Oleh Maria Matildis Banda

Pencuri Hati

SEBASTIAN Pinera adalah Presiden Cile memberi jaminan akan menyelamatkan 33 petambang yang terjebak reruntuhan di kedalaman 700 meter dari permukaan tanah. Sulit dibayangkan betapa dalamnya 700 meter itu dan sulit pula memulai dengan cara apa penyelamatan itu akan berhasil. Yang pasti perjuangan batin 33 petambang dan kerja keras penyelamat mengharu biru warga dunia.

SEBASTIAN Pinera adalah Presiden Cile   memberi jaminan akan menyelamatkan 33 petambang yang terjebak reruntuhan di kedalaman 700 meter dari permukaan tanah. Sulit dibayangkan betapa dalamnya 700 meter itu dan sulit pula memulai dengan cara apa penyelamatan itu akan berhasil. Yang pasti perjuangan batin 33 petambang dan kerja keras penyelamat mengharu biru warga dunia.

"Mata Presiden Cile Sebastian Pinera, yang didampingi istrinya Cecilia Morel Montes di lokasi kejadian, berbinar-binar. Pinera dan istrinya menyeka air mata pada momen yang paling mendebarkan itu," Nona Mia membaca keras-keras Kompas di hadapan teman-temannya.

Nona Mia sangat tersentuh pada dialog antara Luis Urzua petambang terakhir yang muncul di permukaan dalam keadaan selamat memuji presiden, "Saya bangga kepada Anda yang telah menunjukkan rasa persahabatan dengan menyelamatkan kami. Anda pemimpin yang baik dan hebat! Kata Urzua yang dijawab Presiden dengan kata-kata sederhana...Anda layak mendapatkannya... Pergilah, peluklah istrimu...demikian Sang Presiden."

                                         ***
Jaki tidak memberi komentar apa pun. Soalnya, pemahamannya tentang tambang emas di Cile sungguh gelap, alias tidak ada sama sekali. Bayangannya tentang tambang adalah gali dan gali menjadi gua besar lalu runtuh, dan para petambang terkubur hidup-hidup. Bongkar-bangkir  bumi, terus gali menjadi sebuah lubang yang menganga  dengan garis tengah mencapai ratusan atau ribuan meter.   Bayanganya akan tambang adalah kerusakan lingkungan, tanpa peduli siapa yang bertanggung jawab dan siapa yang mengalami akibat dari kerusakan itu. Karena itulah setelah menyaksikan apa yang terjadi dengan tambang emas Cile dia terheran-heran dengan teknologi tambang yang canggih dan sangat memperhitungkan aspek keselamatan manusia dan suara hati lingkungannya.

"Bagaimana mungkin ada base camp  di kedalaman sekitar 700 meter di bawah tanah? Tempat para petambang Cile itu bertahan sambil menanti bantuan?" kata Jaki pada Rara. "Ya, heran benar. Apalagi tim penyelamat tahu persis posisi petambang itu ada di mana di kedalaman 700 meter itu. Bayangkan!

Konstruksi pertambangan yang hebat.  Tim penyelamat tahu persis bagian mana pengeboran membangun terowongan penolong dimulai. Luar biasa! Teknologi tambang yang luar biasa. Tidak ada bandingan setitik pun dengan apa yang akan kita mulai gali dan bongkar! Sebagai pemimpin, mestinya kita belajar banyak hal dari Cile."

"Hmm, aku rasa biasa-biasa saja!" Demikian Rara dengan karakter pencemburunya. "Apa sebenarnya maksudmu?"
"Kita sadar benar bahwa teknologi kita nol. Kita tahu persis bahwa SDM petambang pada tambang yang akan kita mulai dengan bongkar bumi juga nol.  Kita tahu bahwa kerusakan lingkungan pasti parah sekali jika mulai dengan tanpa kematangan teknologi. Karena itulah lebih baik kita mundur..."


"Apa kamu bilang? Mundur?" Rara marah bukan main.  
"Ya! Mundur! Eh, maksudku mundur jika engkau setuju, Rara!"
"Pikiranmu sudah diracuni Nona Mia dan Benza!"

                                       ***
"Racun apa maksudmu?" tanya Nona Mia segera setelah berhadapan dengan Rara. "Apakah berita evakuasi petambang Cile yang terselamatkan dari kedalaman 700 meter di bawah permukaan tanah tidak membuatmu bangga? Apakah perhatian Presiden, pemimpin Cile yang membaur dengan warga di seputar lokasi penyelamatan tidak membuatmu bangga? Apakah spirit pemimpin Cile itu dalam meyakinkan pekerja tambang untuk bertahan dengan janjinya untuk menyelamatkan mereka tidak membuatmu terharu?" tanya Nona Mia bertubi-tubi.

"Ah, mereka hanya pekerja tambang!" jawab Rara. "Cuma tiga puluh tiga orang lagi! Apalagi sampai buang dana 20 juta dollar AS atau sekitar 19 miliar itu. Huuuh, pikir buat apa? Aku lebih pintar dan lebih tahu dari kamu semua," Rara menjawab tegas.  

"Hanya pekerja tambang katamu? Hanya 33 orang katamu? Buang dana katamu?" Benza menyambung. "Pantas saja! Sebagai pemimpin kamu hanya mampu membuat perhitungan untung rugi, disertai dengan prinsip pintar semua dan tahu semua. Kasian sekali. Kamu sama sekali bukan pemimpin! Kamu adalah penguasa! Pantas saja, kamu tidak sanggup mencuri hati rakyat..."

"Ya menurutku, Sebastian Pinera hebat. Pemimpin yang sanggup mencuri hati rakyat adalah pemimpin yang ada di hati rakyat! Bayangkan! Setelah tahu 33 petambang masih hidup, Pinera pun menyatakan akan melakukan segala sesuatu yang dapat dilakukan manusia..." kata Nona Mia.

"Hanya untuk 33 petambang? Hanya untuk orang-orang kecil seperti petambang? Apa alasannya?" Rara mencibir dan Jaki pun ikut mencibir.

"Presiden Cile, Sebastian Pinera melakukannya dengan alasan dia memiliki mimpi dan melihat cahaya..." kata Nona Mia dan Benza bergantian.

"Mimpi? Melihat cahaya? Hanya itu? Apa artinya?" Jaki dan Rara bertanya bersamaan.

"Kamu benar-benar penguasa bukan pemimpin! Penguasa biasanya hanya sanggup hitung angka-angka untung rugi. Hanya petambang! Hanya 33 orang! Buang biaya! Itu kata penguasa. Tetapi pemimpin adalah orang yang mengerti apa artinya memiliki mimpi dan melihat cahaya...Penuh empati dan tidak meninggalkan warganya yang sedang kesulitan..."

                                  ***
 "Memangnya Presiden Cile ada bayar kamu berapa dollar sampai kamu begitu terharu?" Jaki berada di pihak Rara saat bicara.

"Aku akan sanggup mencuri hatimu dengan membayar berapa saja yang kamu minta, Nona Mia..." Rara memelas memohon pengertian Nona Mia.

"Kamu benar-benar penguasa!" kata Benza.
"Hanya orang yang memiliki mimpi dan sanggup melihat cahaya yang akan mencuri hatiku dan aku pun akan mencuri hatinya..." Nona Mia tersenyum manis sambil menggandeng Benza menjauh. Rara dan Jaki gigit jari.*
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved