Senin, 27 April 2026

Pemilihan Gubernur NTT

Ini Pendapat Facebookers tentang Pelaksaan Pilgub NTT

ALMON GAUT: Kalau pemilih NTT memilih karena SARA, ini menunjukkan para pemilih NTT kurang berkualitas. Semestinya kita memilih pemimpin NTT

Editor: Alfred Dama

NYONG HERIN: Syalom...Saya agak setuju dengan analisa Pos Kupang. Mudah-mudahan masyarakat NTT tidak seperti itu, memilih berdasarkan figur bukan karena SARA. thanks.
    
AMBROZ NUSAAUR: Isu-isu Sara yg dibangun pada ajang Pilgub atau Pil-Pil yg lain masih kental dan berkembang dalam masyarakat baik lokal, regional bahkan nasional--di sinilah letak "kelebihan bukan kekurangan" sebagai bangsa yg berbudaya yg jika disandingkan kepintaran intelektual selalu bertolak belakang dan pada titik tertentu bisa saling melengkapi...!!!
    
DOMINGGUS BANI: Slom. Tdk msla bung. Qt hrus brani trbuka. Qt hrus salig mnerima, menghargai prbedaan. Begitu jg hasil pilgub. Kenyataannya seperti itu apa yg terjadi. Bg sy isu sara tdk pengaruh. Siapapun dia kalw melakukan kehendak Tuhan, dukuglah dia.

YUS LESU: Semoga NTT tetap aman terkendali jauhi isu SARA...siapa yg menang, itu sdh garis tangan dr ALLAH

FRANS ATIMETA: Kebenaran yang akan menentukan, karena rakyat sudah memberikan hati nuraninya tapi kenyataan di MK juga kita tunggu saja.

KENZ RENGGO: Ini bukan soal agama, tapi soal figurnya, siapa yang paling berpengaruh. Kalau Frenly yang menang berarti di mata masyarakat dia sangat berpengaruh dan masih dipercaya, jadi jangan bawa soal agama dalam berpolitik.

HEDWIG ETY: Bukan masyarakat yg memilih karena melihat agama namun para cagub bersama tim suksesnya yg menggunakan kesempatan untuk melemparkan isu agama. Perlu diingat bahwa di NTT bukan saja dua agama, namun lima agama, terus bagaimana dengan agama lain yg memilih para cagub? Apa karena melihat agama? Intinya adalah masyarakat memilih yang bekerja dengan nuranilah yang akan menang, itu hukum alam bro.

YOS MONDO: Pemilih belum rasional dalam berpolitik khususnya dalam memberikan hak suara, sebab isu primordialisme, kultur (SARA) masih dominan menjadi referensi dalam memberikan hak suaranya dibandingkan aspek kualitas/kompetensi dari pasangan calon.

DESTONLY IKAL: Kekecewaan terbesar adalah banyaknya golput pda ptaran kedua, rakyat tdk sepnuhnya pduli dg hajatan demokrasi di prop ini, tdk ada pemilih rasional krna sesungguhnya kita sangat komunal, selamat frenly, buat Esthon- Paul, klo punya bukti kuat kcurangan silakan tempuh jalur hukum.

JOHN WOKURA KEREMATA: Harus kita sadari dgn pikiran yg jernih dan cerdas bahwa masyarkt NTT yg majemuk dlm prsaudaraan walaupun brbeda-beda asal usul, namun tetap satu dalam perbedaan. Masyakat NTT sangat mnghormati kerukunan beragama tanpa melihat perbedaan.
    
NO PAUL GN: NTT adalah propinsi yg masih kental dengan budayanya. Teriakan anti primordial bersifat musiman dan sangat sulit menghapus tradisi ini. Kebenran dan kejujuran adalah dua hal yang sangat mahal harganya. Pilgub bukan lagi sebagai kompetisi tapi lebih pada sebuah kejuaraan, yang kalah tidak bisa lagi berbesar hati menerimanya. Jangan ada dusta di antara kita, dan rakyat NTT sudah menentukan pilihan koh malah digugat? Ingat!! Dalam Tuhan tidak ada saling menggugat.*

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved