Jangan Salahkan Kader Posyandu Bila Balita Gizi Buruk
Jambore kader posyandu di Kabupaten Manggarai menjadi kesempatan emas bagi kader untuk mencurahkan keluh kesahnya.
POS-KUPANG.COM, RUTENG -- Jambore kader posyandu di Kabupaten Manggarai menjadi kesempatan emas bagi kader untuk mencurahkan keluh kesahnya. Utusan sembilan kecamatan mengaku sering disalahkan tidak berperan aktif bilamana terjadi balita gizi buruk, gizi kurang bahkan sampai kematian bayi dan ibu hamil.
Padahal kader hanya semampunya memberi motivasi kepada keluarga, tidak sampai mencampuri urusan rumah tangga warga di desanya. "Kami telah korban waktu, tenaga dan perasaan. Jangan salahkan kami kalau ada kasus gizi buruk," beber para kader ketika menyampaikan pendapatnya dalam simulasi peran kader posyandu, di Aula Efata Ruteng, Selasa (27/3/2012).
Jambore ini diprakarsai Tim Penggerak PKK Kabupaten Manggarai, BPMD didukung WVI, AIPMNH dan AusAid Manggarai untuk menyeleksi kader terbaik guna mengikuti pertemuan kader di propinsi dan tingkat nasional.
Para kader sering keluar masuk rumah balita yang bermasalah menemukan aneka masalah di dalam rumah tangga. Kesadaran orangtua sangat kurang memperhatikan gizi balitanya. Kebanyakan kaum bapak tak mau tahu urusan gizi dan menyalahkan kaum ibu.
Menjadi kader hanya pekerjaan sosial membantu masyarakat, bukan menjadi tumpuan hidup membantu ekonomi rumah tangga. "Honor kami hanya Rp 30.000/bulan, dibayar enam bulan sekali atau setahun sekali," keluh para kader.
Keluh kesah kader tak cukup dengan waktu sejam lebih. Mereka berebutan minta kesempatan menyampaikan pikiran dan perasaannya.
Bupati Manggarai, Drs. Christian Rotok mengakui insentif Rp 30.000/bulan yang diterima setiap kader posyandu sangat kecil. Karena kemampuan keuangan daerah juga terbatas untuk membayar honor 2.600 kader maka ditempuh menggunakan partisipasi tenaga kader.
"Justru kalau anggaran kita besar, kita akan pakai orang upahan. Kader bukan orang upahan," ujar Chris, didampingi anggota forum komunikasi pemda, Kajari Ruteng, Gembong Priyanto, Kapolres Manggarai, AKBP Pontjo Soediantoko, S.Ik, dan Perwira Penghubung Kodim 1612 Manggarai, Mayor (Inf) Marsel Sudirman, S.H.
Menurut Chris, kasus gizi buruk masih sering terjadi karena pola hidup sosial, ekonomi dan budaya masyarakat Manggarai. Dia membandingkan kesuburan tanah dan alam Manggarai yang sangat menjanjikan, namun masyarakat kurang kreatif memanfaatkanya.
Dikatakannya, pencapaian pembangunan kesehatan Manggarai masih lemah. Sampai Februari 2012 telah terjadi lima kasus angka kematian ibu melahirkan dibanding tahun 2011 sebanyak 11 kasus. Angka kematian balita 77 kasus pada 2011 meningkat lagi menjadi 85 kasus pada bulan Februari 2012.