Laporan Wartawati Pos Kupang.Com, Hermina Pello
Dua Jam, 1 Juta Melayang
RONNY dan dua rekannya hanya bisa duduk di halaman sebuah lokasi karaoke di wilayah Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, sambil mendengarkan dentuman alunan musik dari ruang tempat bernyanyi. Sesekali terdengar tawa genit para purel yang sedikit mabuk. Tanpa malu-malu mereka berpelukan dengan pasangannya lewat di depan Ronny dan dua rekannya.
RONNY dan dua rekannya hanya bisa duduk di halaman sebuah lokasi karaoke di wilayah Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, sambil mendengarkan dentuman alunan musik dari ruang tempat bernyanyi. Sesekali terdengar tawa genit para purel yang sedikit mabuk. Tanpa malu-malu mereka berpelukan dengan pasangannya lewat di depan Ronny dan dua rekannya.
Ronny dan dua rekannya juga ingin bernyanyi dan berpelukan dengan purel seperti yang sedang ditontonnya. Namun di sejumlah lokasi karaoke yang disinggahinya, jawaban yang mereka terima dari waitress, mami ataupun satpam, kalau bukan room-nya sudah penuh, jawabannya pasti ceweknya sudah habis. Cewek (purel) dan lagu menjadi magnet tersendiri bagi dunia hiburan malam. Tak heran kalau Ronny dan rekannya tak ingin bernyanyi tanpa ditemani purel, meski room gratis sudah disediakan pihak pengelola.
Beginilah suasana yang rutin dijumpai setiap malam di lokasi-lokasi karaoke dalam Kota Kupang. Karaoke dan pub sudah menjadi arena pelepasan lelah dan hiburan bagi masyarakat Kota Kupang. Bahkan, ada yang sudah terbius sehingga terkadang baru sadar ketika tabungannya sudah ludes di meja karaoke atau dompet para purel. Paling tidak, pengakuan dari beberapa pengelola karaoke di Kota Kupang berdasarkan pengalamannya. "Purel-nya kaya mendadak, sedangkan pasangannya ada yang langsung bangkrut," aku seorang pelayan di Bougenvile Karaoke di bilangan Oesapa yang tidak ingin ditulis namanya.
Daya magis hiburan malam di Kota Kupang berkembang sangat pesat. Kalau di kota besar lainnya, hiburan malamnya selain menawarkan karaoke juga bisnis prostitusi dan lainnya. Ini sedikit berbeda dengan Kota Kupang yang masih 'malu-malu mengaku' ada prostitusi terselubung bertamengkan karaoke dan lainnya.
Sejumlah lokasi tempat karoke di Kota Kupang pun menjadi pilihan bagi warga yang ingin melepas penat. Sebut saja Bougenvile (Oesapa), King Stone (Oesapa), Love Karaoke (Kuanino), Botol Music di Hotel Sasando (Kelapa Lima). Selain itu, ada juga Studio One Karaoke di Hotel Royal (Oesapa), Family Karaoke X2, Dancing Hall di Flobamora Mall, Kelapa Lima Indah (Bolekale), Hotel Citra, Tuak Dua (Kayu Putih), Regna Cafe (Liliba), Ina Boi dan di lokalisasi Karang Dempel (KD), Kelurahan Alak yang sesuai data dari Dinas Pariwisata Kota Kupang tahun 2009 sebanyak 33 buah.
Begitu banyak, namun masih ada pengunjung yang tidak kebagian room dan purel? Itu kenyataan. Kalau demikian ratusan juta rupiah setiap malam bisa dihabiskan hanya untuk melepaskan penat sambil bersenang-senang. Dari perhitungan berdasarkan pengakuan para pengelola kalau diakumulasi dari semua lokasi karaoke yang ada, bisa masuk akal.
Untuk berkaraoke, tarifnya berbeda di setiap lokasi. Sewa room, antara Rp 60 ribu hingga Rp 150 ribu. Bila ditemani purel tarifnya antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per jam. Room dan purel disewa minimal dua jam. Kalau ditambah bir dan minuman lainnya, bila sendiran minimal seorang pengunjung harus mengantongi Rp 500 ribu atau Rp 1 juta bila berdua untuk berkaraoke selama dua jam. Jumlah ini belum termasuk tips (bonus dari pelayanan) kepada purel dan pengunjung yang lebih senang bernyanyi di hall. Di hall, tidak ada sewa room, namun biaya purel dan minuman tetap sama.
