Breaking News
Jumat, 10 April 2026

Ini Kata Piet Jemadu, Pengamat Hukum Tentang Judi Pilgub

KITA prihatin dengan adanya pasar taruhan yang sangat luar biasa memanfaatkan momentum pemilihan Gubernur NTT.

Editor: Alfred Dama
KITA prihatin dengan adanya pasar taruhan yang sangat luar biasa memanfaatkan momentum pemilihan Gubernur NTT. Padahal peristiwa pemilihan Gubernur NTT sangat bermartabat  dan sangat penting bagi kelanjutan pembangunan di propinsi ini. Pilkada ini bermartabat dan fundemental untuk perjalanan rakyat NTT lima tahun ke depan.

Tapi momentum politik ini dijadikan oknum warga sebagai  ajang/bursa taruhan untuk perjudian. Memang masyarakat kita secara budaya ada seperti itu, suka taruhan/berjudi, tapi itu budaya yang tidak baik. Daerah kita sudah miskin, masih berjudi lagi. Secara moralitas sangat prihatin dan ini bertentangan dengan martabat peristiwa yang mulia.

Perilaku seperti ini justru membuat orang susah tambah susah. Ini bikin tambah susah diri. Secara ekonomi kita miskin tapi ikut taruhan. Memang ada warga kelas menengah atas dan orang kaya ikut pasar taruhan terkait Pilgub NTT tapi mereka tidak miliki basis analisis yang jelas untuk melihat mana figur/paket yang menang dan kalah.

Memang ada pengusaha yang taruhan, mungkin hingga angka miliar tapi berbasis pikiran yang irasional.

Taruhan seperti ini  cuma pakai pola berpikir nihilisme yang mana aliran berpikirnya di alam kosong. Nanti arahnya ke fatalisme karena berbasis mitologi atau mitos menghayal dan tidak rasional. Justru oknum masyarakat yang berperilaku seperti ini mudah dan bisa/akan menjadi biang keributan dalam masyarakat. Karena mitoslogi  tidak rasional, lalu mulai emosional dan gampang membuat keributan karena kalah dalam pasar taruhan.

Padahal proses pilkada itu proses rasional lewat institusi lembaga KPU. Mereka itu institusi resmi yang diberi kewenangan dan bertanggung jawab secara hukum atas hasil pilkada. Memang ada oknum warga yang pakai momen ini menjadi pasar taruhan dengan sistem berpikir yang irasional.

Ini menjadi perhatian Polri. Dalam pesta demokrasi, yang kalah harus legowo, jangan buat keributan. Kalah yang terhormat artinya murni melalui proses demokrasi yang fair, jujur dan adil tanpa rekayasa. Karena merakit kesatuan dan kesatuan NTT sangat mahal.

Ini sudah dipertaruhkan para pendahulu, sejak mantan Gubernur WJ Lalamentik, Mayjen El Tari,  dr. Ben Mboi, Hendrik Fernandez, Mayjen Herman Musakabe, Piet Tallo  hingga saat ini untuk lebih dari 70 etnik di NTT. Dan, saat ini tokoh panutan kita ada Pak Frans dan Pak Esthon.

Masyarakat jangan menodai ajang ini untuk sebuah taruhan, walupun untuk mengeleminir ini sangat sulit. (ferry ndoen)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved