Kamis, 30 April 2026

Jangan Salahkan Kader Posyandu Bila Balita Gizi Buruk

Jambore kader posyandu di Kabupaten Manggarai menjadi kesempatan emas bagi kader untuk mencurahkan keluh kesahnya.

Tayang:
Editor: Sipri Seko
Laporan Wartawan Pos-Kupang.Com, Egu Mo'a

POS-KUPANG.COM, RUTENG -- Jambore kader posyandu di Kabupaten Manggarai menjadi kesempatan emas bagi kader untuk mencurahkan keluh kesahnya. Utusan sembilan kecamatan mengaku sering disalahkan tidak berperan aktif bilamana terjadi balita gizi buruk, gizi kurang bahkan sampai kematian bayi dan ibu hamil.

Padahal  kader hanya semampunya memberi motivasi kepada  keluarga, tidak sampai mencampuri urusan rumah tangga warga di desanya. "Kami telah korban waktu, tenaga dan perasaan. Jangan salahkan kami kalau ada kasus gizi buruk," beber  para kader ketika menyampaikan  pendapatnya dalam simulasi peran kader posyandu, di Aula Efata Ruteng, Selasa (27/3/2012).

Jambore ini diprakarsai Tim Penggerak PKK Kabupaten Manggarai, BPMD didukung WVI, AIPMNH dan AusAid  Manggarai untuk menyeleksi kader terbaik guna mengikuti  pertemuan kader  di  propinsi dan tingkat nasional.

Para kader sering keluar masuk rumah balita yang  bermasalah menemukan aneka masalah di dalam rumah tangga. Kesadaran orangtua sangat kurang memperhatikan gizi balitanya. Kebanyakan kaum bapak  tak mau  tahu urusan gizi dan  menyalahkan kaum ibu.

Menjadi kader hanya pekerjaan sosial membantu masyarakat, bukan menjadi tumpuan hidup membantu  ekonomi rumah tangga. "Honor kami hanya Rp 30.000/bulan, dibayar enam  bulan sekali atau setahun sekali," keluh para kader.  

Keluh kesah kader tak cukup dengan waktu sejam lebih. Mereka berebutan minta kesempatan menyampaikan pikiran dan perasaannya.

Bupati Manggarai, Drs. Christian Rotok mengakui insentif Rp 30.000/bulan yang diterima setiap kader posyandu sangat kecil. Karena kemampuan keuangan daerah  juga terbatas untuk membayar honor 2.600 kader maka ditempuh menggunakan  partisipasi tenaga kader.

"Justru kalau anggaran kita besar, kita akan pakai orang upahan. Kader bukan orang upahan," ujar Chris,  didampingi  anggota forum komunikasi  pemda, Kajari Ruteng,  Gembong Priyanto, Kapolres Manggarai, AKBP Pontjo Soediantoko, S.Ik, dan Perwira Penghubung Kodim 1612 Manggarai, Mayor (Inf) Marsel Sudirman, S.H.

Menurut Chris, kasus gizi buruk masih sering terjadi   karena pola hidup sosial, ekonomi dan budaya masyarakat Manggarai. Dia membandingkan kesuburan  tanah dan alam Manggarai  yang sangat menjanjikan, namun masyarakat kurang kreatif memanfaatkanya.

Dikatakannya, pencapaian pembangunan kesehatan Manggarai masih lemah. Sampai Februari 2012 telah  terjadi lima kasus angka kematian ibu melahirkan dibanding  tahun 2011 sebanyak 11 kasus.  Angka kematian balita 77 kasus pada 2011 meningkat lagi menjadi 85 kasus pada  bulan Februari 2012.

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved