Rabu, 10 Juni 2026

Kabut di Tengah Bukit

HAMPARAN rumput hijau sore itu bak sebuah permadani. Dengan malas aku merebahkan tubuhku dan memanjakannya di atas permadani alami itu.

Tayang:
Editor: Alfred Dama
zoom-inlihat foto Kabut di Tengah Bukit
Net
Ilustrasi
Cerpen Ira Gantir

HAMPARAN rumput hijau sore itu bak sebuah permadani. Dengan malas aku merebahkan tubuhku dan memanjakannya di atas permadani alami itu. Sungguh indah dan nyaman. Sejuknya semilir angin pegunungan mengisi setiap rongga dadaku dan memompa setiap  energi negatifnya di dalamnya keluar melalui tenggorokan dan terhembus melalui napas yang lembut.

Kaki bukit ini ternyata begitu indah. Apalagi kala sore hari dibawah terpaan cahaya mentari. Tak heran setiap muda - mudi yang lagi kasmaran penasaran ingin menikmati romantisme di sini. Aku tersenyum geli.

Ketika pikiranku tentang sepasang kekasih ada dikepalaku saat itu pula melintas sepasang muda - mudi mengendarai sepeda motor kemudian mengambil tempat yang cukup jauh dariku. Tentunya mereka tak ingin terganggu dengan kehadiranku. Aku tak peduli. Yang aku inginkan sore ini aku mendapatkan ketenangan setelah jenuh melalui hari - hariku.

"Hai," suara lembut mirip desahan mendarat di telingaku. Aku terkejut dan mataku membelalak ketika di depanku ada seorang gadis cantik umur belasan tahun. Jangan - jangan setan, pikirku.
Gadis itu tersenyum menyambar tanganku ketika aku berusaha bangun dan hendak berlari.

" Hai," katanya lagi. Aku melihat sekelilingku. Sepi. Aku terlalu jauh dalam lamunanku sehingga tak menyadari kalau senja itu sekarang cuma ada aku dan gadis cantik itu. Tangannya hangat dan lembut. Aku kini sadar dia bukan hantu.

"Hai juga" jawabku setelah lama terdiam. " Jangan suka menyendiri apalagi di daerah pegunungan seperti ini, Rina " katanya sambil mengulurkan tangannya. " Anastasia" sambutku. Tangan gadis itu memang sangat lembut dan semilir angin menghantarkan aroma tubuhnya yang sangat harum.

Belum pernah aku melihat gadis secantik Rina. Tubuhnya tinggi langsing, putih mulus, cantik dan harum. Dari wajahnya aku yakin dia bukan gadis dari daerahku. Lamunanku kembali ketika Rina mengibaskan tangannya di depan wajahku." Aku jenuh saja," kataku singkat.

Rina merebahkan tubuhnya di rerumputan. " Kalau aku menyendiri itu biasa. Aku tidak punya teman. Walaupun orang disekitarku banyak tapi aku tetap merasa sendiri. Di sini aku lebih merasa mempunyai teman. Rumput yang hijau, kabut yang dingin dan cahaya surya yang bersahabat. Aku yakin kamu dari keluarga baik - baik. Sendiri bukanlah pilihan yang tepat seperti yang aku lakukan."

Rina megambil ujung rumput dan menggigitnya. " Kamu tahu, pertama aku dikirim ke sini aku merasa agak senang. Dulu aku mendengar penduduk daerah ini masih kuat memegang nilai - nilai moral. Besar harapanku kedatangan kami ke daerah ini akan ditolak atau kegiatan kami dibubarkan. Ternyata tak seperti yang aku bayangkan. Disana dan disini sama saja. Kamu tahu banyak penduduk sini yang munafik?"

"Maksudmu?" tanyaku. Aku mulai tertarik dengan pembicaraannya walau sebenarnya aku tak mengerti. Rina tertawa kecil. Sepertinya dia menikmati kebingunganku.
"Kamu bayangkan saja. Begitu banyak laki-laki hidung belang yang datang ke tempatku.

Banyak yang berduit namun tentu tak bermoral. Dengan banyak alasan datang, karena bosan, karena sering cekcok dengan pasangan dan ada pula yang hanya ingin bersenang - senang. Terlalu naïf jika kamu menganggap penduduk daerah ini semuanya masih suci. Jadi saranku jangan suka menyendiri non."

" Jangan menakuti aku" ujarku dengan wajah mulai menegang. Aku merasakan disekitarku berdiri orang - orang jahat seperti yang dikatakan Rina.

Matahari diufuk barat mulai turun. Aku tak mau lama - lama lagi disini. Dengan gerak cepat aku bangun dan melangkah pergi. " Aku pulang, mau kuantar?" tanyaku sambil menghidupkan mesin motorku. " Tidak usah, aku bisa pulang sendiri,"jawab Rina. Motorku sudah bergerak namun hatiku ingin bertanya.

"Dimana tempat tinggalmu?" tanyaku. Rina menunjuk sebuah bangunan di kejauhan dengan terang yang remang - remang tertutup kabut senja. Aku tersenyum kepadanya dan entah mengapa ada rasa sedih dalam hatiku ketika aku beranjak pergi.

Saat senja di akhir pekan, aku menempatkan diri untuk datang lagi ke kaki bukit itu. Namun kali ini dengan sedikit perasaan takut. Kata - kata Rina seperti masih menghantui langkahku namun kedatanganku ke kaki bukit ini didorong rasa penasaran.

Aku ingin bertemu dan bercakap - cakap lebih lama lagi dengan Rina. Rasa penasaranku hilang ketika dari kejauhan kumelihat sosok Rina. Rina tersenyum ketika motorku mendekat.

Mengambil tempat yang cukup nyaman untuk duduk sambil menikmati keindahan kota dari ketinggian dan selanjutnya kamipun terlarut dalam obrolan panjang. Yang membuat aku kagum ternyata pikiran Rina cukup maju. Berbicara menyangkut apa saja nyambung, walaupun dia hanya berijasahkan sekolah menengah pertama.

"Mengapa kamu tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi?"tanyaku ingin tahu. Mata Rina berkaca - kaca. " Maaf'"kataku lagi. Rina mengambl tissue dan menghapus air matanya yang mulai jatuh. " Hidupku pahit"kata Rina sambil menghapus air matanya.

Rinapun mulai bercerita. Keluarganya merupakan keluarga miskin. Ayahnya seorang buruh pabrik dengan gaji yang sangat minim. Ibunya juga pernah menjadi buruh pabrik. Ayah dan Ibu Rina bertemu pertama kali pada saat keduanya menjadi buruh pabrik sepatu.

Ringkas cerita keduanya jatuh cinta, menikah dan memiliki 5 orang anak termasuk dirinya. Setahun bekerja ibunya di PHK. Harapan hidup keluarga bertumpu pada penghasilan ayahnya. Rina tidak berpikir panjang ketika Helena tetangga Rina menawarkan pekerjaan di kota  dengan penghasilan menjanjikan.

Bermodalkan tiga potong pakaian, sandal jepit dan uang puluhan ribu berangkatlah Rina bersama Helena ke kota tempat Helena bekerja. Besar harapan Rina kehidupannya akan sama dengan Helena selain menghidupi dirinya sendiri juga bisa membiayai adik- adiknya di desa. Wajah ayah, ibu dan adik - adiknya terlihat sedih ketika Rina meninggalkan desa.

Helena bisa menyakinkan orang tua Rina bahwa pekerjaan yang digelutinya selama ini adalah pekerjaan yang halal dengan upah lumayan. Orangtuanya hanya bisa mengiyakan ketika Rina pamit.

Pekerjaan dikota tidak seperti yang Helena janjikan. Dengan berat hati Rina menjalankannya. Ingin pulang namun ketika wajah orang yang dicintainya muncul di ingatannya membuat langkahnya terhenti. Setahun menjalani profesinya, Rina dan kawan - kawannya dipindahkan tugas ke daerah ini.

Tempatnya bekerja membuka cabang usahanya di sini. Rina tak pernah mengabarkan pekerjaannya apalagi kepindahannya kepada kedua orangtuanya.

" Begitulah ceritanya", kata Rina dengan muka sembab. " Mencari pekerjaan jaman sekarang sangat sulit. Apalagi untuk mendapatkan pekerjaan dengan upah yang lumayan seperti pekerjaanmu," sambung Rina. Aku tersentak. Begitu dalam aku mengikuti alur ceritanya. Aku terdiam dan dalam hati aku mengiyakan ucapannya  serta bersyukur kepada Tuhan akan apa yang aku miliki sekarang.

"Aku tidak pernah membayangkan akan bekerja seperti sekarang ini .Pekerjaan hina. Menjadi PSK. Tapi apa boleh buat aku tidak mempunyai pilihan lain. Dulu pernah punya cita -cita jadi perawat, tapi mana ada pendidikan yang gratis, dimana- mana harus mengeluarkan uang."

"Apa tidak ada profesi lain yang bisa kamu tekuni? Banyak orang dari daerah lain merantau ke daerah ini tanpa ijasah bermodalkan ketekunan akhirnya menjadi orang sukses. Pekerjaanmu bisa membuat hidup orang lain menderita.

Banyak keluarga yang sedang mengalami konflik mengalami pelarian ke tempat yang salah, tempatmu,"kataku selunak mungkin menutupi rasa keterkejutanku mengetahui profesinya.

"Kamu mau menyalahkan aku? Ini pekerjaanku. Bukan salahku bila mereka datang padaku mencari hiburan. Aku tidak pernah memaksa," jawab Rina dengan muka ketus. Wajahnya merah menahan amarah.

"Aku tidak sepenuhnya menyalahkan kamu tapi profesi kamu membuka peluang bagi orang untuk berbuat diluar aturan norma agama. Kamu tahu aku jenuh berada di sini karena apa? Itu karena aku bosan dan marah melihat kakak perempuanku satu - satunya harus menangis terus melihat suaminya setiap hari pulang dalam keadaan mabuk. Yang membuat dia mabuk adalah kamu dan teman - temanmu," kataku dengan nada tinggi yang tak bisa terkontrol. Aku sudah tak peduli dengan perasaannya lagi.

"Dulu suami kakakku tidak berbuat seperti itu. Entah karena mengikuti tantangan kawan - kawannya dia akhirnya terlarut dalam kehidupan yang salah, pernahkah kamu memikirkan efeknya pekerjaannmu bagi orang lain?"

Rina menatapku tajam. Kutahu dia marah tapi aku juga berhak marah. Dia dan kawan - kawannya kuanggap sebagai pemicu segala masalah yang ada dalam keluarga kakakku. Aku jadi benci dengan kehadirannya kini. Rina bangun mengibaskan rok mininya dan pergi meninggalkanku sendiri.

Sejak saat itu aku melalui senja di kaki bukit sendirian. Hingga aku merasa bosan dan merasa kehilangan seorang sahabat yang pernah mengisi senjaku di sini. Ada rasa sesal akan ucapan yang pernah terlontar. Mungkin aku salah. Tapi sebenarnya aku ingin sekali dia bisa menemukan pekerjaan lain yang lebih baik.

Tekadku akan terus melalui senja di kaki bukit ini dan akan kuakhiri apabila aku bisa berjumpa dengan Rina untuk mendapatkan maaf darinya.

Hujan terus menerus. Dari kejauhan kulihat bukit itu tertutup kabut tebal. Dua minggu sudah aku tidak bisa menuju bukit itu lagi. Koran lokal sore ini kubaca tanpa minat namun ketika berita seorang PSK tewas terjatuh di kaki bukit membuat aku tersentak. Sekilas kubaca dan selanjutnya kupacu sepeda motorku dan pergi ke kaki bukit itu lagi.

Petugas yang mengamankan lereng itu menghalangi langkahku. Katanya tempat itu untuk sementara tertutup untuk umum. Dari petugas itu aku mengorek keterangan bahwa lima orang PSK melarikan diri dari tempat kerjanya.

Empat berhasil meloloskan diri namun satu orang tewas karena tergelincir dan masuk jurang. Ketika kugambarkan ciri -ciri Rina pada petugas itu dia memastikan bahwa bukan Rina yang bernasib naas itu.  

Seorang perempuan tua muncul dari antara petugas yang ada. Perempuan itu datang mendekat dan menyapaku. Tanpa basa basi dia menyerahkan sepucuk surat.

 "Dari Rina," katanya singkat ketika surat itu kuterima. Perempuan itupun pergi.  

Di dalam kamarku surat dari Rina kubuka perlahan.
Dear Anastasia. Maafkan aku untuk pertemuan kita yang terakhir. Aku tahu tak sepantasnya aku marah padamu. Aku minta maaf untuk apa yang terjadi pada keluargamu. Kamu tak akan pernah lagi menjumpai aku di kaki bukit itu.

Aku akan pergi. Aku berterima kasih untuk saranmu yang sangat berarti bagiku. Kusadari jalan yang kupilih ini salah. Harapanku aku bisa bertemu kamu lagi suatu hari nanti dan saat itu kamu bisa merasa bangga memiliki sahabat seperti aku.
                                                                                            Rina.
Sepucuk surat itu membuat aku tahu bahwa Rina telah keluar dari jalan yang telah dipilihnya. Permintaan maafku tak sampai padanya. Hanya doa yang terucap dalam hati semoga pelarian mereka berhasil dan mereka boleh menjalani hidup ini sebagai manusia bebas seperti manusia lainnya.

(Special to my lovely husband and daughter : Alex and Amanda Porat).

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved