Pemilihan Gubernur NTT
Ini Pendapat Facebookers tentang Pelaksaan Pilgub NTT
ALMON GAUT: Kalau pemilih NTT memilih karena SARA, ini menunjukkan para pemilih NTT kurang berkualitas. Semestinya kita memilih pemimpin NTT
ALMON GAUT: Kalau pemilih NTT memilih karena SARA, ini menunjukkan para pemilih NTT kurang berkualitas. Semestinya kita memilih pemimpin NTT karena kualitas dan figur. Menjadi tanggung jawab kita (media, pemimpin,dsb) untuk mencerdaskan para pemilih NTT. Siapa pun dia, dari agama apa pun dia, suku apa pun dia, yang kita inginkan adalah pemimpin NTT itu mampu membawa perubahan yang signifikan untuk Provinsi NTT!
EL PASKALIS: Jika benar isu SARA dijadikan sebagai alat untuk merebut kekuasaan dalam moment pemilu Gubernur, maka ini pertanda demokrasi di Provinsi NTT masih kekanak-kanakan. Hal ini tak dapat kita salahkan pada rakyat yang memilih, tetapi bisa hampir pasti sumber yang mencipatkan isu SARA adalah dari penguasa dan jajarannya (kroni2nya) yang sdh tahu strategi membangun emosional rakyat yang mengedapankan hal yang sangat sensitif dg pribadi seseorang. Jangan heran jika rakyat dijadikan obyek dan dengan demikian tak bisa bersaing dg propinsi lain. Apa kata dunia bila RAKYAT dibodohi terus begini. Kasihan rakyat.
SPIRITUALIS LOUIS SANATORES ATAWOLLO: Seandainya pernyataan Pos Kupang benar (cenderung memilih berdasarkan agama), itu bukan rakyat yang salah, tetapi lobi politik yang dilakukan kedua kubu yang salah. Jika demikian, apa yang akan terjadi ke depannya untuk NTT?
JOSEPH LETOR: Tidak ada yang luar biasa. Pemilih telah cerdas. Kesadaran rakyat dan propaganda tim sukseslah yang dominan.
RATMY ABDUL MUIS: Kesalahan bukan terletak pada pemilihnya, tapi sempitnya pola pikir tim sukses dari pendukung gubernur yang selalu melontarkan isu agama, untuk memisahkan antara Timor dan Flores, sejujurnya tim sukses bukan tim sukses cerdas.
REMY M FANGGIDAE: Pemilih memang belum rasional. Mudah-mudahan di masa depan lebih rasional.
WILLY RACH ROYAN NGANTA: Secara menyeluruh ya, tapi khusus Manggarai saya berani katakan isu agama tidak berpengaruh. Di Manggarai selisih suara Frenly & Esthon hanya 3.200 sekian (tipis).
ATALIA PUTRY: Ada benarnya juga, sangat dïsayangkan jika masyarakat kita masih berpikir soal agama. NTT kota kasih tidak memandang dari segi ekonomi atau agama. Tapi kenyataannya sudah seperti itu. Selamat untuk kemenangan Frenly. Semoga bisa memimpin dengan lebih baik tanpa melihat agama, suku dan ras.
YAN PAREIRA: Iya benar juga isu sara cukup menguat dan figur dominan adalah cagub, bukan cawagub. Walau terselubung namun melalui sms dan sebaran isu oleh tim sukses paket2 bahwa saatnya kompetisi antara Flores vs Timor, Katolik vs Protestan. Tapi itu tidak mutlak.
YAHYA ADO: Itu pertanda bahwa pemilih di NTT masih sangat tradisional. Memilih berdasarkan ikatan keluarga, suku dan agama. Dan itu nyata terjadi. Biaya politik mahal hanya untuk membeli partai, dan seremoni pemilu belaka. Bukan mencerdaskan rakyat pemilih agar memilih pemimpin yang punya visi membangun. Soal peran wakil, orang lebih bangga menjadi supir, daripada kondektur.
SILCE UTUNG: Perpolitikan di NTT nuansa SARA masih kental sekali. Ada anggapan: bae sonde bae, mampu sonde mampu yg penting ketong pung orang, suku, agama ju sama. Mau dibawa ke manakah daerah ini? Kalau masih ada rakyat yang cara pikirnya seperti ini? Apa kata dunia?
EMANUEL KOLFIDUS: Saya kira kajian ini perlu diperdalam, melalui pemetaan dan survei yang lebih akurat agar hasil Pilgub NTT tidak disimpulkan sebagai kemenangan agama tertentu atau suku tertentu. Memang, hampir dalam setiap pemilukada bahkan pilpres sekalipun, sumbangan wakil selalu tidak lebih besar dari top leader, tetapi sumbangan basis calon wakil amat penting dalam menentukan kemenangan. Beberapa pemikiran atau kesimpulan primordial dapat terbantahkan jika melihat Pilgub putaran 2. Misalnya jelas sekali, pemilih Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat adalah contoh pemilih cerdas yang memberikan sumbangan suara yang sangat besar bagi Esthon, bahkan di Manggarai Timur, Frans Lebu Raya yang Katolik dan Flores, hampir kalah (hanya unggul 1.800 suara) dari Esthon. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemenang Gubernur NTT 2013, Frenly adalah buah dari pilihan rakyat yang cerdas dan bermartabat.
TARSISIUS TUKANG: Itulah gambaran bahwa memang pemilih NTT bukanlah pemilih cerdas, tetapi pemilih yang lebih mengedepankan sentimen SARA. Yang memanfaatkan isu SARA itu elite politk itu juga, mereka akan memelihara itu sebagai potensi politik, jadi yang tidak cerdas itu politisi itu sendiri.
IGNAS TAPUN: Kemenangan Frenly dan kekalahan Esthon tidak bisa kita lihat dari penyebaran kekuatan agama tertentu. Masyarakat NTT ini sdh sangat cerdas dlm menentukan pilihan mereka, dari putaran pertama saja kita bisa lihat, ketokohan dan bukti kepemimpinan pak FLR boleh dikatakan cukup berhasil dengan program Angur Merahnya yg diperuntukan untuk kesejahteraan masyarakat dan ini nyata, sehingga pada putaran kedua dgn enak Frenly memperoleh semuanya, karena masyarakat sendiri sdh tahu pemimpin seperti apa yg harus memimpin kita, jadi kemenangan Frenly bukan dari faktor agama.
MESAKH HOLENG: Agama dan suku dijadikan bagian dari kekuatan berpolitik di negara ini yg kemudian merambat ke daerah2 seperti NTT, yg kemudian menghasilkan pemimpin yg tidak berkualitas.
OA HADJON: Yang pasti bukan masalah SARA, hanya karena masyarakat NTT belum semuanya mengerti politik, sehingga dengan mudah dan cepat mempercayai isu-isu murahan yang beredar menjelang pilgub putaran kedua, apalagi yang ada hanya 2 paket. Mungkin untuk ke depannya pihak KPU mampu mensosialisasikan lebih dalam mengenai pergulatan politik yang positif.
REMAN ASROMA: Dalam sebuah pertarungan pasti ada yg menang dan kalah. Yang menang jangan sombong dan kalah jangan kecewa. Semua sudah ditakdirkan yg kuasa. Jadi mari bersama-sama membangun FLOBAMORA TERCINTA. Salam kasih buat semua.
SILVESTER JENAHUT: Suara rakyat itu suara Tuhan untuk NTT, tidak memandang suku apalagi agama. Mari kita bersama membangun NTT lebih OKE ke depannya. Tuhan memberkati.