Oleh Maria Matildis Banda

The New King

MENAKUTKAN benar ogoh-ogoh yang sudah berdiri di tengah kota, untuk diarak keliling pada malam menjelang hari raya Nyepi. Namanya ogoh-ogoh The New King. Kepala satu, tangan dua, jari seribu, tanpa mata, tanpa telinga, tetapi mulut sepuluh, kaki dan tangan bergelang ular. Kaki panjang berdiri tegak dengan tubuh hanya kerangka melengkung dan condong ke belakang dengan jari dan mata buta terarah ke depan.

MENAKUTKAN benar ogoh-ogoh yang sudah berdiri di tengah kota, untuk diarak keliling pada malam menjelang hari raya Nyepi. Namanya ogoh-ogoh The New King. Kepala satu,   tangan dua, jari seribu, tanpa mata, tanpa telinga, tetapi mulut sepuluh, kaki dan tangan bergelang ular. Kaki panjang berdiri tegak dengan tubuh hanya kerangka melengkung dan condong ke belakang dengan   jari dan mata buta  terarah ke depan.

 Buat ogoh-ogoh? Ikut hari raya Nyepi ya?”  

 Sudah kita ketahui bahwa bukan ogoh-ogoh yang penting, tetapi nyepi, semadi, refleksi dan belajar dari segala bentuk penyimpangan masa lalu, untuk dibersihkan dan direnungkan pada hari Nyepi. Tetapi, tidak ada salahnya kalau kita juga buat ogoh-ogoh untuk berpartisipasi dengan umat Hindu yang merayakan Nyepi...”

 Jadi patung ini namanya ogoh-ogoh ya?”

 Ogoh-ogoh artinya patung. Di Bali hampir semua banjar –semacam kesatuan adat   terbatas dalam wilayah desa – buat ogoh-ogoh dalam berbagai ekspresi penyimpangan dan pengkhianatan yang terjadi. Ada narkoba, ada pergaulan bebas, ada selingkuh, ada prostitusi, ada koruptor, dan lain-lain yang diproduksi dalam berbagai wajah, untuk dibakar pada malam terakhir menjelang hari Nyepi.”

 Ogoh-ogohmu ini apa namanya?”

 The New King.”
 Dapat inspirasi dari mana?”

    ***
 Rupanya dalam sebuah kunjungannya ke Denpasar Bali, Nona Mia selalu lewat jalan Ahmad Yani Selatan, di daerah Lumintang. Di banjar itu ada ogoh-ogoh yang sudah jadi, ogoh-ogoh Gayus dan aparat hukum yang disuap.    Aparat hukum di akhirat tidak bisa kita suap dengan dollar dan rupiahmu,” demikian sebuah tulisan yang ditempel bagian kiri tangan kursi tempat Gayus bersandar santai. Sejak ogoh-ogoh dalam sosok Gayus dan aparat hukum   jadi dalam kreasi warga banjar setempat,  jalan Ahmad Yani memang ramai dipadati penghunjung yang sengaja lewat untuk melihat dari dekat  Gayus   berpangku kaki sambil bersandar miring di kursi malas.

Bertambah ramai lagi Jumat empat Maret dua hari yang lalu, semua ingin lihat dari dekat sosok yang dikenal dengan julukan mafia pajak dan penerima suap, yang terkenal di seantero tanah air. Tangan kanannya memegang segepok rupiah dan dollar diserahkan ke aparat yang mudah termakan sogokkan. Wajah aparat   seram mengkerut, gigi besar-besar meringis, dahi lebar,  perut buncit gendut, nenen menggantung, tangan kiri mencakar pinggang, dan tangan kanan bergelang ular dengan telunjuk mengacung, kaki kiri bergelang ular dengan kuku panjang siap menohok. Ogoh- ogoh Gayus akan dibakar sebelum Nyepi.

    ***
 Jadi kamu dapat inspirasi dari Bali?”
 Apa salahnya?”

 The New Kingmu ini apa artinya?”
 Analisis saja sendiri.”

 Waduh! Kepala satu, mulut sepuluh, jari seribu, tanpa mata tanpa telinga, kaki tangan bergelang ular berbisa? Hmm hebat juga ya idemu...”

     Apa ada hubungannya dengan Libya yang lagi banjir darah?”
 Mungkin saja!”

 Pasti! Berkuasa selama empat puluh tahun dan ingin berkuasa terus, biar rakyat dikorbankan, yang penting kuasa sepanjang hidup. Bukan maen itu Kadhafi!” Rara berkata dengan penuh emosi.

 Jangan marah Kadhafi... biasa sajalah jangan emosi. Tanpa sadar the new king jaman sekarang memang ingin jadi king terus dengan berbagai strategi untuk bertahan jadi king. Tidak usah jauh- jauh cari king dalam sosok Kadhafi sebab kadhafi-kadhafi ada di hadapan hidung. Lihat saja menjelang pemilu dan pilkada nanti betapa banyak orang yang mau jadi the new king dan yang ingin tetap bertahan jadi king dengan berbagai cara dan gaya...”
 Bursa untuk itu biasanya ramai dalam setahun terakhir menjelang hati H. Jadi the new king-mu memang benar-benar ekspresif...sebab terutama mencerminkan dirimu sendiri...”
 Memang ya!”

 Oooh   jadi ogoh-ogoh The New King-mu itu memang ada hubungannya dengan dirimu sendiri bukan?”

 Bisa jadi! Aku selama ini memang the new king...dengan karakter persis seperti the new king yang kubuat...”

 Bisa jadi the new kingmu itu adalah diriku...yang mesti kubawa dikala sepi.”

 Pikir sendiri. Nyepi memang saat merenung. Jadi merenunglah sendiri apa artinya. Yang kutahu selama ini, ogoh-ogoh dengan berbagai macam ekspresi dari segala bentuk penyimpangan diarak keliling banjar pada malam  sebelum memasuki nyepi. Segala bentuk penyimpangan dibuang jauh, dibakar habis, untuk memasuki hari raya Nyepi, saatnya untuk semadi, merenung dalam sunyi sepi, saat refleksi untuk memasuki kembali ke jalan benar...”
    ***
Nona Mia, Jaki, Rara, dan Benza terkejut bukan buatan. Rencana keempat sekawan ini untuk berpartisipasi menyongsong Nyepi dengan ogoh-ogoh ternyata mendapat sambutan luar biasa. Ternyata hampir semua RT-RW membuat ogoh-ogoh the new king dengan berbagai gaya. Namun ada bagian yang sama yaitu kepala satu, mulut sepuluh, jari seribu, tanpa mata tanpa hati, kaki dan tangan bergelang ular...

Benar-benar The New King.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved