkan sudah kecapain, dan mereka membutuhkan beristirahat, dan setelah mengaso sebentar mereka kembali lagi melanjutkan perjalanan dengan gairah yang selalu baru.
Sungguh, ini zaman yang benar-benar menggairahkan bagi sastrawan muda NTT dan kebanggaan besar bagi para sastrawan sesepuh mereka. Jadi, saran saya, jika anak muda menyukai sastra, bukalah matanya lebar-lebar sekarang dan mulailah melakukan sesuatu. Pilihlah ruang atau pintu yang tepat untuk memulainya karena ada banyak pintu yang selalu siap terbuka untuk menolongmu, termasuk ada begitu banyak media yang akan menerima dan menampung tulisan-tulisanmu. Juga ada begitu banyak penerbit yang bersedia menerbitkan karyamu. Satu yang pasti adalah yakinkanlah pada dirimu bahwa Anda siap berkompetensi dan pantang menyerah karena kemajuan kuantitas yang terlihat secara kasat mata belum tentu menjamin kualitas diri setiap orang.
Anda juga mengikuti kongres Bahasa Indonesia X. Apa manfaatnya untuk ibu dan NTT?
Saya mengikuti Kongres X Bahasa Indonesia yang berlangsung di Jakarta 28 Oktober 2013. Saya terdaftar di kongres itu sebagai sastrawan dan pendiri atau penggagas Uma Kreatif Inspirasi Mezra (UKIM) NTT. Selain saya, ada juga perwakilan dari guru yakni Jhon Tubani. Namun demikian, sebagai guru Bahasa dan sastra Indonesia dan sebagai penulis dan praktisi sastra, saya mendapatkan manfaat yang besar sekali berkaitan dengan diplomasi bahasa Indonesia di ajang Internasional yang seharusnya bisa dilakukan dengan berbagai karya kesusastraan. Masalahnya adalah selama ini negara hanya melakukan diplomasi bahasa dan kebudayaan lewat kegiatan-kegiatan pariwisata yang lebih banyak dikemas dalam bentuk tarian, namun bukan seni pertunjukan sastra atau penulisan-penulisan karya kesusastraan lainnya. Kalau pun ada pertunjukan, lebih banyak pertunjukan wayang, yang sudah tentu tidak mewakili Indonesia secara keseluruhan. Saya berharap Provinsi NTT yang kaya dengan tarian dan seni pertunjukan ini dalam berbagai perhelatan pariwisata di dalam maupun di luar negeri, dapat melirik keberadaan sastra tulis karya anak-anak NTT maupun sastra lisan yang muncul dari rahim NTT sebagai bentuk kolaborasi yang layak disandingkan dengan berbagai atraksi, tarian serta seni pertunjukan lainnya sebagai diplomasi sastra dan budaya antar negara. Perlu diketahui bahwa hubungan kongres Bahasa Indonesia dengan kesusastraan Indonesia begitu dekat, bahkan hampir tidak dapat membicarakan sastra Indonesia modern tanpa menyinggung keberadaan Sumpah Pemuda.
Dalam dunia sastra apa rencana Anda selanjutnya?
Saya bermimpi dan sedang memperjuangkan dengan sangat gigih, agar NTT memiliki Kampung Sastra, sebuah pusat sastra dan kebudayaan. Sebuah kampung di mana kehidupan normal tetap berjalan, tugas-tugas pemerintahan tetap sebagimana mestinya, namun yang membedakannya adalah semua aktivitas sastra dan budaya NTT muncul di kampung tersebut. Termasuk semua dokumentasi budaya, sastra dan Satrawan NTT setiap generasi dapat ditemui dan terdokumentasi dengan lengkap di kampung itu. Memang ini impian yang muskil atau terlalu tinggi, bahkan mungkin akan dicela oleh mereka yang tidak menyukai ide gila saya ini. Tetapi saya terus berjuang dan menggantungkan impian saya itu setinggi langit.
Saya malah memilih dan berharap Alor sebagai Kampung Sastra di NTT karena kekayaan kultural Alor yang sangat kaya dan unik, dan msitik serta alam, iklim dan lingkungannya hampir tidak disentuh sedikit pun dalam karya sastra NTT periode mula-mula bahkan hingga masa kini. Keberadaan Alor bahkan nyaris tidak ada dalam pembicaraan-pembicaraan sastra modern saat ini, padahal kerajaan Uki di Alor justru konon pernah disinggung dalam kita Negara Kertagama. Semua itu semakin membuat saya terobsesi untuk menyatakan keberadaan NTT lewat Alor. Memilih Alor bukan berarti sastra NTT adalah sastra Alor, tetapi memilih Alor adalah pernyataan kebanggaan saya bahwa Alor yang tidak tergarap oleh sastrawan Indonesia, justru bisa dipakai sebagai rumah di mana orang mencari segala dokumentasi kebudayaan dan sastra NTT. (alfred dama/habis)