Laporan Maxi Marho

Proyek 25 Rumah Nelayan 70 Persen

BA'A, Pos-Kupang.Com.---Realisasi fisik pekerjaan pembangunan rumah nelayan ramah bencana sebanyak 25 unit, di Desa Daiama, Kecamatan Rote Timur, Rote Ndao selesai 70 persen sampai dengan batas akhir masa kontrak 30 Desember 2010.

BA'A, Pos-Kupang.Com.---Realisasi fisik pekerjaan pembangunan rumah nelayan ramah bencana sebanyak 25 unit, di Desa Daiama, Kecamatan Rote Timur, Rote Ndao selesai 70 persen sampai dengan batas akhir masa kontrak 30 Desember 2010.

Proyek pembangunan rumah nelayan ramah bencana dikerjakan kontraktor PT Lince Romauli Raya dengan nilai kontrak Rp
1.124.472.500,00 (Rp 1,1 miliar lebih).

Direktur PT Lince Romauli Raya, Markus Banya dihubungi per telepon ke HP-nya, Selasa (25/1/2011) membenarkan jika pekerjaan proyek pembangunan rumah nelayan ramah bencana dikerjakan pihaknya.

Namun untuk lebih jelas menyangkut pekerjaan proyek, Markus
mengarahkan wartawan konfirmasi kepada Yunus Fanggidae selaku pelaksana pekerjaan PT Lince Romauli Raya.

Pelaksana pekerjaan, Yunus Fanggidae ditemui dua kali di Kota Ba'a, Selasa (25/1/2011) malam, dan Kamis (27/1/2011) siang, mengatakan, dirinya bertanggung jawab dalam pelaksanaan pekerjaan proyek pembangunan 25 unit rumah nelayan ramah bencana di Desa Daiama tersebut.

Menurut Fanggidae, pihaknya sudah berusaha keras agar pekerjaan pembangunan rumah nelayan di Desa Daiama bisa selesai tepat waktu. Namun dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan pihaknya menemukan sejumlah kandala sehingga pekerjaan tidak selesai seratus persen.

"Ke lokasi harus menggunakan perahu karena lokasi itu sulit dijangkau melalui darat. Juga terjadi hujan-angin karena masuk musim hujan sejak November 2010, serta masalah budaya masyarakat dan masalah lainnya.  Saya sudah menerima pencairan dana proyek Rp 70 persen seperti informasi yang wartawan terima," kata Fanggidae.

Menyinggung soal pembangunan rumah nelayan sesuai informasi belum mencapai 70 persen, Fanggidae mengatakan, ia tidak ingin membantah atau apapun menyangkut penilaian masyarakat akan pekerjaan proyek itu.

Ia minta wartawan bisa diajak turun ke lokasi proyek di Desa Daiama  sehingga bisa melihat kondisi pekerjaan proyek. 
Kepala Dinas (Kadis) Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rote Ndao, Jacob Doek, S.Pi ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu (26/1/2011) mengatakan, ada dua proyek di Dinas Perikanan dan Kelautan Rote Ndao tahun anggaran 2010 yang tidak selesai seratus persen, yaitu, pekerjaan proyek perpanjangan break water Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Tulandale-Rote Ndao, dan proyek pembangunan 25 unit rumah nelayan ramah bencana di Desa Daiama.

"Kalau pekerjaan proyek perpanjangan break water PPI Tulandale-Rote Ndao hanya selesai 84 persen. Sementara
proyek pembangunan 25 unit rumah nelayan ramah bencana di Desa Daiama selesai 70 persen. Sedangkan proyek lain di dinas ini sudah selesai seratus persen," kata Doek.

Menurut Doek, setiap pekerjaan sisa karena tidak mencapai
seratus persen maka ada yang namanya jaminan sisa pekerjaan. Dimana untuk pekerjaan pembangunan 25 unit rumah nelayan ramah bencana di Desa Daiama jaminan sisa pekerjaan bagi
kontraktor 30 persen, dan menjadi wewenang PPKAD  Rote Ndao mengeksekusi dana jaminan sisa pekerjaan tersebut.

Belum ada fondasi

SESUAI hasil opname lapangan  konsultan pengawas CV Dwipa Mitra tanggal 28 Desember 2010, pekerjaan proyek pembangunan 25 unit rumah nelayan ramah bencana di Desa Daiama sudah 70 persen.

Meski demikian, dari 25 unit rumah itu masih 5 rumah belum ada fondasi dan rumah yang sudah diatap ada belasan unit rumah, serta yang mulai dipaku dindingnya satu atau dua buah rumah.

Konsultan pengawas CV Dwipa Mitra, Tonny Balukh mengatakan hal itu ketika ditemui di kediamannya, Jumat (28/1/2011).

Menurut Balukh, 25 rumah nelayan ramah bencana tersebut dibangun bentuk yang sama, yakni berukuran 5 x 6,5 meter, bangunan setengah tembok dengan ukuran dua batu batako dan berlantai semen, rangka kayu berdiding papan, serta atap seng gelombang berukuran 0,20 milimeter.

Dikatakan Balukh, selama pekerjaan proyek berlangsung, sebagai konsultan pengawas ia datang ke lokasi pekerjaan proyek seminggu sekali. Hal ini karena pihaknya juga  mengawasi proyek tembok penahan abrasi milik Bapedalda  Rote Ndao di wilayah Kecamatan Rote Timur.

"Penilaian kami menyatakan pekerjaan proyek sudah 70 persen karena di lokasi pekerjaan sudah lengkap materialnya, dan ada tenaga kerjanya. Selain itu, ada pembangunan rumah dan lainnya. Jadi penilaian ini merupakan penilaian teknis," kata Balukh.

Menyinggung soal pembagian ruangan dalam rumah, kata Balukh, rumah nelayan ramah bencana akan dibagi menjadi ruang tamu sekaligus ruang makan, kamar tidur, WC dan sedikit ruang dapur. Karena ada WC maka pekerjaan pembangunan rumah ini ada pekerjaan lubang WC-nya.

"Proyek pembangunan rumah nelayan ramah bencana di Desa Daiama ada banyak hambatan/kendala. Kontraktor yang mau kerja proyek itu termasuk kontraktor yang berani," katanya.

Kendala yang dihadapi kontraktor dalam pelaksanaan pekerjaan ini, tambah Balukh, dimana daerahnya terpencil dan sulit dijangkau. Itupun melewati Selat Mulut Seribu yang kadang arus dan gelombangnya besar.

"Kalau ada masyarakat awam menilai pekerjaan proyek rumah nelayan ramah bencana belum  70 persen itu wajar-wajar saja karena penilaian pakai kacamata awam. Kami konsultan menilai secara teknis sehingga berani menyatakan pekerjaan sudah 70 persen," kata Balukh. (mar)
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved