ANBI Membangun Musik NTT dari Tanah Rantau
Suatu malam pada bulan Mei tahun 2011 lalu di Aula Kampus Universitas Tri Sakti Jakarta, sekelompok anak muda tampil memukau
Musik dan lagu yang dibawakan pun seperti mengobati kerinduan yang mendalam ribuan warga NTT di Jakarta. Dan, musisi asal NTT pun menyatu dalam alunan musik yang menghentak yang menggambarkan kegembiraan anak nusa.
Bukan hanya lagu, berbagai tarian dan atraksi bahkan menari Ja'i bersama menjadi warna tersendiri yang seakan menghadirkan bumi Flobamora di tanah Betawi.
Malam itu merupakan malam pendeklarasian berdirinya komunitas Anak NTT Bermusik Independen (ANBI). Sekitar 1.000 orang hadir dalam acara tersebut, di antaranya tokoh NTT di Jakarta, Gories Mere, anggota DPD asal NTT, Abraham Paul Liyanto, istri salah satu menteri kabinet dan lainnya. Bukan saja musik, berbagai menu makanan juga bernuasana lokal NTT.
Dari situlah aktivitas ANBI ini mulai menunjukkan betapa anak- anak NTT memiliki kapasitas yang mumpuni dalam bermusik. Tak heran bila para musisi ini telah membangun musik NTT dari tanah rantau.
Boy Carvalho Clemens, salah satu penggagas berdirinya ANBI, mengatakan, anggota komunitas ini kini tercatat lebih dari 3.000 orang, namun jumlah tersebut bisa lebih banyak lagi bila dihitung simpatisan komunitas ini.
Boy mengatakan, komunitas ini dideklarasikan pada bulan Mei 2011 lalu di Jakarta. Latar belakang berdirinya komunitas ini adalah banyaknya musisi asal NTT yang memiliki nama besar di luar NTT, namun sejauh ini masih bekerja sendiri-sendiri.
"Pertama, berangkat dari rasa prihatin terhadap musik NTT khususnya, yang sepertinya jalan di tempat di sampai sekarang. Padahal masa lalu musik kita sangat bagus, tahun 1980-an, banyak penyanyi NTT yang berkibar di belantika musik nasional. Saat itu kita kenal ada nama Ingrid Fernandez, Obie Mesakh dan lainnya. Bukan itu saja, lagu-lagu daerah NTT juga sangat dikenal dan dinyanyikan di mana-mana. Sebut saja lagu Mana Lolo Banda, Bale Nagi. Tapi semua itu seakan hilang saat ini," jelas Boy.
Padahal, NTT memiliki banyak sekali potensi, baik itu musisi, penyanyi maupun lagu-lagu yang kreatif. "Aktivitas seni dan musik bagi orang NTT itu sudah dimulai sejak dalam kandungan hingga orang itu meninggal. Semuanya ritual dan prosesi itu dengan musik. Jadi musik sebenarnya adalah detak jantungnya orang NTT," jelasnya.
Pertanyaannya, kenapa musik NTT tak juga maju-maju.
Menurut Boy Clemens, hal ini dikarenakan selama ini musisi asal NTT bekerja sendiri-sendiri dengan kreativitas sendiri- sendiri, seperti musisi dari SoE TTS sendiri, TTU sendiri, Belu juga sendiri. Demikian juga dari Flores, Sumba dan Alor dan Timor. Musisi ini hanya tinggal di daerah masing-masing dengan kreativitas seadanya.
Hal ini yang menjadi salah satu penyebab musisi NTT itu tenggelam di tengah majunya musik nasional.
Ini pula yang menjadi dorongan bagi sekelompok anak muda asal NTT yang menyukai musik untuk membentuk komunitas ini. Komunitas ini akan menjembatani kelompok musik dan musisi untuk bersatu memajukan musik NTT.
"Musisi NTT ada yang bagus-bagus. Terakhir ada Obie Mesakh, sejak era mereka itu hilang, musik NTT juga mulai redup. Saya dan teman-teman kumpul lalu bicarakan masalah ini dan akhirnya tercetus untuk membentuk komunitas ini. Pada intinya, akhirnya buat komunitas. Saya ajak teman-teman musisi untuk sama-sama bangkit," jelasnya. (alf)
Tuan Rumah dan Tamu Terhormat
SEJAK dideklarasikan, musik NTT langsung mendapat sambutan yang antusias dari puluhan bahkan ratusan musisi NTT yang ada di NTT, Jakarta dan daerah lainnya di Indonesia. Ini menandakan bahwa ada keinginan musisi-musisi NTT untuk maju bersama seiring majunya musik Indonesia.
Keinginan komunitas ini adalah ingin menjadikan musik NTT tuan di daerah sendiri dan menjadi tamu terhormat di daerah lain.
Ia menjelaskan, orang NTT tidak bisa lepas dari musik dan dengan musik ini juga kita bisa bersatu. Awalnya komunitas ini ada di dunia maya, namun kini berkembang menjadi komunitas musisi NTT. "Ini kumpulan grup, dan anggotanya bukan saja musisi atau grup musik, tapi semua yang punya kepedulian terhadap musik NTT," jelasnya.
Pada awalnya, kumpulan ini mendapat cibiran dari sekelompok orang, namun bagi anak NTT yang ingin maju tak menjadi halangan untuk berkarya.
Musik NTT memiliki warna yang khas dengan ritme yang seakan memiliki roh, musik NTT memiliki jiwa yang bisa mempengaruhi orang lain. Hal ini dilihat bahwa musik asal NTT secara tidak langsung atau langsung bisa mengajak orang untuk ikut bergoyang. Dan, ini sudah dibuktikan para musisi NTT dalam beberapa acara di Jakarta.
"Musik kita punya roh, orang kalau dengar bisa ikut goyang. Orang di Jakarta jarang dengar musik NTT bahkan tidak pernah dengar, tapi ketika kita tampil di Jakarta dengan musi NTT ini bisa membuat orang ikut bergoyang. Hanya musik yang punya jiwa yang bisa mempengaruhi orang dan musik NTT punya itu," jelasnya.
Ia menjelaskan, dalam beberapa kali tampil, ia lebih memilih musik Timor yang bernuansa tebe-tebe. Sebenarnya musik Flores juga sama, hanya sedikit lebih lambat, namun juga bisa membuat orang bergoyang.Dengan memasang ornamen musik dari sasando, maka musik NTT jelas beda dengan jenis musik lainnya.
Setelah deklarasi ANBI, komunitas ini mulai mengisi panggung- panggung baik sebagai undangan maupun pengisi acara, antara lain tampil di Kupang dan terakhir di Yogyakarta.
ANBI juga tampil dalam acara yang digelar VOTE (Voice from The East) yang dimotori Glenn Fredly yang digelar di salah satu mall di Jakarta.
Boy mengisahkan, penampilan ANBI dalam acara itu benar- benar memberi warna sehingga mendapat sambutan yang luar biasa dari penonton. ANBI yang kumpulan musisi NTT ini menunjukkan betawa NTT memiliki banyak kekayaan musik yang unik. Dan, dari penampilan ANBI tersebut selanjutnya hampir di setiap acara Vote, anak-anak NTT yang ada dalam komunitas ANBI selalu diundang. (alf)



