Rabu, 10 Juni 2026

dr. Bobby Koamesah

Bicara Profesi Dokter Hingga Peternakan

Karena itu, kualitas seorang dokter sangat dibutuhkan dalam memberi pelayanan. Kuantitas pun demikian.

Tayang:
Penulis: maksi_marho | Editor: Sipri Seko
zoom-inlihat foto Bicara Profesi Dokter Hingga Peternakan
Istimewa
dr. Boby Koamesah bersama istri dan anak-anaknya.
PROFESI dokter merupakan profesi yang mulia. Di tangan para dokter nasib seorang pasien dipertaruhkan. Karena itu, kualitas seorang dokter sangat dibutuhkan dalam memberi pelayanan. Kuantitas pun demikian.

Jumlah dokter yang masih kurang di wilayah NTT, terutama dokter spesialis, membuat warga NTT kadang kebingungan bila salah seorang anggota keluarganya menderita penyakit tertentu dan kondisinya semakin parah.

Sekarang ini Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang sudah memiliki Fakultas Kedokteran (FK). Kehadiran fakultas kedokteran ini diharapkan bisa membantu mengatasi kurangnya tenaga dokter di wilayah propinsi Flobamora.

Apa pendapat Dokter Bobby Koamesah, mantan Wadir Pelayanan RSU Prof Dr. WZ Johannes Kupang yang kini menjadi Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran (FK) Undana tentang profesi kedokteran, lika-liku kerja dokter, calon dokter FK Undana dan masalah kedokteran lainnya? Bagaimana pula dengan usaha peternakan babi yang kini digelutinya sebagai usaha sampingan Dokter Bobby? Mengapa juga dokter ini menyukai peternakan?

Berikut petikan perbincangan Pos Kupang dengan Dokter Bobby Koamesah ketika ditemui di kediamannya di Kelurahan Sikumana-Kota Kupang, Minggu (11/3/2012) sore.


Anda pernah menjadi dokter biasa, jadi wakil direktur RSU, jadi pejabat di Dinkes NTT dan sekarang menjadi dosen FK Undana sekaligus menjadi peternak.

Hahaha...saya kira semua profesi itu baik ya. Dokter salah satu dari sekian banyak profesi. Memang keunikan dokter itu karena dia berhubungan dengan orang, menyembuhkan orang sakit. Sebenanrnya panggilan mula-mula itu semacam untuk menolong sesama manusia. Mulia sekali sebenarnya panggilannya. Tapi dalam perkembangannya, akhirnya  ada sebagian kecil dokter yang dia jadi dokter, tetapi tidak berjuang di bidang panggilannya. Misalnya, ada yang jadi manajer, jadi ya seperti di kantor-kantor lah, mengatur pelayanan secara global.  Salah satunya lagi adalah terpanggil menjadi guru supaya mendidik menjadi dokter lagi. Ruang lingkupnya seperti itu.

Jadi selama ini tidak praktik sebagai dokter lagi?

Tidak praktik. Jadi sebenarnya bisa juga praktek sore. Tapi bagi saya, nanti  kasihan juga di rumah. Tidak ada waktu buat di rumah. Kebetulan istri saya juga dokter. Kami putuskan tidak buka praktik supaya ada waktu buat keluarga di rumah. Istri saya konsultan AusAID. Dokter juga. Dia juga kerja dari pagi sampai sore. Jadi jam lima kita usahakan bisa ada waktu untuk anak-anak di rumah.

Kesannya waktu jadi dokter di puskesmas dan di RSU bagaimana?

Kalau puskesmas kan skalanya kecil ya.  Kita lebih banyak berhubungan langsung dengan masyarakat. Memang itu ada suka dukanya, kalau sukanya banyak teman, banyak berhubungan dengan masyarakat. Kalau dukanya ya tugas di daerah terpencil, penghasilannya juga sedikit, ha..ha..ha..ha..ha, iya kan? Sekarang ini begini,  ya kita tidak bisa tutup mata. Fakta bahwa sekolah dokter itu disamping orangnya harus pintar, seperti kita ini kan kita ambil yang lima lulusan terbaik dari tiap sekolah yang lulus rangking satu sampai lima. Yang terbaik-terbaik. Itu pun masih diseleksi lagi, pakai psikotes. Yang kedua kita tidak bisa tutup mata bahwa pendidikan ini mahal.

Banyak juga dokter yang tidak betah di NTT

Sekolah kedokteran mahal. Di NTT ini mungkin salah satu fakultas kedokteran yang paling murah. Itupun yang paling murah dia bisa menghabiskan paling sedikit 300 juta sampai dengan lulus. Jadi investasi yang sudah investasi pengorbanan sekolah yang luar biasa. Pagi sampai sore tambah praktik 24 jam di rumah sakit. Investasi anak terbaik dari keluarganya diinvestasikan. Makanya kita tidak heran banyak dokter yang baik ke NTT terus lari  ya kan fakta begitu. Banyak faktor sih penyebabnya, tapi salah satu faktor ya mungkin faktor ekonomi. Karena dia merasa, kok di sini dia tidak dapat sebanyak yang dia bisa dapat di tempat lain.

Jadi, waktu Anda jadi wadir di RSU Kupang,  banyak dokter-dokter di RSU praktik di luar itu karena faktor ekonomi?

Jadi begini, kebetulan saya belajar, keahlian saya itu manajemen rumah sakit. Saya punya dua bidang manajemen, bidang master yang saya pelajari. Salah satunya adalah manajgemen rumah sakit dan manajemen pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Nah, kalau dokter lari, itu sebenarnya fenomena yang menarik. Pemerintah sering mengeluh.  Sekarang saja kita masih kekurangan banyak dokter. Contoh, ahli anestesi, sudah 60 tahun merdeka kita hanya punya satu dokter anestesi di NTT. Ini di NTT loh, di Flores tidak ada, di daratan Sumba juga tidak ada. Dokter anestesi di NTT hanya ada di Kupang saja. Keahlian-keahlian lain juga kurang. Ahli jantung hanya satu. Jadi banyak sekali kekurangan. Nah, kita melihat ini seakan-akan kalau kurang itu tinggal tunggu orang sekolah terus kalau sudah selesai kirim orang ke sini. Pemerintah mau seperti itu, tapi faktanya tidak semudah itu.  Sekarang ini 40-50 persen dokter terkumpul di Jakarta dan Jawa Barat.

Tapi ada yang sudah diberi beasiswa tapi masih lari?

Ini dilemanya. Kalau anak-anak yang dikasih beasiswa, maka  dia kembali ke sini jadi dokter spesialis di NTT, tapi namanya suplay injustman, kalau ada orang datang ke rumah sakit, saya dokter, saya periksa-periksa. Lalu saya dalam tanda petik bekrja di tempat yang saya tidak sejahtera begitu. Nah bagaimana supaya saya bisa sejahtera? Saya harus bisa menciptakan peluang income baru. Misalnya kita bilang, oh daftar antre di RSU tinggi. Kalau misalnya dia harusnya terima 10 rupiah sama dengan temannya di Surabaya, tapi di sini dia hanya terima dua rupiah ya dia mengurangi beban kerjanya. Dia bilang, oh kamu butuh operasi tapi tunggu dulu antre, belum bisa sekarang operasinya. Jadi harusnya dia bisa operasi satu hari tiga orang, dia buat satu hari satu orang saja. Kan kamu tidak bisa protes? Kamu protes, dia bilang, oh ndak bisa, ini belum lengkap, belum periksa lab, belum ini, belum itu...antre dulu dari sekian ratus orang...tunggu di belakang sana.

Apakah yang demikian tidak bisa ditegur oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI)?

Harusnya bisa, karena itu melanggar kode etik profesi...

Saya pernah cerita dengan seorang dokter. Kata dokter itu, sesama dokter adalah saudara kandung?

Iya, tapi kalau misalnya seperti sekarang ini kasus dugaan malapraktik di sebuah rumah sakit di Kupang, itu kan ramai sekali diperbincangkan. Orang sekarang tidak bodoh. Orang semakin pintar. Banyak sekarang orang baca buku tentang hukum kedokteran, UU praktik kedokteran, UU tentang perlindungan konsumen. Orang belajar itu karena di internet saja gampang dicari. UU rumah sakit, UU tentang standar pelayanan rumah sakit. Rumah sakit harusnya punya standar pelayanan seperti apa orang belajar. Kau bikin di bawah standar pelayanan itu orang akan komplein.  Jadi kalau kebalikan dari injustman itu rejust. Kamu butuh dioperasi,  jadi caranya, mungkin lewat pintu belakang. Kalau kamu mau ke klinik sana kita bisa langsung tangani, di sana dioperasi. Nah,  kalau dirawat di tempat lain tidak ada yang memayungi  seperti perda yang mengatur tentang tarif. Jadi  dia suka-suka saja. Lalu kita berunding, kalau bersedia bayar Rp 20 juta ya saya kerjakan. Kalau tidak bersedia ya pak antri saja. Kan Anda takur, jadi Anda tetap pada posisi yang lemah. Makanya, tadi saya bilang, kalau dia tidak sejahtera, korban adalah pasien. Ujung-ujungnya seperti itu. Jadi sebenarnya kalau pemerintah tidak mensejahterakan mereka nanti korbannya ya pasien.

Sekarang ini Undana sudah punya Fakultas Kedokteran. Apa dengan begitu diharapkan bisa diselesaikan persoalan-persoalan seperti ini?

Sebagian, saya tidak jamin juga. Kalau sudah masuk di perilaku begitu, susah juga. Sekarang begini, kita didik mereka, kita beri motivasi mereka. Ada yang pemerintah daerah ikat mereka dengan beasiswa lalu mereka harus bekerja di NTT.  Misalnya dia ditempatkan di Ende, di sana dia tidak mendapatkan sesuatu yang ya kira-kira bisa mensejahterakan dia. Dia akan melakukan perilaku seperti yang tadi saya cerita, bisa ke Kutub Selatan, bisa ke Kutub Utara. Misalnya Anda punya anak, sudah  investasi pengorbanan sekolah tujuh tahun, anak terbaik dari keluarga disekolahkan tujuh tahun, uang sudah habis-habisan ratusan juta, apalagi kalau spesialis, mugkin uang bisa keluar bahkan hampir satu miliar rupiah ya mendekati 600-700 juta karena sekolah itu harus dibayar lagi. Nah, lalu uang ini mau kembali modal atau tidak? Masa anaknya sejajar dengan gaji golongan 3A, dua juta koma sekian. Berapa ratus tahun dia harus investasi untuk kembalikan modalnya? Memang mahal. Pemerintah yang tidak tahu saja bahwa pelayanan kesehatan itu mahal.

Di NTT alasan  banyak pasien jamkesmas. Apakah perhitungan di jamkesmas tidak bisa membantu menjawab kebutuhan dokter?

Jamkesmas bagaimana? Berapa minggu lalu saja saya baca di Pos Kupang, jamkesmas saja tidak bisa terserap. Kita sudah dikasih uang sama pemerintah pusat, tapi tak bisa diserap karena SDM kita memang tidak mampu mengelola, memanege uang sebanyak itu dalam ketepatan waku. Kan jamkesmas itu uang tersedia, tapi harus dipakai sesuai ketentuan yang berlaku. Bukan cuma jamkesmas, ada juga jampersal. Orang melahirkan semua dibawa ke fasilitas kesehatan gratis. Banyak kabupaten penyerapan jampersalnya nol persen. Uang ada tapi kita tidak bisa pakai, di mana kesalahannya? Ya, orangnya yang mengelola.

Bagaimana Anda melihat animo anak muda  NTT ke sekolah kedokteran?

Banyak. Sekarang kalau tes di Undana, minat paling tinggi calon mahasiswa kan di kedokteran. Masuk pertama tidak terlalu mahal. Mungkin Rp 50-an juta. Saya tidak tahu pasti sekarang. Tapi kalau dibanding pendidikan kedokteran di Jawa, kita di Undana masih tergolong murah. Kalau di Undana, untungnya anak-anak kita bisa tinggal bersama keluarga atau orangtua.

Bagaimana dengan kualitas pendidikan?

Kalau pengetahuan saya kira hampir sama, karena yang namanya pendidikan dokter ini ada yang namanya standar pendidikan kedokteran Indonesia. Kamu sekolah di universitas mana saja, nanti harus diuji dengan standar itu. Kalau tidak lulus ya tetap tidak lulus. Jadi tidak main-main. Sekarang ini kita masih baru, tapi dosen kita sudah 26 orang. Tapi ada 14 yang sekolah. Sekarang ini kita masih kerja sama, partnership dengan Unhas (Universitas Hasanuddin) Makassar. 80 dosen itu dari Unhas. Tiap hari ada dosen terbang yang datang ke sini untuk mengajar. Dan, penilaian semua diberikan oleh Unhas. Kita hanya memfasilitasi mereka saja. Hanya beberapa yang kita beri penilaian. Jadi yang datang itu profesor, doktor, profesor. Jadi tidak sembarang. Kalau tidak begitu, maka kita tidak boleh buka fakultas kedokteran. Semua nama pengajar itu. Spesialisasinya apa, kalau yang mengajar tidak jelas ya tidak boleh. Kita bekerja sama dengan Unhas dan itu kita bayar mahal itu.

Anda juga peternak ya? Sebenarnya usaha ternak ini sekedar usaha sampingan, hobi atau...?

Hahahaha....Kalau soal usaha ternak ini ceritanya panjang. Baru-baru ini saya dapat penghargaan dari Forum Akademia NTT (menunjukan penghargaan). Ini penghargaan dalam bidang kewirausahaan. Setahun sekali Forum Akademia NTT memberi penghargaan kepada orang NTT yang berprestasi. Saya sebenarnya memulai usaha ternak dari hobi. Mari kita melihat tempat produksi pakan ternak di belakang. Saya mulai dari hobi tapi kemudian terus berkembang seperti ini.  Tapi sebenarnya yang mendorong saya untuk menjadi begini adalah karena ada rasa prihatin. Prihatiannya begini: Pemimpin-pemimpin kita di NTT ini sering bicara, NTT dulu gudang ternak tapi sekarng tinggal gudang. Kita ini dulu terkenal sapi-sapi kita, sekarang sapi kita tidak lebih besar dari kambing, babi juga begitu. Kita punya babi kampung ini kalau orang bule datang lihat sama dengan tikus.



Begitu ya...?

Nanti kalau sempat kita bisa lihat babi saya. Saya punya babi besar-besar, babi ras, babi pedaging. Saya coba pelihara dengan teknologi yang baik. Dan, kita ini begini pak, kita ini masih punya mental terjajah. Coba bayangkan, kita ini selama sekian puluh tahun usaha peternakan kita selalu bergantung dari luar. Bibitnya dari luar, makannya dari luar. Sampai sekarang. Jadi bagaimana kita bisa berjaya mengembangkan industri peternakan kalau kita masih bergantung dari luar? Nanti bisa lihat, lagi sedikit peternak kita akan menangis karena harga sudah mulai naik dan begitu harga minyak (BBM) naik, biaya ternak  akan naik lebih tinggi lagi.

Bahan makanan ternaknya diambil dari mana?

Bahan lokal, tapi ada juga yang karena tidak ada di sini jadi kita datangkan dari Makassar dan Surabaya. Prinsip saya begini, gizi ternak itu kan mirip dengan gizi yang dipelajari di ilmu kedokteran. Hitung kebutuhan gizinya. Kita bisa merancang dia punya komponen-komponen gizi makanan yang dibutuhkan. Hitungannya, babi umur sekian kebutuhan gizinya berapa, umur sekian lagi berapa. Lalu saya coba buat dan pakai sebanyak mungkin bahan lokal. Tapi sekarang ini walaupun kita propaganda propinsi jagung, tapi baru sekarang jagung di Kota Kupang mencapai harga Rp 7 ribu perkilogram. Jadi jagung ini saya datangkan dari Surabaya dan dari Makassar. Usaha peternakan babi saya ini sudah mendapat kunjungan dari orang Australia dan orang luar negeri lainnya. Mereka katakan usaha ternak saya ini sudah sama dengan usaha peternakan di luar negeri. Prinsip-prinsipnya sudah sama.

Berapa jumlah ternak sekarang  dan bagaimana dengan bibitnya?

Sudah 300 ekor. Bibitnya kita masih pakai sistem kawin suntik. Kunci usaha peternakan itu, pertama dari bibitnya, kedua dari pakan, dan ketiga dari manajemen kandang. Kalau dari bibitnya tidak bagus, kau biar berkorban berapa banyak pakan pun tidak akan jadi. Kita punya ini sudah coba, dengan bibit yang bagus, dalam waktu lima bulan beratnya sudah mencapai 100 kilogram.

Jualnya berapa?

Saya masih konsentrasi jual anakan. Tapi sudah mulai uji coba untuk penggemukan karena mulai produksi pakan sendiri. Belum kami pasarkan secara komersial. Mimpi saya adalah membebaskan peternak NTT dari penjajahan secara tidak langsung oleh produsen peternakan besar. Selama kita tidak bebas, pemerintah omong itu bagi saya nonsens. Tidak masuk akal. Kalau gubernur omong, mestinya dinas-dinas itu langsung bergerak. Ini tidak demikian.Gubernur bicara tapi stafnya diam saja. (maksi marho)

 
Pintar Beternak


BANYAK
dokter buka klinik, buka praktik untuk melayani pasien. Tapi berbeda dengan Dokter Bobby Koamesah. Meski istrinya juga seorang dokter, namun ia dan istrinya, dokter Idawati Trisno, tidak buka praktik ataupun mendirikan klinik sendiri. Yang terjadi saat ini justru Dokter Bobby Koamesah memiliki usaha peternakan babi. Bahkan, saat ini ternak babinya telah berjumlah 300 ekor dan telah mampu memproduksi sendiri pakan ternaknya.
Ternyata, selain pintar ilmu kesehatan atau kedokteran, Dokter Bobby Koamesah juga pintar beternak. Pengetahuannya tentang usaha budidaya ternak pun tidak kalah dengan ahli peternakan atau kedokteran hewan dan sarjana peternakan. Bicara praktek beternak babi apalagi, pasti dokter Boby lebih pintar dari seorang sarjana peternakan. "NTT dulu gudang ternak tapi sekarang tinggal gudang. Kita ini dulu terkenal sapi-sapi kita. Sekarang sapi kita tidak lebih besar dari kambing. Babi juga begitu. Kita punya babi kampung ini kalau orang bule datang lihat sama dengan tikus," kata Dokter Bobby Koamesah ketika ditemui di kediamannya, Minggu (11/3/2012) sore.
Dokter Bobby merintis usaha ternak babi miliknya sejak tiga tahun lalu. Tetapi ternyata usahanya terus berkembang. Pengetahuannya sebagai dokter yang mengerti tentang obat, ilmu gizi dan lainnya menjadi dasar yang kuat untuk belajar tentang usaha ternak babi. Tidak sedikit pula buku-buku pengetahuan tentang beternak babi dibeli dan dibacanya supaya lebih memahami bagaimana beternak itu bisa berhasil.
Apalagi, antara ternak dan manusia memiliki beberapa kemiripan sehingga memudahkannya memahami. Ketika diwawancarai wartawan Pos Kupang pun, ayah empat anak ini langsung mengajak wartawan Pos Kupang melihat langsung tempat produksi pakan ternak miliknya. Hal itu supaya apa yang diceritakannya bisa langsung dilihat wartawan.
Di dalam gudang pakannya, ada tumpukan karung berisi makanan ternak. Produksi makanan ternak di gudang itu sehari-hari dilakukan empat orang pekerja. Bahan dasar untuk memproduksi makanan ternak yang berbentuk pelet itu adalah bahan lokal seperti jagung dan sebagainya. Pakan ternak itu diproduksi menggunakan sebuah mesin yang tampak berdiri kokoh di dalam gudang seluas kira-kira 10 X 15 meter. "Hari ini hari Minggu, jadi tenaga kerja tidak masuk. Banyak orang termasuk dosen peternakan sudah sampai ke tempat ini. Teori tentang ilmu peternakan mungkin mereka lebih tahu, tetapi kalau mau omong praktiknya pelihara ternak belum tentu," katanya.
Master bidang manajemen kesehatan ini bahkan telah melatih para tenaga kerjanya tentang bagaimana menolong ternak babi yang bersalin atau melahirkan, bagaimana mengukur kadar gizi bahan yang diolah menjadi makanan ternak. "Ilmu ini kan bisa dipelajari. Apalagi dasar pengetahuan tentang kedokteran sudah ada. Ternak babi itu adalah binatang monogastrik. Sistem pencernaannya tidak jauh beda dengan manusia," kata suami dari dokter Idawati Trisno ini.
Dokter Bobby lahir dan besar di Kupang. Setelah menamatkan pendidikan di SMA Negeri I Kupang, ia lalu melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Di kampus FK Universitas Brawijaya Malang inilah, Dokter Bobby bertemu dengan dokter adik semesternya bernama Dokter Idawati Trisno, yang kini sudah menjadi istrinya.  
Kini pasangan dokter ini sudah memiliki empat orang anak, tapi anak mereka yang pertama justru masuk jurusan teknik di sebuah universitas di Pulau Jawa. Belum ada yang mengikuti jejak kedua orangtua mereka untuk menjadi dokter.
Kini, Dokter Bobby Koamesah telah menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Undana dan ikut bertanggung jawab terhadap lahirnya dokter yang memiliki integritas tinggi. Sehingga nantinya diharapkan bisa memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat di wilayah NTT.
Sementara istrinya, Dokter Idawati Trisno adalah senior consultant kesehatan di LSM internasional AusAID. Dalam keseharian, mereka memang tergolong orang yang sibuk karena memiliki pekerjaan yang menumpuk. Karena itulah, keduanya memilih untuk tidak membuka praktek dokter pada sore atau malam hari. Dengan harapan sepulang dari kerja, mereka bisa bergabung dengan anak-anak di rumah. (mar)


Data Diri

Nama : Dokter Bobby Koamesah
TTL : Kupang, 16 Oktober 1961
Istri : Dokter Idawati Trisno
Anak : Yosua Timoti Koamesah (kuliah Fakultas Teknik)
            David Stefen Koamesah (SMA Negeri I Kupang)
            Jeremy Mudi Koamesah (SMP)
            Grace Tesabela Koamesah (SD)

Pendidikan  dan Karir :
- SMA Negeri I Kupang
- Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang
- Dokter di Puskesmas Oesao
- Lanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran UGM
- Jadi dokter di RSUD Ruteng-Manggarai
- Pindah ke Kupang jadi Wadir Pelayanan RSU Prof. Dr. WZ Johannes Kupang
- Kasubdin Penanganan penyakit menular Dinkes Propinsi NTT
- Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran (FK) Undana sampai sekarang

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved