Minggu, 17 Mei 2026

Sabu Manfaatkan Sumber Air untuk Pertanian

Panas menyengat merupakan situasi yang dirasakan setiap hari oleh masyarakat yang tinggal di Pulau Sabu

Tayang:
Penulis: Alfred Dama | Editor: Alfred Dama
zoom-inlihat foto Sabu Manfaatkan Sumber Air untuk Pertanian
POS KUPANG/ALFRED DAMA
SUMBER AIR--Bupati Sabu Raijua, Ir. Marthen Dira Tome, melihat salah satu sumber air yang berpotensi untuk pengembangan pertanian di wilayah Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua, belum lama ini.

POS KUPANG.COM --- Panas  menyengat merupakan situasi yang dirasakan setiap hari oleh masyarakat yang tinggal di Pulau Sabu. Belum lagi letak geografis Pulau Sabu ini yang tidak jauh dari Australia menjadikannya  mempunyai ciri-ciri khas dengan musim kemarau yang panjang, dengan curah hujan rendah.

Dalam setahun hanya 14-69 hari musim hujan.  Hujan yang minim menjadikan pemandangan di Pulau Sabu dan Raijua hanya menampakkan bukit-bukit yang hanya ditumbuhi rumput, semak dan pohon lontar.  Hanya di daerah lembah yang ditumbuhi pohon-pohon yang cukup besar.

Iklim di Pulau Sabu masuk dalam kelompok dari pulau-pulau Outer Arc yang sangat dipengaruhi oleh Benua Australia. Selain Sabu, pulau lainnya adalah Sumba dan Raijua.

Kecenderungan rendahnya curah hujan di Sabu-Raijua menyebabkan rendahnya produktivitas pertanian. Budidaya
hortikultura seperti bawang merah, kacang tanah dan beberapa jenis sayuran juga sangat bergantung pada persediaan
air sungai dan mata air.

Meski curah hujan yang minim, bukan berarti masyarakat Sabu pasrah dengan kondisi ini. Apalagi masyarakat setempat terkenal dengan keuletan dalam mengelola alam.

Curah hujan dan air yang minim ini tidak menjadikan Pemerintah Sabu Raijua saat ini pasrah. Berbagai upaya dilakukan, termasuk memanfaatkan semua potensi air yang ada untuk pertanian.

Bupati Sabu Raijua, Ir. Marthen Dira Tome, di Sabu belum lama ini mengakui, air memang menjadi tantangan tersendiri untuk pengembangan pertanian di wilayah ini. Namun, ia juga membantah bila di Sabu sangat minim yang untuk sektor pertanian.  

"Kalau air di Sabu ini ada di setiap desa. Tapi, mata air yang ada ini tidak mengalir seperti di Flores, Sumba atau Timor. Mata air yang ada ini seperti di sumur yang tidak pernah habis, atau sungai-sungai yang tidak mengalir. Ada juga yang tidak mengalir lagi, tapi tidak pernah kering," jelasnya.

Lahan pertanian di Sabu juga sangat luas mencapai sekitar 14 ribu hektar. Ini merupakan lahan potensial untuk pertanian, tinggal mengindentifikasi sumber air agar lahan ini bisa dimaksimalkan.

Guna memanfaatkan sumber-sumber air yang ada, maka perlu didata dulu semua sumber air yang ada dan potensi pertanian yang dimiliki. Untuk itu, aparat desa dan kecamatan pun dilibatkan untuk melihat potensi-potensi yang ada untuk pengembangan pertanuan dengan memanfaatkan sumber-sumber air yang ada.

"Kita lihat ada mata air,  tapi lahannya tidak ada lagi. Nah, ini kita dorong  orang untuk tanam jagung, sorgum atau kacang- kacangan. Jadi, kita sudah mulai tanam," jelasnya.

Alam Sabu yang keras sebenarnya sudah menyediakan jalan keluarnya, tinggal bagaimana melihat potensi yang ada untuk keluar dari berbagai ancaman termasuk rawan pangan. Dan, untuk mencapai kecukupan pangan di Sabu diperlukan kerja keras yang terus menerus.

"Secara perlahan-lahan tapi pasti, maka kita akan ada perubahan. Kalau masyarakat kita
hampir semua desa punya mata air maka wilayah ini tidak kekurangan air, tapi bagaimana mengelola air ini yang menjadi air atau memaksimalkan fungsi air," jelasnya.

Sabu yang kering ternyata juga memiliki sawah, namun sawah yang ada merupakan tadah hujan. "Kalau hujan datang, maka mata air akan muncul dan  mata air besar yang  bisa mengalir," jelasnya.

Sawah tadah hujan ini memang sulit diidentifikasi secara pasti, sebab pola tanam di sawah tersebut tidak sama setiap tahun. Sebab, bila tahun ini ditanam belum tentu tahun depan akan ditanam lagi di lahan yang sama. Semua tergantung hujan, bisa juga dua hingga tiga tahun lagi baru ditanam lagi. Jadi tergantung hujan juga," jelasnya.

Berbagai upaya untuk memanfaatkan air ini tidak lain untuk memenuhi kecukupan pangan. Dan, menanam jagung merupakan salah satu pilihan untuk mengatasi rawan pangan. "Kan tanam jagung bukan berarti makan jagung, tanam kacang bukan harus makan kacang. Tapi, tanam jagung dan jual jagung untuk beli beras atau tanam kacang untuk nantinya beli beras," jelas Dira Tome.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved