Jumat, 24 April 2026

Danrem 161 wirasakti Kupang

Kolonel Inf Edison Napitupulu : Ekonomi, Ukuran Keamanan NTT

NUSA Tenggara Timur (NTT) bukan tempat baru bagi Kolonel (Inf) Edison Napitupulu. Bertugas selama 11 tahun di Timor Timur merupakan waktu yang tidak sedikit untuk mengenal bumi Flobamora. Hampir semua aspek kehidupan sosial ekonomi menjadi perhatian dari Edison yang kini menjabat Komandan Korem 161 Wirasakti Kupang.

NUSA Tenggara Timur (NTT) bukan tempat baru bagi Kolonel (Inf) Edison Napitupulu. Bertugas selama 11 tahun di Timor Timur merupakan waktu yang tidak sedikit untuk mengenal bumi Flobamora. Hampir semua aspek kehidupan sosial ekonomi menjadi perhatian dari Edison yang kini menjabat Komandan Korem 161 Wirasakti Kupang.

Menurutnya, pada saat datang ke Kupang sekitar tahun 1993, Kupang terasa sepi. Demikian pula sepanjang jalan Dili - Kupang, tidak banyak kendaraan yang ditemui. Keadaan tidak jauh berbeda dengan tahun 2000 saat ia datang ke Kupang.
Namun, saat kembali ke Kupang tahun 2011, ia merasakan perubahan yang luar biasa di Kupang dan NTT pada umumnya.

Edison yang ditemui di Makorem 161 Wirasakti Kupang mengatakan, Kupang dan NTT berkembang sangat pesat. Hal ini bisa dilihat dari jumlah penumpang pesawat udara yang rata-rata full, baik yang datang maupun yang berangkat. Selain itu makapai penerbangan yang banyak mengindikasikan kemajuan dan prospek yang baik di NTT. Dari sisi keamanan, katanya, fakta ini menunjukkan keamanan di Kupang dan NTT sangatlah baik.

Dalam perbincangan dengan Pos Kupang, Kolonel Edison juga banyak menjelaskan upaya prajurit TNI dalam mengawal perbatasan sekaligus membaur dengan warga di perbatasan.  Berikut petikan perbincangannya dengan Pos Kupang.

Bagaimana situasi perbatasan antara NTT dan Timor Leste?
Secara umum keamanan di wilayah NTT  termasuk di perbatasan sangat bagus, dinamika kehidupan masyarakat berjalan lancar, meskipun belum lama ini terjadi insiden di daerah masyarakat kita di Haumeni Ana dan Oekusi. Tapi itu sudah terjadi perdamaian yang cukup bagus dan puncaknya Natal Bersama.

Prajurit TNI saat ini sedang menjalankan tugas di wilayah perbatasan. Dalam situasi seperti saat ini, apa yang mereka lakukan?
Pasukan kita memang ada di perbatasaan. Yang kita lakukan di  perbatasan itu seperti di Oepoli, mereka panen padi bersama dengan masyarakat. Prajurit ini yang membeli bibit dan masyarakat yang menanam. Kemudian di TTU tanam bawang dan di Belu masyarakat berkebun dan beternak. Ada yang beternak ikan lele. Banyak yang dikerjakan bersama-sama dengan masyarakat.

Kalau begitu komunikasi dengan masyarakat baik
Betul, berkomunikasi dengan masyarakat supaya mengurangi adanya penyelundupan barang dari wilayah kita ke wilayah sebelah.

Memangnya masih ada penyelundapan?
Kemarin yang kita tangkap ada berapa itu. Tahun 2011 saja ada yang kita sita kalau digabungkan sekitar 11 ribu liter. Belum lama ini juga ada 150 liter yang kita amankan, jadi dalam beberapa minggu ada sekitar 500 liter (BBM). Kita amankan barangnya, tapi pelakunya melarikan diri ke seberang (Timor Leste). Kalau sudah begitu ya, kita tidak bisa berbuat apa-apa,  karena kita menghindari adanya letusan, ya itu banyak.

Kalau penyelundup dan barangnya bagaimana proses hukumnya? Sampai kapan ini bisa berhenti?

Bulan 11 tahun 2011 itu, yang ditangkap dengan masyarakatnya itu langsung diserahkan ke kepolisian untuk diproses lebih lanjut. Penyelundupan itu sudah berhenti, tapi masih ada atau tidak saya tidak bisa menjamin berhenti. Situasi itu masih tetap ada karena kondisi ekonomi juga. Selundupnya juga tidak banyak, sedikit-sedikit sekitar 170 liter, 200 liter. Tidak besar memang, tapi tetap jalan.  Tapi biar sedikit-sedikit, kalau terkumpul banyak juga. Tahun 2011 lalu kita berhasil kumpulkan mencapai 11 ribu liter.

Apakah ada upaya TNI agar masyarakat di perbatasan tidak menyelundup lagi?
Ada, kita lakukan penyuluhan  bersama dengan polisi di perbatasan. Tapi, tidak itu saja. Solusi lainnya yaitu berkebun, beternak untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan membuat mereka sadar. Kita membangun Koperasi Unit Desa supaya kesejahteraan masyarakat ini meningkat sehingga tidak ada lagi penyelundupan.

Saat ini TNI dan Polri harus sinergi  dalam menghadapi kerusuhan dan teror. Bagaimana di NTT?
Sudah ada kerja sama kita. Saat kejadian di Flores Timur itu kita bersama-sama bisa mencegah pertikaian dua kelompok itu, kemudian di Lembor, saya lapor juga Kapolda NTT sehingga unjuk rasa itu bisa reda. Jadi kerja sama dengan polisi lah. Ada banyak kerja sama itu. Kapolda sekarang juga mengajak kerja sama.

Kalau dulu situasinya polisi meminta TNI baru TNI membantu, bagaimana sekarang?
Kalau sekarang kita bersamaan apabila ada situasi yang memang harus kita ada di sana. Tidak musti menunggu mereka minta. Sekarang sebelum muncul juga sudah kita cegah sehingga situasi seperti itu tidak banyak melebar dan meluas.
 
Apa tugas utama pasukan di perbatasan?
Tugasnya adalah menjaga kedaulatan, artinya melaksanakan patroli, melaksanakan pengecekan patok-patok batas itu sehingga jangan sampai patok-patok itu bergeser. Kalau ada patok yang rusak ya, kita perbaiki. Kemarin kita telah memperbaiki 50 patok yang rusak, kita memperbaiki sendiri atas inisiatif sendiri.

Apakah patok-patok di berbatasan itu sudah final semuanya?
Belum final. Jadi patok yang ada ini masih kurang. Diperlukan masih banyak patok. Nanti Bakorstanal bersama Barkostanal di sana menentukan patok-patok itu. Setelah jadi baru kita amankan, jangan sampai bergeser atau hilang/rusak.

Terkait dengan dinamika politik Timor Leste. Apa antisipasi kita agar akibatnya jangan sampai ke wilayah kita?
Tidak ada antisipasi, artinya kira harus siaga itu tidak. Kalau yang selama ini kita monitor biasa-biasa saja, sama seperti di sini juga, tidak merupakan masalah serius yang harus kita hadapi khusus, penanganan khusus. Tidak.  Jadi tidak ada kekhawatiran buat kita.  Kita koordinasi dengan satuan-satuan perbatasan. Kita saling menginformasikan. Selama ini bagus, jadi tidak ada hal khusus.

Tentang fasilitas di pebetasan. Kelihatannya fasilitas TNI di perbatasan masih minim.
Fasilitas kita saat ini sudah bagus dan layak. Saya sudah perintahkan untuk terus dipelihara, jangan sampai ambruk bangunan-bangunan itu. Baru saja dari Kementerian Pertahanan dalam rangka meninjau pos-pos mana yang perlu direhab atau diperbaiki. Jadi menurut saya, pos yang ada ini sudah jauh lebih bagus dibandingkan saat saya masih letnan. Zamannya saya,  kita ngepos itu pakai bambu, alang-alang. Kalau kondisi sekarang sudah jauh lebih bagus dan sudah sangat layak kalau dibandingkan dengan ketika saya letnan. Kalau dulu masak pakai kayu bakar, sekarang sudah pakai kompor.

Secara psikologis, bagaimana upaya pimpinan TNI terhadap anggota di pos-pos terpencil agar mereka tidak merasa tertekan dalam tugas yang bisa berdampak pada perbuatan yang tidak diharapkan?

Iya betul itu. Dulu masa penugasan anggota di perbatasan itu sampai satu tahun, sekarang tugas hanya enam bulan. Jadi tidak ada alasan untuk stres. Kedua, sebelum anggota ini melaksanakan penugasan, mereka mengikuti pratugas. Selama masa itu, mereka diseleksi secara psikologis. Nah selama pra tugas, saya sudah sampaikan kepada Dan Satgas agar membuat program kerja selama enam bulan ini selama dia bertugas. Programnya menyangkut perbatasan seperti patroli dalam seminggu beberapa kali, kemudian kegiatan dalam masyarakat. Waktu anggota ini tidur delapan jam, nah sisa 16 jam itu mau buat apa? Ini sudah diatur kegiatannya. Sisa 16 jam itu harus dibagi, katakanlah anggota laksanakan patroli dua jam hingga empat jam, maka ada 12 jam lagi waktu, ini kegiatannya apa. Ini harus sudah ada sasaran-sasaran yang harus dia kerjakan, sehingga tidak ada prajurit yang melamun yang bisa membuat dia stress. Setiap waktu itu harus terisi. Selain itu, kita juga membuat pembinaan  mental. Beberapa waktu lalu kita kirim Alkitab dan Mada Bakti di setiap pos, sehingga di setiap pos itu ada kegiatan agama. Jadi bikin kegiatan itu padat, jangan sampai longgar.

Ada juga anggota TNI yang masih berusia muda. Terkadang jiwa muda mereka menyebabkan terjadi perselisihan dengan warga. Bagaimana mengatasi hal ini?
Saya pernah bertugas di derah-daerah operasi sehingga pada awal saya betugas di sini,  saya harapkan mereka bisa selami dulu penderitaan masyarakat. Dia (prajurit) harus sadar bahwa masyarakat kondisinya bagaimana, jangan dia merasa seperti warga negara kelas I sehingga merasa dirinya hebat. Tapi ada warga masyarakat yang penghasilannya di bawah dia (prajurit). Dia (anggota TNI) mestinya bersyukur, sehingga dia ke masyarakat, selami kehidupan masyarakat dengan bercocok tanam. Saya perintahkan agar setiap pos itu ada karyanya. Umpamanya dia yang masih muda itu dia bersama masyarakat bekerja. Dengan begitu dia akan memahami kondisi masyarakat. Seharusnya mereka bersyukur karena sudah mendapat gaji dari negara.

Bagaimana agar anggota tidak melakukan perbuatan asusila di masyarakat?

Ya, pertama pengawasan unsur pimpinan, apa pun yang dilakukan oleh prajurit seandainya melakukan pelanggaran maka saya akan minta pertanggungjawaban pimpinannya. Selain itu, pembinaan mental di pos-pos itu harus jalan. Bagaimana dia meningkatkan keimanan terus ajak tokoh agama di sana, itulah upaya maksimal yang kita buat untuk keimanan prajurit ini dipertebal. Ada kegiatan-kegiatan agama di desa-desa. Karena itu saya sampaikan (kepada Komandan Pos), semakin banyak pelanggaran yang dilakukan pos ituka itu merupakan tolok ukur kegagalan melaksanakan tugas teritorial di wilayahnya.

Selain di diperbatasan, ada juga Kodim. Bagaimana dengan tugas-tugas Kodim ini?
Beberapa waktu lalu di Manggarai itu ada abrasi pantai sampai 500 meter. Nah anggota Kodim di sana membantu masyarakat bagaimana membuat beronjong untuk menghadapi ombak. Kemudian di Labuan Bajo ada kios terbakar, ya anggota kita ikut membantu mengevakuasi barang. Kemudian di perbatasan, di Napan itu ada puskesmas terbakar, anggota kita menyiapkan tenda membantu pembersihan terus. Di Sumba itu ada yang membuat sawah dan menanam padi sebanyak-banyaknya di Sumba Tengah itu, kemudian bakti TNI membuat embung di Kodim TTS, ada tiga embung yang dibuat di sana. Jadi banyaklah yang bersifat pertanian, peternakan. Saya wajibkan semua itu harus ada. Jadi saya harus buat pencanangan di sana. Seperti kita membuat embung, saya lapor pak Gubernur bahwa kami mau buat program ini di masyarakat. Jadi yang berkaitan dengan masyarakat, saya lapor pak gubernur.

Di Kodim Sikka ada paduan suara...
Ya apa pun kita lakukan untuk pembinaan generasi muda, macam-macam yang kita lakukan  untuk mencegah terjadinya mabuk-mabukan, kebut-kebutan. Itu semua merupakan pembinaan di wilayahnya masing-masing.

Batas darat kita dengan Timor Leste pernah dijaga tiga batalyon. Tapi sekarang hanya satu batalyon, apakah ini cukup?
Cukup, anggarannya begitu kok.  Ya, kita dulu pada awal- awalnya di mana proses pengungsian, terjadi suati gejolak- gejolak yang membutuhkan kekuatan, tapi sekarangkan tidak karena sudah damai, jadi sudah enak, tidak perlu banyak pasukan.  Idealnya setiap beberapa meter ada yang jaga, atau istilahnya mana yang kita duduki mana yang kita awasi sehingga masih bisa terkaver semua.  Kalau kita bangun hubungan yang baik, maka situasi akan aman-aman saja.

Terkait pemekaran wilayah. Sekarang di NTT sudah ada 21 kabupaten/kota. Apakah akan ada penamabahan Kodim?
Kita mengembangkan satu organisasi dari aspek pertahanan, bukan dari aspek hukum. Kalau ditinjau dari aspek hukum, maka itu wajib harus ada, yaitu menambah kabupaten, maka tambah satu organisasi. Tapi, kita bukan pendekatan hukum, kita pendekatan pertahanan. Kalau Rote Ndao, karena di sana ada pulau terluar atau ada Pulau Ndana Rote, maka harus ada kodim, itu dari aspek pertahanan.  Selama ini sudah ada Koramil. Untuk di Rote ini tanah untuk Kodim sudah ada. Rencanannya tahun ini mau dibangun, kalau sudah dibangun maka personel di isi dan pejabat di sini baru dinyatakan. Anggarannya sudah disetujui dan sudah ada, nanti dari Kodam yang akan bangun itu sekalian dengan asrmanya. Kalau di Sabu, tetap dengan Koramil, tapi bagian dari Kodim Rote Ndao. Setelah Kodim Rote Ndao hadir, maka Koramil Sabu masuk ke Kodim Rote. Selama ini masih di Kodim Kupang.

NTT berada  di perbatasan antara Australia dan Timor Leste. Bagaimana Anda melihat dinamika politik dan keamanan di wilayah ini?

Ya, saya pernah datang tahun 1993 sewaktu dari Timor Timur ke sini dan tahun 2000. Kalau dibandingkan dengan sekarang, wah  saya melihat jauh sekali perbedaannya. Tahun 1993, saya jalan darat dari Dili ke sini, suasana sepi di sepanjang jalan, tapi sekarang sudah ramai. Tahun 2000 banyak pengungsian.

Apa yang Anda lihat tentang kemajuan NTT?
Saya kasih contoh saja di penumpang pesawat. Dulu hanya ada
berapa pesawat yang masuk ke Kupang, seperti Merparti dan Sempati,  penumpangnya ya itu-itu saja. Sedikit dari Dili kemudian transit di Kupang atau dari Bali transit di Kupang. Penumpangnya ya, itu saja. Tapi sekarang saya lihat wah, penumpang full bukan main. Berarti terjadi suatu peningkatan di masyarakat, perekonomian makin meningkat, jadi bagus ya. Kenapa demikian? Ya, karena ada rasa aman, kekhawatiran orang ke sini itu tidak ada. Saya berpikir demikian, yaitu kekhawatiran untuk berusaha itu tidak ada. Ada orang datang ke suatu daerah mau berusaha selalu mempertimbangkan aspek keamanan, tapi ke Kupang atau ke NTT sama sekali tidak ada kekhawatiran untuk berusaha.

Aktivitas ekonomi juga dilihat dari bandara. Bagaimana Anda melihat Bandara El Tari?
Saya jam 6 pagi ke bandara itu sudah ada 10 pesawat sudah parkir di situ, dua berbadan besar dan yang lainnya kecil-kecil delapan. Aktivitas itu lancar. Tiket dengan harga yang mahal telah mampu dibeli masyarakat, artinya ekonomi di sini sudah lancar. Jadi ramai karena berusaha, dia bisa naik pesawat ke daerah-daerah dengan tiket yang cukup mahal, berarti uang ada untuk membayar. Orang datang ke sini tidak ragu dan masyarakat sini juga cukup bersahabat. Terus di sini juga sudah banyak sekali rumah makannya, apalagi hotel. Beda sekali, dulu saya datang hanya Hotel Sasando, Kristal dan hotel-hotel kecil. Sekarang juga tempat pesta sudah banyak. (alfred dama)


Dijalani dan Menikmati Tugas

MENJADI prajurit TNI bukan menjadi pilihan utama bagi Edison Napitupulu. Namun setelah menjadi seorang anggota TNI, ayah tiga anak ini pun merasa menemukan dunianya dan dengan senang hati menjalankan tugas-tugas sebagai abdi negara.

Ia mengisahkan, setelah tamat SMA, pilihannya ingin menjadi dokter dengan mengikuti seleksi calon mahasiswa kedokteran di Jakarta, namun upaya ini gagal. Ia pun memilih ikut test calon pilot Garuda, namun upaya ini  tidak membuahkan hasil. Namun, saat mengikuti test masuk Akademi Angkatan

Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Ia pun langsung lulus.  "Saya ikut seleksi ke Fakultas Kedokteran tidak lulus, kemudian saya ke test pilot di Garuda juga tidak masuk. Tapi ke AKABRI lulus. Di AKABRI seleksi kesehatannya ketat sekali, tapi saya bisa masuk. Yang di Pilot kok tidak masuk. Dan sudah masuk ya, ditekuni dan kita senang itu," jelasnya.

Menjalani hari-hari awal sebagai Taruna AKABRI sangat tidak menyenangkan baginya. Latihan yang berat serta intsruktur yang keras membuatnya sempat berpikir untuk pulang rumah. Namun, tekad yang kuat membuatnya mampu melewati masa basis tiga bulan dan selanjutnya ia menjalani pendidikan selama empat tahun dengan senang dan bangga. "Begitu dikatakan lulus, lihat pelatih galak ya, kita syok dan stres juga. Setelah tiga bulan baru terbiasa," jelasnya.

Setelah lulus taruna, Edison Napitupulu langsung ditempatkan di Kodam IX Udayana. "Waktu lulus taruna, kita tidak tahu apa itu Kostrad, Kopassus, Kodam. Lulus jadi letnan saya kebetulan dapat di Kodam IX Udayana di Bali. Sampai di Bali kita diterima oleh Pak Wismoyo tahun 1985. Kata Pak Wismoyo, kamu tidak ada yang di kota, kamu 12 orang harus ke Timtim," jelasnya. (alf)


Data Diri
Nama    :  Edison Napitupulu
Pangkat  : Kolonel (Inf)
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 10 Desember 1959
Jabatan   : Komandan Korem 161 Wirasakti Kupang

Istri    : Sandra Br. Simanjuntak
Anak   : Kartika Yolanda
              Kalvin Marpaho
               Karina Paramitha
Jabatan: 
Danton  Yonif 744       1985
Danton 2 Kipan C Yonif 755       1985-1986
Dan Kipan    A Yonif 744/SYB    1990-1992
Wadanyon 744/SYB                     1993-1995
Wadan Deniintel Kostrad                1996
Dan Yonif 323/13/I Kostrad             1999-2000
As Intel Kodam I/Bukit Barisan         2005-2007
Danrem 161 Wirasakti                        2011 - sekarang

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved