Parodi Situasi

Parodi Situasi: Miras

APA yang sesungguhnya telah terjadi di antara kita? Minuman keras alias miras merajalela. Perkelahian terjadi karena miras.

Editor: Alfred Dama
ilustrasi 

Oleh Maria Matildis Banda 

POS-KUPANG.COM - Apa yang sesungguhnya telah terjadi di antara kita? Minuman keras alias miras merajalela. Perkelahian terjadi karena miras. Pembunuhan terjadi karena miras. Minuman keras alias moke alias tuak alias arak begitu memberi warna bagi aktivitas sosial warga. Duduk-duduk minum, berdiri-berdiri minum, pesta sedikit minum.

Kalau belum mabuk belum minum namanya. Lebih hebat lagi, kalau sudah mabuk keberanian meningkat lima kali lipat. Hal itulah yang menyebabkan terjadinya pembunuhan dalam pesta di kampung kita baru-baru ini. Yang bersangkutan sudah pulang rumah, ternyata balik lagi dengan benda tajam dan karena mabuk benda tajam pun bersarang dan jatuhlah korban dan tewas sia-sia.
                                     ***
"Bagaimana kalau kita ramai-ramai berantas miras," kata Rara. Jaki minum satu gelas sebelum bicara. "Tidak bisa! Mata pencaharianku menjual miras," sambung Jaki. "Kalau miras diberantas bagaimana dengan masa depanku? Pendidikan, kesehatan, dan ekonomi keluargaku bagaimana kalau sampai terjadi pemberantasan miras. Bagaimana mungkin?" Satu gelas lagi untuk Jaki.

"Daripada mabuk miras dan terjadi pembunuhan, bukan? Pokoknya aku mau usul berantas miras sampai rata, supaya tidak terjadi lagi kekerasan akibat mirasmu itu."
"Aku mau cari hidup dengan cara apa?" Jaki marah besar dan minum satu gelas lagi.

"Terserah mau hidup dengan cara apa. Yang penting stop produksi miras. Titik."
Maka terjadilah kekerasan kedua. Jaki dan Rara pun bergulat. Yang satu mempertahankan miras, yang lainnya mau menghancurkan miras. Perseteruan keduanya pun sampai ke polisi, sampai ke pengadilan, dan ternyata Jaki keluar sebagai pemenang. Moke tetap dipertahankan.
                                 ***
"Menurut pendapatku, yang berbahaya itu bukan miras. Tetapi kelakuan kamu berdua yang tidak sanggup mencari solusi terbaik dari kasus miras. Miras sudah ada sejak zaman dulu, mabuk pun sudah sejak zaman dulu. Namun mabuk diikuti dengan pembunuhan memang kian lama kian banyak kasusnya saat ini. Karena itulah kalian para pelaku home industri miras perlu duduk bersama komponen masyarakat lainnya untuk bicara sesuai dengan posisi dan porsi masing-masing.

Bagaimana memproduksi moke yang sehat, apa saja unsur-unsur materialnya, bagaimana memrosesnya, bagaimana produksi dan pemasarannya. Bagaimana minum moke yang sehat, dalam batas berapa gelas dan dalam kondisi apa? Apa ciri-ciri moke alias arak alias tuak yang sehat dan sebagainya mesti dibahas," kata Nona Mia dengan sungguh.

"Tidak ada cara lain selain tutup," teriak Rara.
"Aku juga suka minum moke," sambung Nona Mia. "Setengah gelas atau satu gelas apa salahnya? Bukankah dalam tradisi adat hampir semua etnis di NTT ini, tuak alias moke alias arak itu menjadi bagian dari rangkaian tradisi? Moke bukan hanya moke, moke itu persahabatan."

"Apa gunanya kalau hasilnya mabuk dan hajar orang bahkan tusuk orang sampai tewas!" Teriak Rara dan Jaki minum minum satu gelas lagi. "Jangan minum sampai mabuk. Harus tahu batas, tahu kendalikan diri.."

"Oooh jadi kamu mau bela para tukang minum moke ya?" Sindir Rara. "Semoga kamu tidak jadi peminum dan pemabuk moke arak tuak! Caranya hanya satu. Hapus moke arak tuak dari muka bumi," Rara berdiri dengan tangan di pinggang sementara Jaki sudah tambah minum tiga gelas lagi. "Moke tuak arak harus tetap ada!" Nona Mia dan Jaki bergantian bicara. Tidak ada yang memperhatikan Jaki yang sudah tambah satu gelas lagi.

                             ***
"Nona Mia dan Jaki benar," Benza turun tangan. "Minuman yang disebut moke, tuak, arak dan nama lainnya adalah minum khas dalam tradisi budaya kita. Moke menjadi salah satu  media persaudaraan, persahabatan, dan komunikasi efektif dalam sistem budaya kita. Kearifan budaya masyarakat kita antara lain ada pada moke sebagaimana juga sirih pinang. Komunikasi menjadi lancar dan terjalin baik justru karenanya. Kasus-kasus yang ada tidak perlu menghentikan usaha saudara kita Jaki. Yang penting Jaki memroduksi moke sesuai ketentuan."
"Jangan sampai buat moke oplosan dengan tambahan zat-zat lainnya yang memicu mabuk dan kematian," sambung Nona Mia.

"Yang penting juga setiap orang yang minum moke bisa kendalikan diri. Jangan sampai minum sampai mabuk, apalagi sampai berani menghabisi nyawa orang lain gara-gara mabuk."

"Menurutku, apapun alasannya moke tetap moke tetap memicu mabuk dan tetap rentan terhadap bencana ikutannya," kata Rara, sementara Jaki tambah satu gelas lagi. "Jadi kesimpulannya." tanya Nona Mia dan Benza bersamaan.

"Potong semua pohon tuak dan tutup semua usaha moke," jawab Rara ketika Jaki sudah minum moke, entah  berapa gelas. Mata Jaki pun  merah menyala. Perkelahian pun terjadilah.
                                     ***
Moke alias tuak alias arak dan sejenisnya telah menimbulkan masalah serius di antara Jaki Rara Benza dan Nona Mia. Urusan selanjutnya di kantor polisi. Kesimpulannya tuak moke arak   perlu dikendalikan dengan serius. Dikendalikan bukan dilenyapkan. Betul bukan? *

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved