Laporan Maxi Marho
Empat Warga Tewas Dibunuh
BA'A, Pos Kupang.Com -- Empat orang warga tewas dibunuh orang tak dikenal di wilayah Kabupaten Rote Ndao selama bulan November 2010. Keempat korban tewas dalam kasus pembunuhan yang terjadi di dua tempat berbeda, yakni di Desa Tuanatuk, Kecamatan Lobalain, Senin (15/11/2010), sekitar pukul 18.30 wita dan di lokasi Translok-Desa Daudolu, Kecamatan Rote Barat Laut (RBL), Rabu (24/11/2010), sekitar pukul 06.30 wita.
BA'A, Pos Kupang.Com -- Empat orang warga tewas dibunuh orang tak dikenal di wilayah Kabupaten Rote Ndao selama bulan November 2010. Keempat korban tewas dalam kasus pembunuhan yang terjadi di dua tempat berbeda, yakni di Desa Tuanatuk, Kecamatan Lobalain, Senin (15/11/2010), sekitar pukul 18.30 wita dan di lokasi Translok-Desa Daudolu, Kecamatan Rote Barat Laut (RBL), Rabu (24/11/2010), sekitar pukul 06.30 wita.
Demikian dijelaskan Kasat Reskrim Polres Rote Ndao, Iptu David Candra Babega, ketika ditemui di Mapolres Rote Ndao, Kamis (2/12/2010).
Korban tewas dalam kasus pembunuhan di Desa Tuanatuk bernama Arnolus Tungga (56 tahun), dan Marcelina Tungga (70 tahun). Sementara korban tewas dalam kasus pembunuhan di lokasi Translok-Desa Daudolu bernama Linda Ndun-Detanelun (40 tahun), dan Horiana Mbala-Modok (50 tahun).
"Saat ini aparat kepolisian masih memfokuskan perhatian pada upaya mengungkap pelaku pembunuhan korban di dua tempat berbeda itu. Kami terus melakukan penyelidikan untuk kasus pembunuhan tersebut," kata Babega.
Mengenai kronologi kejadian pembunuhan, Babega menjelaskan, untuk kasus pembunuhan di Desa Tuanatuk, berawal ketika korban Arnolus Tungga bersama ibu Marcelina Tungga serta istri dan anak-anaknya sedang makan malam di rumah mereka.
Arnolus Tungga saat itu duduk makan di teras depan rumahnya. Sementara Marcelina Tungga duduk makan di ruang tengah
bersama anak Ivon Tungga (8 tahun) dan Iron Arwadi Tungga (12 tahun). Sementara istri Arnolus bernama Magdalena Tungga berada di ruang dapur.
Saat sedang makan, kata Babega, tiba-tiba muncul dua pria memakai tutup kepala seperti ninja lalu seorang mengenakan jaket merah dan yang seorang lagi mengenakan jaket hitam. Kedua pria itu langsung menghampiri Arnolus Tungga dan mengayunkan parang memotong Arnolus Tungga menggunakan parang yang mereka bawa. Korban dipotong secara berulang kali hingga korban meninggal dunia di tempat.
Setelah membunuh Arnolus Tungga, dua pria itu langsung masuk ke ruang tengah dan membunuh Marcelina Tungga yang sedang duduk di ruang tengah rumah mereka. Kejadian pembunuhan terhadap Marcelina Tungga ini disaksikan Ivon Tungga (8 tahun) yang sedang duduk bersama neneknya itu.
Mungkin karena Ivon dinilai masih kecil sehingga pelaku tidak
membunuh anak itu. Sedangkan Iron Tungga lari ke ruang dapur untuk memberitahukan kejadian pembunuhan kepada Magdalena Tungga yang sedang berada di dapur. Namun Magdalena tidak dapat berbuat apa-apa karena takut.
Kejadian pembunuhan itu berlangsung sangat singkat dan setelah pembunuhan kedua pelaku langsung pergi meninggalkan rumah korban.
Babega mengatakan, sesuai hasil otopsi, korban Arnolus Tungga
mengalami luka-luka pada lengan kiri hingga hampir putus luka tusuk dari mata kiri hingga tembus ke pipi kanan, luka potong memanjang dari leher hingga ke dada.
Sementara korban, Marcelina Tungga mengalami luka panjang dari belakang kepala hingga ke mata kiri, lengan kanannya hampir putus dan luka memanjang dari punggung sampai di dada dan perut hingga usus dan isi perut korban keluar.
Dibunuh di Jalan
Sementara kasus pembunuhan di lokasi Translok-Desa Daudolu, kata Babega, berawal sekitar pukul 06.30 wita, korban Linda Ndun-Detanelun, dan tetangga korban Horiana Mbala-Modok pergi mengambil air sumur yang jaraknya sekitar 100 meter lebih dari rumah mereka.
Mereka pergi mengambil air di sumur dengan meminta izin kepada Jonathan Detanelun-suami Linda Ndun-Detanelun.
Namun yang terjadi, kata Babega, hingga pukul 13.30 wita, kedua korban yang pergi mengambil air di sumur tidak juga kembali ke rumah. Hal ini menimbulkan kecurigaan.
Jonathan Detanelum kemudian menyuruh seseorang bernama Nitanael Lao pergi ke sumur untuk mengecek keberadaan keduanya yang tidak kembali ke rumah sejak pagi.
Ternyata di pertengahan jalan, saksi Nitanael Lao menemukan kedua korban sudah dalam keadaan meninggal dunia karena dibunuh orang tak dikenal.
"Pembunuhan terjadi di lokasi antara rumah kedua korban dan sumur air. Jarak tubuh kedua korban agak berjauhan sehingga diduga saat Horiana Mbala-Modok dibunuh, Linda Ndun-Detanelun mencoba melarikan diri, namun pelaku kemudian mengejar dan membunuh Linda Ndun supaya tidak ada saksi yang melihat langsung peristiwa pembunuhan itu," kata Babega.
Sesuai hasil otopsi, kata Babega, korban Horiana Mbala-Modok mengalami luka potong pada lengan kiri, luka potong pada leher sedalam 12 cm, luka gores di mata kiri.
Sementara korban Linda Ndun mengalami luka pada leher sedalam 17 cm serta luka potong di jari manis tangan kiri dan celana dalamnya basah yang diduga disebabkan korban ngompol karena gugup. Saat meninggal, posisi Linda Ndun-Detanelun tertelungkup. (mar)
Cari Pelaku Pakai Satelit
TERKAIT upaya mengungkap pelaku pembunuhan yang menewaskan empat warga Rote Ndao pada dua kejadian pembunuhan yang berbeda ini, Polres Rote Ndao kerja sama dengan Densus 88-Jakarta.
"Dalam kerja sama dengan tim Densus 88, penyelidik kepolisian akan memakai foto satelit dengan sistem google live untuk mencari tahu siapa pelaku pembunuhan di TKP (tempat kejadian perkara)," kata David Candra Babega.
Upaya kerja sama dengan Densus 88 Polri dan upaya melacak pelaku pembunuhan menggunakan sistem satelit karena pihak kepolisian saat ini menemui kendala dalam mencari tahu pelaku pembunuhan yang disebabkan tidak adanya warga yang menjadi saksi dalam dua kasus pembunuhan.
Apalagi selama ini kasus pembunuhan di Rote Ndao sulit terungkap karena tidak ada warga yang mau menjadi saksi, dan
pembunuhan terjadi saat korban sendirian, tidak dilihat
orang lain.
"Di Rote Ndao warga sulit mau menjadi saksi dalam kasus
pembunuhan. Kami akan menggunakan foto satelit dengan sistem google live sehingga bisa dilihat kembali saat kejadian itu, pada waktu dan posisi letak TKP apa yang terjadi, dan siapa saja yang ada di sana. Karena semua kejadian di bumi ini sudah direkam di satelit," kata Babega.
Babega yakin, dengan upaya ini kepolisian bisa mengungkap siapa pelaku pembunuhan yang terjadi di wilayah Rote Ndao. "Surat usulan kami ke Densus 88 sudah diajukan," kata Babega.
Diberitakan pula, seorang warga Kampung Oele-Dusun Hurulai, Desa Oeseli, Kecamatan RBD, Rote Ndao, yakni Johan
Henukh (51) tewas seketika di kediamannya, Selasa (9/2/2010), pukul 21.00 wita. Pria ini tewas akibat ditembak pakai senjata rakitan oleh orang tak dikenal. Kasus ini masih ditangani aparat Polres Rote Ndao, tapi hingga saat ini tidak diketahui siapa pelaku yang menembak hingga Johan tewas.
Selain itu, Syamsudin Made (50), warga Tondao-Kelurahan Metina, Kecamatan Lobalain, ditemukan warga dalam keadaan tak bernyawa di Kali Oele-dekat Pasar Keka di
Desa Dolehulu, Kecamatan Rote Selatan, Jumat (7/8/2009) pukul 05.30 wita. Diduga, pria yang berprofesi sebagai pedagang tembakau ini tewas dibunuh karena di kepalanya ditemukan luka bekas bacokan. Kasus ini ditangani aparat Polres Rote Ndao, tapi hingga kini tidak diketahui pelaku pembunuhan. (mar)