Itu artinya, Bougenvile Karaoke misalnya yang memiliki 15 room dalam dua jam, M Arifin, sang pemilik, minimal akan mengantongi Rp 15 juta. Setiap hari karaoke dibuka mulai pukul 20.00 hingga 02.00 dinihari. Kalau dikalkukasi, selama enam jam karaoke dibuka, Rp 45 juta sudah bisa masuk kantong.
Bayangkan! Pendapatan tidak hanya di Bougenville tetapi juga di Studio One, Love, King Stone, Dancing Hall dan Botol Music. Bila enam lokasi karaoke ini menghasilkan Rp 45 juta, setiap malam uang Rp 270 juta beredar di Kupang. Jumlah ini berbeda dengan yang dihasilkan pub dan karaoke lain termasuk di KD di Kelurahan Alak.
Kelurahan Alak, merupakan salah satu tempat di Kota Kupang yang tempat karaokenya paling banyak. Ketua Asosiasi Karaoke Alak, Kamto, mengakui, di Alak terdapat 19 tempat karaoke yang tidak menggunakan peredam suara. "Ini ciri khas karaoke di Alak, berbeda dengan tempat lainnya," ungkap Kamto
Meskipun tanpa peredam suara, Ketua RT 9, RW 03 Kelurahan Alak, Yohanes Usfunan, mengungkapkan, keberadaan karaoke sejak tahun 1990-an itu idak mengganggu masyarakat karena sudah terbiasa. Pengelola Ganesa Karaoke, Alipo Marthen, di lokasi tersebut, umumnya besar berupa hall atau tidak ada ruangan khusus (room) yang membuat pendapatan mereka berbeda dengan tempat karaoke lainnya di pusat kota.
Sekadar untuk diketahui saja, lokasi-lokasi karaoke ini tidak saja dikunjungi kaum hawa tetapi juga perempuan, meski jumlahnya sangat sedikit. Lalu, daya magis apakah yang begitu kuat sehingga mampu membius orang untuk membelanjakan duitnya di sana? Ada aneka pendapat yang berhasil direkam Pos Kupang dari beberapa pengunjung.
Mikael dan Fendy, misalnya, yang sering mengunjungi Bougenville Karaoke mengaku hanya untuk melepas penat. Selain itu, di sana, mereka bebas mengekpresikan jiwanya lewat lagu. Namun ada juga yang terus terang mengakui karena kepincut dengan kecantikan dan kemolekan si purel yang sudah menjadi langganan tetapnya saban malam.
Sang purel akan senang karena dia tidak perlu 'bersaing' dengan rekannya untuk menaklukkan pengunjung agar memilih mereka sebagai teman bernyanyi. Bahkan, para pengelola (mami) biasanya meminta para purel untuk menaklukkan pengunjung, membuatnya bertekuk lutut agar setiap hari datang ke situ. Tak heran kalau banyak pengunjung yang baru sadar untuk insaf ketika tabungannya sudah ludes 'diamankan' sang purel di room karaoke.
Benarkah kondisi ini menandakan bahwa Kota Kupang sedang menuju kota metropolis? sabar dulu. Lihat! Di Naioni, di Alak, di Manutapen, di Kolhua, Naimata dan daerah lainnya, masih banyak warga kota yang hidup di bawah garis kemiskinan. Untuk mendapatkan Rp 10 ribu saja, mereka harus berjuang seharian. Kondisi ini terbalik dengan pengakuan pelayan di Botol Music dan Bogenville bahwa pengunjung terbanyak adalah para pejabat pemerintah maupun anggota Dewan.
"Bukan rahasia lagi, karena semua disini juga tahu. Tanya sa di purel dong. Biasanya mereka datang berjam-jam. Yang pusing adalah saat penagihan. Ada yang punya hutang puluhan juta di sini. Namun karena mereka pejabat, kita tidak bisa buat banyak," aku seorang pelayan di Botol Music. Itulah kondisi kita. Jangan protes!
Berapa rupiah-kah yang masuk ke kas daerah dari perputaran uang pada malam hari di Kota Kupang ini? Harusnya cukup besar kalau diakumulasi dalam hitungan bulan dan tahun. Namun, itu juga belum tentu karena ada informasi lain yang diperoleh bahwa ada 'orang besar' yang menjaga mereka dari belakang.
Editor : Alfons Nedabang