Oleh Maria Matildis Banda

Zaman Raja-raja

KONON khabarnya pada zaman raja-raja tidak dikenal yang namanya protes soal mutasi dan penempatan pejabat. Semua orang, siapa saja di seputar kerajaan maupan lebih jauh lagi di luar kerajaan hanya bisa taat pada titah raja. Siapa panglima, siapa hulubalang, siapa prajurit, dan siapa dayang-dayang memang sudah diatur dari sononya. Tidak ada tanya jawab soal ini.

KONON khabarnya pada zaman raja-raja tidak dikenal yang namanya protes soal mutasi dan penempatan pejabat. Semua orang, siapa saja di seputar kerajaan maupan lebih jauh lagi di luar kerajaan hanya bisa taat pada titah raja. Siapa panglima, siapa hulubalang, siapa prajurit, dan siapa dayang-dayang memang sudah diatur dari sononya. Tidak ada tanya jawab soal ini.

Siapa yang berani bertanya apalagi mempersoalkan akan langsung dirumahkan alias diamankan alias kalau perlu diselesaikan. Jadi para raja aman-aman saja berkuasa dan membangun kekuatan turun-temurun.
Karena merasa hidup pada Zaman raja-raja lebih enak, maka republik segera diganti menjadi kerajaan, agar segala sesuatu diatur oleh penguasa tunggal alias raja.

Konon presiden langsung mengetuk palu dan mengukuhkan dirinya menjadi raja untuk melanggengkan kekuasan dan membangun dinasti dengan lebih pasti. Rakyat, dengan demikian hanya bisa patuh dan tunduk pada titah raja. Konon, pada suatu hari datanglah seorang utusan dari sebuah negara untuk konsultasi soal mutasi pejabat di wilayahnya.

***

"Apa yang dapat kubantu hai sahabat dari negara tetangga?" Demikian raja yang bernama Rara  Mahadirara bertanya dengan tetap tegak dan gerakan tangan selalu kembali di dada sebagai tanda sopan santun menghargai tamu.

"Sembah tuanku Rara Mahadirara," demikian petinggi negara tetangga mengatur sembah. "Perkenalkan, namaku Jaki Jajaki. Aku mohon petunjuk tentang mutasi yang tampaknya aman-aman saja di kerajaan kuasa tuanku Rara Mahadirara."

"Apa maksudmu hai sahabatku?" Tanya Raja.
"Mohon petunjuk, bagaimana caranya agar mutasi di negaraku tidak dipersoalkan rakyat. Mohon petunjuk bagaimana caranya agar mutasi tidak menimbulkan gejolak, tetapi menentramkan dan terutama membuat semua orang diam dan taat saja sebagaimana terjadi dalam kerajaan tuanku Raja..." Jaki mengatur sembah terbungkuk-bungkuk beberapa kali.

"Oh, apa yang telah terjadi?" Raja bertanya keheranan.
"Saya heran sekali. Mengapa masyarakat mesti resah hanya karena mutasi pejabat di negaraku diduga tidak berdasarkan daftar urutan kepangkatan alias DUK tetapi menurut daftar urusan kedekatan alias DUK juga.

Ampun tuanku, banyak orang  yang konon jadi korban karena tidak termasuk dalam kedekatan...Hal ini sungguh tidak benar. Aku berani jamin!" Jaki tetap tertunduk. "Sebenarnya tidak soal sama sekali jika koran tidak buat berita dan wartawan tidak tanya sana-sini."
"Bukankah sama-sama singkatannya DUK?" Raja manggut-manggut sambil berpikir keras. "Itulah akibatnya kalau sebuah negara keranjingan singkatan DUK, DAK, DAU, DOP, BOS, BOK, DIP, DUP, DEP DEP, DAP DAP, DAK DIK DUK..."

"Begitulah tuanku..."

***
Konon Jaki Jajaki pulang dengan cerah ceria dengan dua saran penting yang akan menjadi agenda khusus baginya. Pertama rombak negara menjadi kerajaan. Kedua, berangus semua media massa cetak maupun elektronik milik rakyat sehingga media massa yang ada hanyalah milik kerajaan semata-mata.

"Pertama negara kita kini menjadi kerajaan. Kita kembali ke zaman raja-raja!" Demikian penjelasan Jaki Jajaki kepada Nona Mia dan Benza. "Kalian berdua kami perintahkan untuk menjadi wartawan dan wartawati kerajaan. Mulai detik ini juga engkau Nona Mia, saya angkat menjadi hulubalang bidang humas dengan gelar Mia Kandi Srinona. Engkau Benza saya angkat menjadi hulubalang bidang humas dengan gelar Benza Bentara."
"Laksanakan!" Jawab Benza dan Nona Mia serempak.
"Ingat! Kerajaan kita berdiri di atas prinsip Anjing Menggonggong Kafilah Berlalu. Mengerti?"

"Mengerti tuanku!"

***

Konon, negara di bawah kekuasaan Jaki Jajaki lenggang kangkung dengan segala-galanya yang serba baru. Benza dan Nona Mia pun terjebak di dalamnya. Soal mutasi dalam kerajaan berjalan aman dan lancar tanpa komentar.

"Ini kerajaan bukan negara!" Demikian setiap kali sang Raja berkothbah di mana saja. "Karena ini adalah  kerajaan maka titah raja adalah titah raja. Seluruh rakyat hanya bisa taat." Demikianlah Nona Mia dan Benza yang biasanya sensitif dengan ketidakadilan, yang biasanya kritis menyoroti berbagai kebijakan yang salah, yang biasanya menolak segala bentuk manipulasi, yang biasanya cermat dan cerdas menyoroti permutasian yang tidak pada tempatnya, kini diam saja dan hanya bisa taat.

***
Konon pada suatu hari datanglah Rara Mahadiraja ke dalam kerajaan Jaki Jajaki dengan menyamar sebagai orang biasa. Dia begitu terkejut melihat apa yang telah terjadi. Dia terheran-heran menyaksikan kehidupan kerajaan Jaki Jajaki yang sangat otoriter. Bayangkan!

Nona Mia hulubalang ahli kehumasan dimutasi menjadi Menteri Perminyakan dan Benza dimutasi oleh raja menjadi  Kepala Kamar Bedah Rumah Sakit Kerakyatan.
"Mengapa kamu tunduk saja pada titah raja?"
"Kami belajar dari kerajaan tetangga!" Jawab Nona Mia membuat Rara terkejut setengah mati.

"Anjing menggonggong kafilah berlalu, itulah kerajaanku," jawab Benza.

Rara Mahadirara pun segera pulang dan berjuang dengan segala daya untuk mengembalikan kerajaan menjadi negara, mengembalikan kedaulatan ke dalam tangan rakyat. Dia malu setengah mati menyadari bencana yang terjadi di Kerajaan Jaki Jajaki ternyata belajar dari kerajaannya.

"Ini bukan Zaman Raja-raja..." demikian alasan Rara Mahadirara dalam setiap pidatonya mengembalikan kerajaan menjadi negara. *

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved