Oleh Maria Matildis Banda

Tiada Maaf Bagiku

MENCERMATI keputusan pengadilan tinggi yang memberi keputusan bebas murni bagi Rara yang telah divonis bersalah oleh pengadilan setingkat di bawahnya, membuat begitu banyak orang kalang kabut.

MENCERMATI  keputusan pengadilan tinggi yang memberi keputusan bebas  murni bagi Rara yang telah divonis bersalah oleh pengadilan setingkat di bawahnya, membuat begitu banyak orang  kalang kabut.

Bagaimana mungkin? Bagaimana rasa keadilan masyarakat yang selama proses penyelidikan, penyidikan dan pengadilan jungkir balik tidak karuan?

Ada apa sebenarnya yang terjadi? Begitu bertolak belakangkah cara hukum  dan keadilan menempatkan subyek dan obyek masalah? Untuk satu hal yang sama begitu jauh jarak vonis yang dijatuhkan. Namun, apa dan siapa pun yang kalang kabut tidak dapat menghalangi si Rara -sang terdakwa- untuk merasa lega bukan main.

"Bagaimana mungkin, Rara?" Demikian Jaki memberi peringatan. "Bukankah kamu sudah dihukum oleh pengadilan terdahulu. Kamu sudah menerimanya. Kamu bahkan sudah menjalaninya. Apakah kamu tidak kuatir orang-orang sekampung kita akan mengambil tindakan sepihak untuk kebebasanmu itu?"

"Haruskah aku kawatir? Tetapi aku benar-benar tidak bersalah!"  

"Bukankah kamu yang mencuri?" Tanya Jaki.
"Aku tidak mencuri! Aku hanya salah mengambil!"
"Bukankah kamu yang menghilangkan nyawanya?" Tanya Jaki lagi.

"Aku hanya membiarkannya...apa salahku?  Aku hanya tidak sengaja ambil eh salah ambil orang lain punya," Rara membela diri dengan penuh kemenangan.  "Aku hanya perlu memohon maaf, itu saja!"
"Mengapa engkau tampak gelisah, temanku?" Tanya Jaki.

Rara tidak menjawab.

***
Maka pada hari berikutnya, pergilah Rara ke kantor Benza dan Nona Mia untuk meminta nasehat agar kegelisahannya dapat diredahkan.

"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Benza setelah mendengar semua keluh kesah Rara.

"Hanya satu saja! Aku ingin mohon maaf," jawab Rara.
"Bukankah kamu dibebaskan karena tidak bersalah? Untuk apa kamu memohon maaf?" Benza merasa sangat heran.

"Kamu tidak mencuri dan kamu pun tidak mengambil nyawa, bukan? Kenapa minta maaf?" Kata Nona Mia.
"Ya benar! Aku tidak mencuri tetapi hanya salah ambil.

Aku tidak mengambil nyawa tetapi hanya membiarkannya meregang nyawa. Tetapi sebagai manusia aku merasa perlu memohon maaf karena telah meresahkan dan melukai rasa keadilan rakyat. Jadi tolonglah aku!"

"Apa yang dapat kami tolong?" Tanya Benza dan Nona Mia bergantian.

"Tolonglah aku, bagaimana cara mohon maaf?"
"Apakah kamu juga mengerti apa artinya memohon maaf?" Tanya Benza.
"Justru karena tidak tahu dan tidak mengerti itulah aku mohon bantuan".

"Gampang sekali! Sangat gampang!" Nona Mia siap membantu dengan senang hati.

***
Nona Mia terkenang sebuah cerita tentang arti sebuah maaf. Dia lupa dari siapa atau dari buku apa atau dimana cerita ini didapatkan. Yang pasti Nona Mia hafal luar kepala jalan ceritanya. Karena itu -sambil memohon maaf kepada yang empunya kisah ini, yang tidak diketahui siapa namanya- Nona Mia pun mulai bercerita kepada Rara, di hadapan Jaki dan Benza.

"Begini ceritanya..." Nona Mia memulai.  "Suatu hari datanglah seorang pria ke hadapan seorang bijak.  "Guru, saya mempunyai banyak dosa. Saya telah memfitnah,  membohongi, dan menggosipkan orang lain dengan hal buruk.  Kini saya menyesal dan ingin memohon maaf lahir dan batin. Bagaimana caranya agar Tuhan mengampuni semua kesalahan saya?" Sang Bijak berkata, "Ambilah bantal di tempat tidurku.

Bawalah ke alun-alun kota. Di sana, bukalah bantal itu sampai bulu-bulu ayam dan kapas di dalamnya keluar tertiup angin. Itulah bentuk hukuman atas kata-kata jahat yang telah keluar dari mulutmu."  

Meski kebingungan, toh akhirnya ia menjalani "hukuman" yang diperintahkan kepadanya. Di alun-alun ia membuka bantal dan dalam sekejap bulu ayam dan kapas beterbangan tertiup angin. Setelah selesai, ia kembali menghadap sang Bijak, "Saya telah  melakukan apa yang Guru perintahkan. Apakah kini saya sudah diampuni?" Jawab sang Bijak, "Kamu belum dapat pengampunan. Kamu baru menjalankan separuh tugasmu. Kini, kembalilah ke alun-alun  dan pungutlah kembali bulu-bulu ayam yang tadi beterbangan tertiup angin.

"Aduh! Apa yang harus kulakukan?" Rara tersentak kaget. "Mengumpulkan kembali sekian banyak buluh yang telah diterbangkan angin? Yang benar saja! Bukankah itu sama artinya dengan tiada maaf bagiku?" Wajah Rara merah padam. Tanpa pikir panjang dia langsung bangkit dan berlari diikuti Jaki sobat kentalnya.
"Rara! Aku belum selesai berkisah!" Seru Nona Mia.

***
"Sayang sekali...mengapa Rara katakan tiada maaf bagi dirinya sendiri? Mengapa dia menyiksa dirinya sendiri?" Akhirnya Nona Mia bicara dengan Benza.  Sebenarnya ada sebuah renungan yang sangat bagus yang tercatat pada bagian akhir kisah ini. Sayang sekali, Rara dan Jaki keburu melarikan diri. "Tidak peduli berapa kali kita memohon maaf, kata-kata yang  pernah keluar dari mulut kita akan menggema selamanya. Memang,  sebuah permintaan maaf di hari yang fitri ini bisa mengobati  banyak hal. Namun, agaknya kita juga harus mengingat, bahwa  semua itu tak akan ada artinya, saat kita mengulangi kesalahan itu kembali..."

"Apalagi kalau hati kecil tahu bahwa memang benar kitalah pelakunya..." *

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved