Kamis, 30 April 2026

Ular Itu Tidak Lari pada Ritual Tauna Mawo

Aneh, tiba-tiba seekor ular hijau muncul dalam acara ini. Besarnya seperti jari kelingking orang dewasa. Posisi ular tidak

Tayang:
Editor: Alfred Dama
Laporan Wartawan Pos Kupang, Alfons Nedabang

POS KUPANG.COM, TAMBOLAKA -- Aneh, tiba-tiba seekor ular hijau muncul dalam acara ini. Besarnya seperti jari kelingking orang dewasa. Posisi ular tidak jauh dari tumpuan gendang. Pemandangan yang tak lazim itu  menjadi pusat perhatian semua yang hadir.

Tidak sedikit yang mengabadikan ular hijau itu dengan kamera dan hand phone (HP). Meski memotret dengan jarak dekat, ular itu tidak lari.

Bagi masyarakat adat Lobo, ular tersebut merupakan jelmaan dari leluhur. Dari tempat berlangsung ritual adat itu, masyarakat adat Lobo berjalan kaki kembali ke perkampungan adat yang jaraknya sekitar satu kilometer. Sepanjang perjalanan sejumlah orang tua menari.

"Acara Tauna Mawo ini bertujuan mempersembahkan jagung dan padi kepada leluhur sebagai ucapan terima kasih," kata Ngongo Bulu.

Waktu pelaksanaanya, lanjut Ngongo Bulu, ditandai dengan telah menguningnya padi dan jagung. "Saat waktu tanam juga ada dibuat ritual adat yang namanya ringi wini teda pare. Acaranya berlangsung di kampung adat," ujarnya.

Sebelumnya, menyambut musim panen, masyarakat adat Lobo, Desa Ramadana, Kecamatan Loura, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), menggelar ritual Tauna Mawo, Sabtu (9/3/2013) pagi. Acara yang berlangsung di bawah pohon beringin besar, ditandai dengan pemberian sesajian kepada leluhur. Anehnya, ritual dihadiri seekor ular hijau.

Ritual ini dilaksanakan setahun sekali sebagai ucapan syukur karena Tuhan dan leluhur telah memberikan hasil pertanian. Acara ini dipimpin Yaingo Bala, Kepala Suku Lobo.

Diawali dengan pemberian sesajian berupa sirih pinang yang diisi dalam sokal kecil kemudian diletakkan di atas batu-batu di dekat batang pohon beringin. Pohon besar dan rimbun itu tumbuh dalam gua batu sehingga memberi kesan tempat itu sangat angker.

Pada beberapa dahan pohon digantung beberapa jagung hasil panenan. Di dekat pohon juga ada tiga tombak dan parang adat. Selanjutnya, sambil melantunkan syair-syair adat, Ngongo Bulu (40) dari suku Maneka, menghamburkan beras dan diikuti dengan memotong ayam dan seekor babi sebagai persembahan.

Menurut Thomas Bora Malo, generasi suku Lobo, siapa pun masyarakat adat Lobo bisa mempersembahkan ternak dan hasil pertanian. Setelah dibakar, ayam sebanyak enam ekor itu dibela perutnya. Kalau di daerah lain biasanya melihat hati ayam, suku Lobo justru melihat usut halus. Jika menyatu maknanya ada kerja sama leluhur dengan manusia sehingga menghasilkan hasil-hasil pertanian yang baik. Kalau babi yang dilihat hatinya.*

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved