Oleh Maria Matildis Banda
Terima kasih Kapolda
SENANG dan sejuk rasanya mendengar orang besar, punya pengaruh besar, jabatan besar, memimpin institusi besar, sanggup memohon maaf untuk semua kesalahan yang dibuat segenap anak buahnya.
SENANG dan sejuk rasanya mendengar orang besar, punya pengaruh besar, jabatan besar, memimpin institusi besar, sanggup memohon maaf untuk semua kesalahan yang dibuat segenap anak buahnya.
***
"Orang besar siapa yang meminta maaf..." Tanya Rara tidak percaya.
"Kapolda NTT, Brigjen Polisi Drs. Yorri Yance Worang menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga NTT apabila pelayanan Polri di NTT belum dilakukan secara maksimal.
"Sungguh-sungguh? Dimana? Kapan?"
"Sungguh-sungguh, pada saat syukuran HUT Bayangkara ke-64 di Mapolda NTT, tanggal 1 Juli kemaren," Benza menjelaskan dengan serius.
"Apa ada orang besar yang menunjukkan sikap rendah hati seperti itu?"
"Ada! Buktinya Kapolda NTT Bapak Yorri Yance Worang itu..." Nona Mia yang menjawab.
***
"Kok bisa ya? Apa sebabnya?" Rara heran bukan main.
"Biasanya orang yang meminta maaf adalah orang yang rendah hati. Orang besar yang meminta maaf itu adalah pemimpin bukan penguasa. Orang besar yang berani meminta maaf adalah orang yang mengerti betul bahwa rakyat yang paling kecil sederhana tak punya apa-apa adalah manusia sesamanya. Orang besar yang meminta maaf adalah orang yang tahu bahwa rakyat kecil orang-orang pinggiran ini juga punya hati dan harga diri yang perlu diberi tempat..." panjang lebar penjelasan Nona Mia.
"Ah, saya tidak percaya!" Kata Rara.
"Saya juga sebenarnya tidak percaya!" Sambung Nona Mia. "Soalnya Jaki orang besar yang ketemukan selama ini, bisanya hanya marah-marah, ancam sana sini, adu domba, menghina, mengutuk, anggap diri pintar sendiri. Soal rendah hati jangan harap datang dari orang besar seperti Jaki. Apalagi memohon maaf..."
"Ya itu ciri penguasa bukan pemimpin!" Kata Benza.
"Makanya saya juga tidak percaya," sambung Rara lagi. "Contohnya Pak Jaki, orang besar yang kutemukan selama ini kerjanya menjadi tukang ancam, tukang menghina orang lain. Semua orang dianggap berada di bawah. Untuk minta maaf, ha ha tidak mungkin bagi Pak Jaki."
"Tidak ada maaf bagimu! Itulah motto orang besar seperti Jaki," demikian Nona Mia
"Tidak ada waktu buat minta maaf," demikian Rara. "Pada hal Jaki pernah menipu dan menghinaku dimuka umum. Dia tidak pernah minta maaf. Bahkan aku yang memohon maaf padanya."
"Jadi kalau sampai Kapolda NTT Bapak Yorri Yance Worang meminta maaf, itu sungguh-sungguh pelajaran yang sungguh luar biasa. Mudah-mudahan Jaki bisa belajar dari Pak Kapolda. Mudah-mudahan kita-kita yang orang kecil ini juga tahu bagaimana cara meminta maaf dan memberi maaf," kata Nona Mia.
"Menurutmu, apa sebabnya orang besar memohon maaf?" Tanya Nona Mia kepada Benza. "Sungguh luar biasa menemukan orang besar yang sanggup memohon maaf ..."
***
"Orang besar yang tahu memohon maaf adalah orang besar rendah hati yang tahu asal-usul, yang sadar bahwa dirinya juga dari kampung, dari kelompok masyarakat kecil dan sederhana. Orang besar yang sadar betul bahwa dirinya tidak jatuh dari langit tetapi benar-benar membumi selangkah demi selangkah menuju puncak....Orang besar yang juga dapat memberi maaf. Orang besar seperti ini benar-benar dapat menjadi teladan..." Benza merasa bangga bukan main.
Maklumlah! Di tengah kemelut negeri yang sedang dililit berbagai masalah keamaan dan kenyamanan warga, pada saat kepercayaan masyarakat terhadap institusi keamanan sedang terguncang, justru ada seseorang pemimpin yang memohon maaf kepada seluruh warga. Polri sedang dilanda kemelut ke dalam maupun ke luar dengan berbagai kasus mafia pajak, korupsi, nepotisme. Rakyat jenuh. Syukur ada kesejukan yang disampaikan secara verbal seperti ini. Bukankah permohonan maaf adalah ungkapan bahwa kita bukan manusia serba sempurna? Bukankah permohonan maaf dari orang besar adalah salah satu pil manis bergizi untuk mengobati luka hati?
"Saya merasa sungguh terhibur," Nona Mia tersenyum senang.
"Mudah-mudahan Jaki tahu dan dapat belajar dari Kapolda NTT," kata Rara.
***
"Nah, itu Pak Jaki datang," kata Nona Mia.
"Apa apa?" Jaki membusungkan dada sambil mengencangkan badan langsung pasang jurus defensif.
"Kami sedang membahas kerendahan hati Bapak Kapolda memohon maaf kepada seluruh masyarakat NTT...Sungguh pemimpin teladan...." Rara bicara dengan suara rendah.
"Jadi kamu mau saya juga mohon maaf padamu? Hmm...beruntunglah kamu, sebab hari ini saya dengan rendah hati memohon maaf atas semua kesalahan saya padamu, Rara, Benza, dan Nona Mia..." Jaki menunduk sambil menggenggam tangan para sahabatnya satu persatu.
"Bagaimana kalau sekarang kita ke rumah Kapolda?" Ajak Nona Mia.
"Ayo, kita patut mengucapkan terima kasih padanya..." Benza menyambung. Keempatnya segera cabut ke rumah Kapolda. *