Kalau Saya Menang Pilkada
TINGGAL menghitung jam, menit, detik, pilkada NTT dan Sikka masuk ke hari H yang dinantikan. Sebaiknya bagaimana ya? Sebut nama orang, nomor
TINGGAL menghitung jam, menit, detik, pilkada NTT dan Sikka masuk ke hari H yang dinantikan. Sebaiknya bagaimana ya? Sebut nama orang, nomor urut, asal-usul, visi-misi, program kerja, atau kriteria? Kalau sebut nama orang, apalagi nomor urut, wah bakal ketahuan baju kausku mejikuhibiniu alias merah jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu, dalam satu tas. Kalau sebut asal-usul, sayangnya saya lumayan alergi dengan primordialisme. Bisa-bisa saya kena penyakit gatal-gatal gara-gara sukuisme, keluargaisme, agamaisme, kelompokisme, kepentinganisme, dan isme-isme lainnya.
Masak sih hari gini masih bawa-bawa primordialisme. Salah kelolah bisa jadi premanisme. Yang kalah marah, yang menang kegirangan, akhirnya perang besar gara-gara kalah. Bukankah tidak ada yang mau kalah dan semuanya yakin menang?
***
"Yang pasti empat kalah satu menang untuk NTT dan satu menang delapan kalah untuk Sikka. Berdebar-debar hatiku menanti keputusan suara rakyat, pasti sekitar Senin 18 Maret sore hari kita sudah tahu hasilnya."
"Memangnya kamu pilih siapa untuk NTT?" tanya Jaki. Rara langsung berbisik. "Ooooh yang itu pilihanmu? Boleh juga ya."
"Siapa yang kamu pilih untuk Sikka?" tanya Rara. Jaki pun berbisik. "Oh pasti kalah!"
"Hati-hati ya kalau bicara! Saya putar lehermu nanti," ketegangan tinggi tiba-tiba.
"Berani menghina idolaku ya? Awas kamu!"
"Kamu yang awas!"
Nona Mia dan Benza yang baru bergabung terheran-heran menyaksikan Jaki dan Rara saling menyakiti gara-gara beda pilihan. Padahal dari sekian calon semuanya sesama saudara NTT juga, sesama saudara Sikka pula. Kenapa mesti bertengkar ya?
"Dia menghina pasangan calon unggulanku."
"Dia juga menghina pasangan calon unggulanku. Jadi sama dengan."
"Waduh, kalau begini cara kalian berdua, kawan bisa jadi lawan, saudara bisa jadi musuh, dan keluarga bisa hancur berantakan," kata Nona Mia.
"Kamu harus percaya, lima NTT dan sembilan Sikka itu sudah siap bertanding. Siap bertanding, artinya siap menang dan siap kalah. Kalau ada yang menang langsung melambung dan merendahkan yang lain, itu artinya dia kalah sebelum melangkah. Kalau ada yang kalah terus memusuhi yang lain, itu artinya dia merendahkan dirinya sendiri. Apalagi kalau sebelum bertanding sudah merasa kalah, itu namanya pecundang, punya potensi untuk menghancurkan."
***
"Jadi lima NTT dan sembilan Sikka siap bertanding ya?"
"Pasti! Semuanya paket yang teruji, sudah makan asam garam politik, sudah tahu pahit manisnya kehidupan. Jadi buat apa ribut-ribut bertengkar pilih paket A atau paket B dan membuat hubungan keluarga, persahabatan, saudara jadi hancur berantakan."
"Ooooh begitu ya? Kamu berdua pilih siapa?"
"Yang pasti, besok datang ke TPS, masuk bilik suara, dan pilihlah pasangan yang sudah kupatri dalam hati. Sebagai manusia lebih kurangnya setiap pasangan pasti ada. Namun tentu saja aku pilih yang visi misinya sejalan dengan apa yang kumau. Sederhana saja bukan?"
"Kalau pilihanmu kalah bagaimana?"
"Ini soal pilihan! Kalah menang akan aku terima dengan pikiran, hati, tangan, dan kata-kata yang paling sopan. Pasti kujamin," sambung Nona Mia dengan rona berbunga-bunga. "Tetapi aku takut kalah, Nona Mia!" kata Jaki.
***
"Takut kalah? Gampang obatnya. Minum jus bawang putih campur bawang merah!"
"Bagaimana mungkin? Harga bawang lagi melonjak setinggi langit. Aku ambil uang dari mana? Aduh kenapa ya negara agraris, mayoritas rakyat petani, semua kita turunan petani, tetapi harga bawang putih dan bawang merah jadi hancur lebur begini. Pada hal itulah bumbu dapur yang paling menentukan rasa setiap hari. Siapa yang salah urus negara sampai jadi begini kejam ya? Ujung-ujungnya impor bawang, impor daging, petani peternak kita pada kemana ya?"
"Ini pelajaran berharga untuk pilih pemimpin yang pasti melindungi bawang putih dan bawang merah dari kebun sendiri, melindungi ternak dari padang sendiri."
"Kalau jagoanku menang aku janji akan membuat kebunku penuh dengan bawang." "Kalau pilihanku yang menang, tentu saja harus penuhi janji. Perjuangkan ternak di padang gratis, bawang putih gratis, bawang merah gratis, daging sapi gratis. Semuanya serba gratis merata bagi semua warga masyarakat. Hebat bukan?" Jaki tidak mau kalah.
"Nilai jualnya tinggi, hebat itu, mengantar rakyat ke medan ketergantungan, kian hari kian lemah, dan akhirnya mati dengan gratis. Bahkan sampai bawang putih dan bawang merah mati merana di atas lahan sendiri," kata Benza membuat Jaki dan Rara mati gaya.
***
"Benza dan Nona Mia, apa yang akan kamu lakukan kalau pilihanmu menang?"
"Ajak keduannya terbang ke Vatikan. Bertemu Paus Fransiskus Pertama. Mohon berkatnya untuk ikut mengemban visi misi Santo Fransiskus berjuang demi orang miskin dan kaum terpinggirkan," Benza yang menjawab.
"Sekalian minta Paus Fransiskus ikut pulang bawa bibit bawang putih dan bawang merah untuk ditanam di kebun kita. Bawang putih dan bawang merah yang sesungguhnya sangat sederhana, sesederhana petani yang sering kali terkalahkan di lahannya sendiri."
"Apa yakin pasangan unggulan kalian berdua yang menang?"
"Yakin!"
"Siapa dia? Pasangan nomor 1, 2, 3, 4, 5 NTT dan 1, 2, 3, 4, 5, 6,
7, 8, dan 9 Sikka?"
"Yang besok keluar sebagai pemenang!" *