Breaking News
Kamis, 30 April 2026

36 Nelayan Lamalera Tewas

LEWOLEBA, POS-KUPANG.COM –– Sebanyak 36 orang nelayan (pelaut) Lamalera tewas dalam tradisi perburuan ikan paus di perairan Lamalera, Lembata. Nama-nama nelayan pemburu ikan paus ini diumumkan sebelum umat dan pastor melepas bunga dan lilin ke tengah laut.

Tayang:

LEWOLEBA, POS-KUPANG.COM –– Sebanyak 36 orang nelayan (pelaut) Lamalera tewas dalam tradisi perburuan ikan paus di perairan Lamalera, Lembata.  Nama-nama nelayan pemburu ikan paus ini diumumkan sebelum umat dan pastor melepas bunga dan lilin ke tengah laut.

Tradisi perburuan ikan paus di Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata ini diawali dengan perayaan misa arwah bagi para pelaut yang telah meninggal. Ratusan warga Lamalera menghadiri misa arwah yang dipimpin Romo Yakobus Dawan, Pr, dan Pater Yohanes Prason Bataona, SVD, Sabtu (30/4/2011).
Perayaan misa dilakukan di Kapela St. Petrus yang terletak tepat di bibir pantai, dan berada di antara pledang atau perahu yang akan digunakan para nelayan Lamalera untuk menangkap ikan paus.

Seperti yang disaksikan Pos Kupang misa dimulai sekitar pukul 17.45 Wita diikuti ratusan umat. Meski cuma duduk beralaskan pasir masyarakat Lamalera khusuk mendoakan saudara-saudara mereka yang telah gugur di “medan perang” saat menangkap ikan paus.  Mengingat perayaan misa ini sangat sakral, para wartawan yang hadir pun dibatasi untuk memotret agar tidak mengganggu konsentrasi umat.
Deburan ombak  yang memecah di bibir pantai ditambah hembusan angin laut di sore hari menambah suasana kontemplatif bagi yang berdoa sore itu.
Misa ini berakhir sekitar pukul 19.00 Wita ditandai dengan pelepasan lilin dan bunga ke laut oleh umat yang keluarganya telah meninggal. Seketika pantai dan laut sekitarnya  dipenuhi nyala lilin.

Romo Yakobus Dawan, Pr dalam kotbahnya mengatakan, mereka (atau yang biasa disebut lamafa/belawaeng/juru tikam dan pelaut) yang meninggal di laut patut dihormati karena mereka berjuang untuk semua warga Lamalera. “Mereka yang meninggal di laut adalah sakral. Mereka tidak hanya hidup untuk diri sendiri tapi juga untuk orang lain. Mereka ibarat benih yang tumbuh, menghasilkan buah lalu mati lagi,” katanya.

Dari data yang diperoleh Pos Kupang, korban yang meninggal di perairan laut terjadi sejak tahun 1917 hingga tahun 2007. Korban paling banyak terjadi pada tahun 1925, yakni tenggelamnya perahu nelayan bernama Teti Heri menewaskan sekitar 10 orang. Sepuluh orang lainnya tidak diketahui tahun meninggalnya. Sedangkan korban terakhir terjadi pada 14 Mei 2007.

Nama-nama para korban diberikan tokoh masyarakat pada Pos Kupang, namun dengan catatan jangan dipublikasikan. “Bisa catat tapi kami harap jangan dipublikasikan,” pesan bapak ini sambil menyodorkan sebuah bundelan berisi nama-nama para korban ini.

Menurut salah satu tokoh masyarakat setempat, Ignasius Fatah Key (66), dari para korban 36 orang ini tidak semuanya meninggal saat berburu ikan paus, tapi ada yang meninggal karena hendak menangkap ikan pari. Menurut warga setempat, semua yang meninggal saat melaut adalah para pahlawan. (gg)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved