Sabtu, 2 Mei 2026

Rindu Sumba

TAUFIK Ismail seorang penyair kenamaan Tanah Air menulis puisi yang sangat indah tentang Sumba. Sebuah kalimat mengesankan ditulisnya untuk Umbu di bawah judul Beri Daku Sumba.

Tayang:

Oleh Maria Matildis Banda

TAUFIK Ismail  seorang penyair kenamaan Tanah Air menulis puisi yang sangat indah tentang Sumba. Sebuah kalimat mengesankan ditulisnya untuk Umbu di bawah judul   Beri Daku Sumba.

“Di Uzbezkistan ada padang-padang terbuka. Aneh aku jadi teringat pada Umbu”. Mungkin, yang dimaksudkan Taufik adalah Umbu Landu Paranggi penyair kenamaan asal Sumba, sahabat karibnya dalam bersyair. Yang pasti, Beri Daku Sumba ditujukan buat Umbu di Sumba. Semua Umbu serta sanak saudaranya jauh maupun dekat dalam satu Sumba, pulau dengan seribu ekor kuda.

***“

Jadi ini puisi yang mau kamu kirimkan ke Sumba?”  “Ya. Beri Daku Sumba ... Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka. Dimana matahari membusur api di atas sana. Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka. Dimana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga... Indah sekali bukan? Kalau saja orang-orang Sumba dapat memetik makna puisi ini...” Nona Mia menjelaskan dengan sangat serius.

“Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda. Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh... Sungguh luar biasa pilihan kata ini. Kalau saja orang Sumba mengerti betapa indah dan penuh berkatnya tanah leluhurnya. Kalau saja para peserta perang tanding bisa mengerti makna...”
“Memetik makna apa memetik parang?” Sambung Rara dengan enteng sambil tertawa terbahak-bahak.

“Aku serius!”

“Serius dengan dendam, perebutan tanah, angkat parang, dan bakar. Mana ada waktu buat memetik makna puisi? Susah amat mengerti apa yang kamu pikirkan, Nona Mia. Jaman sekarang ini jamannya hajar turut emosi berkedok apa saja!”
“Apa maksudmu!”

“Dimana-mana, tidak hanya Sumba! Pokoknya apa-apa marah. Dari yang dasi melintang sampai yang tidak pernah pakai dasi sama saja. Marah balas marah, dendam balas dendam. Dari pejabat yang paling besar sampai dengan pejabat yang paling keciiiil, semuanya baku ambil,” Rara menjentikkan ujung jempol dan telunjuknya. “Parang balas parang, caci maki balas caci maki, musuh balas musuh, curiga balas curiga, benar-benar menakutkan! Jadi, lebih baik kamu diam-diam saja. Tidak perlu repot kirim puisi. Tidak bakal mempan...”

“Betul Nona Mia, lupakan saja rencanamu,”sambung Jaki. “Sumba itu berdarah darah dan air mata. Puisi tidak dapat menyembuhkan mereka.”
“Tetapi pilihan kata ini bukankah bisa menyentuh jiwa...”

“Aduh! Sayangku Nona Mia...jangan ngelindur, jangan mimpi.”Rara memperkuat pen-dapat Jaki. “Biar saja perang tanding terus. Biar terkenal itu Sumba ke seantero jagat menjadi raja perang tanding. Perang tanding terus dari waktu ke waktu tidak mampu disetop bukan? Perang lagi, perang lagi. Bukan kuda Sumba dan pasola yang perlu dikenang tentang Sumba tetapi perang tanding, darah, dan air mata balas dendam. Hebat bukan?”

***

Ya. Ini perang tanding bukan apresiasi puisi. Dalam dua tahun terakhir perang tanding antarkeluarga merebak. Dalam dua tahun terakhir empat perang tanding terjadi. Dalam bulan Juni saja dua bencana perang tanding terjadi. Main tebas itu soal biasa dalam perang tanding. Apalagi disertai dengan bakar rumah.

Seakan-akan nyala api itu obat mujarab untuk membangkitkan semangat. Kata-kata damai jauh menggantung di langit. Tidak ada penyelesaian tuntas dari kasus ke kasus.

Sumba Barat sudah mekar menjadi tiga kabupaten, mestinya pelayanan kepada masyarakat kian meningkat, termasuk pembinaan mental spiritual bagi wilayah dan anggota masyarakat yang potensial untuk baku perang. Bagaimana musyawarah dan local genius yang sebaiknya dijadikan salah satu kunci perdamaian pulau savana itu. Apa yang terjadi sehingga pembunuhan demi pembunuhan mesti terjadi lagi? 

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved