Selamat Ultah, Pak Polisi (1)
Tak Ada yang Sempurna
Tidak jarang di ruas jalan-jalan di Kota Kupang, masih melaju sejumlah sepeda motor berknalpot racing, tanpa plat nomor, tanpa spion.
Penulis: omdsmy_novemy_leo | Editor: omdsmy_novemy_leo
Program 'mencoklatkan' NTT didukung oleh 16 kapolres di NTT dan seluruh jajarannya. Sebanyak 16 kapolres senantiasa mendukung sepak terjang Kapolda Sitohang, yakni AKBP Tito Basuki Priyatno (Kupang Kota), AKBP Mochammad Slamet (Kupang), AKBP Agus Hermawan (TTS), AKBP I Gede Mega Suparwitha (TTU), AKBP Darmawan Sunarko (Belu), AKBP Hidayat (Rote Ndao), AKBP Dominicus Savio Yempormase (Alor).
AKBP Ghiri Prawijaya (Sikka), AKBP Musni Arifin (Ende), AKBP Daniel Yudo Ruhoro (Ngada), AKBP Pontjo Soediantoko (Manggarai), AKBP Enday Sudrajat (Mabar), AKBP Wahyu Prihatmaka (Flotim), AKBP Marthen Johanis (Lembata), AKBP Made Dharmadi (Sumtim) dan AKBP Lilik Apriyanto (Sumbar).
Tingkatkan Pelayanan
Brigjen Sitohang berjanji terus berupaya meningkatkan pelayanan dan SDM Polisi. Namun, jika kemudian masih ada sejumlah oknum polisi yang melakukan kekeliruan di lapangan, maka akan dilihat sejauhmana tingkat kekeliruan itu dilakukan oleh yang bersangkutan.
"Saya dan seluruh jajaran sudah memulai untuk memperbaiki kinerja Polri di NTT. Seluruh kapolres di NTT mendukung upaya perbaikan itu. Jika masih ada kekurangan bisa dimaklumi. No body perfect, tidak ada manusia yang sempurna. Namun kekurangan itu harus dievaluasi untuk dilakukan perbaikan demi penyempurnaan," kata Sitohang.
Untuk mengawasi kinerja anggota, baik perwira maupun bintara, selau ada evaluasi dan diskusi bersama. Kapolres diminta memberikan pencerahan kepada anggota dua kali seminggu. Anggota polisi mulai dari yang bertugas menerima laporan masyarakat hingga reserse harus menerima dan menindaklanjuti setiap laporan masyarakat.
Kemudian berikan penjelasan mengenai perkembangan penanganan kasus yang ditangani. Segera tindaklanjuti jika kasus itu memenuhi syarat dan sebaliknya segera hentikan penyelidikan atau penyidikan jika tidak terdapat unsur pidana. "Jangan menggantung kasus sehingga masyarakat tidak mendapat kepastian hukum," kata Sitohang.
Bagian Intel senantiasa memberikan informasi yang tepat dan benar sehingga ditindaklanjuti. Bagian Satlantas dan Bimas juga harus menjalankan tupoksinya dengan baik. Kapolda Sitohang mengatakan, pencanangan program Badan Pembinaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) di NTT mulai berjalan dengan baik.
Pemerintah daerah dan masyarakat di sejumlah daerah menghibahkan rumah untuk dijadikan rumah babinkamtibmas sebagai tempat berdiskusi dan menyelesakan masalah hukum.
"Saya bangga karena program Babinkamtibmas di NTT sudah mulai berjalan. Pada gilirannya suatu saat nanti masyarakat di NTT akan sadar, paham dan mengerti hukum sehingga supremasi penegakan hukum di NTT bisa berjalan dengan baik. Masyarakat akhirnya bisa menjadi polisi bagi dirinya sendiri sehingga masalah keamanan terjadinya kasus hukum bisa diminimalisir," kata Kapolda.
Pembenahan fisik sejumlah gedung kantor dan perumahan dinas yang rusak juga mulai dilakukan. Lihat saja, kantor Polda NTT dan rumah dinas Kapolda NTT yang dulu Nampak `seram' dan tidak terawat, kini sudah `dibedah' sehingga terlihat lebih `berwibawa'.
Begitupun sejumlah ruang kantor lainnya di Polda maupun sejumlah Polres juga mulai diperbaiki. Sarana prasarana, kendaraan dinas pun mulai ditambah.
"Memang belum semua kekurangan sarana prasarana termasuk kekurangan kendaraan dinas di polres, polsek, pospol yang dipenuhi. Masih ada keterbatasan dana. Tapi perlahan-lahan akan dicukupi," kata Kapolda Sitohang.

