Oleh Maria Matildis Banda

Tarian Bumi

INI bukan judul novel "Tarian Bumi" karya Ida Ayu Oka Rusmini yang berkisah tentang perjuangan perempuan dalam problematik kasta dan stratifikasi sosial masyarakat Bali. Ini tarian bumi yang tidak ada kaitannya dengan fiksi.

INI bukan judul novel "Tarian Bumi" karya Ida Ayu Oka Rusmini yang berkisah tentang perjuangan perempuan dalam problematik kasta dan stratifikasi sosial masyarakat Bali. Ini tarian bumi yang tidak ada kaitannya dengan   fiksi.  

Tarian bumi yang dimaksudkan dalam tulisan ini mau menyampaikan yang sebenarnya, bumi yang sedang menari-nari diiringi hembusan angin dan badai   seperti yang dipertanyakan penyair Frans Nadjira dalam puisi "Selamat Jalan I Gusti Nyoman Lempad" dengan pertanyaan menggelitik_"mengapa angin  pagi ini terasa liar. Ini bukan tarian biasa. Ia membelit. Ia melilit. Dan berobah perangainya."

                        ***
"Ya, bumi memang sedang menari dan berobah perangainya..." Nona Mia melanjutkan refleksinya. "Wasior Papua Barat, Merapi, Mentawai, Palue yang menari dengan gaya dan  iramanya masing-masing telah mendatangkan bencana bagi makluk hidup yang menetap di atasnya. Makna apakah yang dapat digali dari sana. Mengapa bumi menari. Makna apa yang mau disampaikan pada manusia melalui setiap detail gerakannya?"

"Bagiku, tarian bumi yang paling mengenaskan adalah Merapi," demikian Benza menyambung. "Puluhan orang mati termasuk sang abdi dalem, juru kunci Merapi yang diangkat Keraton Jogyakarta sejak 03 Maret 1982. Mbah Marijan yang terpanggang awan panas dalam posisi sedang sujud. Mbah Marijan, laki-laki tua 84 tahun itu, konon akrab dengan pendaki gunung dengan empat nasehatnya yang terkenal, jangan bermain-main berlebihan ketika mendaki, jangan teruskan mendaki bila ada batu jatuh, jangan teruskan jika puncak tampak mendung, dan terakhir, jangan saling meninggalkan teman, alias harus selalu bersama-sama. Itulah empat jangan yang dihafal dan menjadi panduan penting. Begitu besar jasanya orang kecil sederhana ini.

Dia benar-benar juru kunci yang siap korbankan nyawa... Yang sangat menarik Mbah Marijan tidak pernah melarang warga sekitar untuk mengungsi ketika kondisi sudah gawat darurat, awas! Dia memilih tetap tinggal dan benar-benar menjadi juru kunci untuk selamanya...Begitulah! Jaman sekarang, begitu sulit menemukan orang yang setia dan bertanggung jawab seperti Mbah Marijan. Saya sungguh terharu membaca keyakinannya tentang tradisi dan sejarah Merapi. Saya terharu karena cintanya pada  Merapi begitu besar," kata Benza dengan serius.

"Bagi Mbah Marijan tidak ada erupsi Merapi, tidak ada lelusan gunung dan semburan awan panas. Tarian bumi Merapi dalam irama dance eurobic untuk mengecilkan perutnya yang buncit," sambung Nona Mia. "

                        ***
"Yang mengenaskan bagi saya hanya Mentawai," Nona Mia menyambung. "Sekian ratus tewas, sekian ratus hilang, 4000 KK mengungsi. Gempa dan tsunami datang melanda menghanyutkan dan menghancurkan semua. Sayang sekali, dua jam sebelum tsunami, peringatan bahwa kemungkinan adanya tsunami ditarik oleh prediksi manusia... Tidak ada tsunami namun nyatanya tsunami datang ketika warga tidak siap apapun."

"Apa nama tariannya?" Tanya Rara dan Jaki hampir bersamaan. Kedua laki-laki yang sejak tadi diam saja ini, merasa heran karena Nona Mia dan Benza seolah-olah sepakat bahwa bencana itu hanyalah sebuah tarian bumi.

"Ya, tarian bumi!" Jawab Nona Mia.
"Tarian bumi lenggang poco-poco atau ja'i?"

"Bisa dua-duanya!"
"Kalau musibah Karya Pinang Palue-Maumere bagaimana? Kalau ditarikan namanya tarian apa dan apa lagu yang cocok untuk mengiringinya?" tanya Jaki penasaran.
"Menurutmu sendiri bagaimana?" Nona Mia balik bertanya.

                        ***
"Kasihan. Kapal motor yang sudah tua usia itu. Konon dikemudi oleh seorang pejabat terkenal yang terkena virus tahu semua bisa semua dan siapa berani lawan. Konon KM Karya Pinang dikemudikan oleh si pejabat yang suka-suka mengangkat dirinya sebagai nahkoda eh pemegang kemudi kapal. Konon dari Palue sampai ke lokasi kejadian, sang juru mudi sesungguhnya tidak berani ambil alih, karena segan pada pejabat dimaksud. Konon, terjadilah musibah itu dan hingga kini si pejabat belum diperiksa karena masih menunggu ijin. Konon kalau berita ini benar sunguh-sungguh kasian..." Benza menjelaskan dengan wajah sedih luar biasa.


"Saya tahu nama tariannya!" Rara langsung menyambung. "Dangdut!"

"Saya pasti tahu lagu iringannya berjudul Jatuh Bangun!"
"Oh, konon lagu pengiring dangdut Karya Pinang Palue Maumere itu judulnya Terlena a a a ku terlena..." Rara dan Jaki berdangdut ria sambil bergoyang.

                        ***
Nona Mia dan Benza  sepakat untuk berziarah ke makam Mbah Marijan. Keduanya ingin belajar memahami kesederhanaan dan kesetiaan juru kunci Merapi itu. Belajar mengerti bagaimana membaca tanda-tanda tarian bumi tempatnya tumbuh.

Lain lagi dengan Rara dan Jaki. Cita-citanya cukup tinggi. Ingin jadi pejabat. Siapa tahu pada suatu saat nanti ada kesempatan naik pesawat terbang, keduanya bisa jadi pilot dan co-pilot tembak. Siapa tahu pada suatu saat nanti, ketika ada kesempatan menumpang KM Karya Piliang, keduanya pun dapat bergantian mengemudi sambil berdangdut ria. Santai tanpa perlu repot-repot mengerti apa itu tarian bumi...  
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved