Oleh Maria Matildis Banda
Pak Belalang
NASIBMU Pak Belalang. Untung jawabanmu tepat. Kalau tidak, pasti sudah dijebloskan ke dalam penjara oleh Sang Raja. Tetapi lain dulu lain sekarang. Pak Belalang jaman kini bukan bapaknya seorang putra Melayu yang bernama Belalang. Tetapi hama belalang yang sikat habis hasil kerja keras petani. Jagung habis, padi pun lenyap. Kasihan...
"Padi jagungku habis dilahap Belalang," demikian Rara sedih setengah mati.
"Aku sudah terima uang dari lintah darat. Padi jagungku sudah dibayar. Uang hasil ijon ini sudah kuhabiskan untuk biaya sekolah anak-anak. Tetapi belalaaaaang habiskan semuanya," Jaki pun sedih tidak karuan.
"Apakah bibit padi dan jagung masa kini tidak mempan hadapi hama belalang? Tetapi ini belalang bukan hama eh hama hidup yang bisa terbang. Dari mana belalang terbang? Beranak-pinak dimana mereka? Kenapa mesti datang menghancurkan sawa ladangku? Oh,
nasib-nasib!" Nona Mia pun menangis.
"Siapa biasa menolong? Tidak ada seorang pun. Siapa pun dia. Yang paling jago dari semua jagoan di kampung kita ini hanya bisa menganga dan membiarkan semuanya habis bin habis," keluh Rara.
"Kita panggil Pak Belalang, siapa tahu dapat menolong," Benza mendapat akal. "Mari, aku bisa panggil Pak Belalang. Pak Belalang akan menolong kita..."
"Pak Belalang? Bisa menolong?" Jaki, Rara dan Nona Mia penuh harap.
"Ya! Begini ceritanya..." Benza pun berceritalah.
***
Konon, pada jaman dahulu, hiduplah seorang bapak dengan anak tunggalnya bernama Belalang. Si Bapak terkenal dengan nama panggilan Pak Belalang. Pak Belalang terkenal karena tebakan-tebakan yang selalu jitu sehingga membuat Sang Raja senang bukan main. Tebakannya antara lain, menang perang tuk rebut kursi kuasa -ya, kalau jaman sekarang, mungkin namanya menang perang Pilkada-, menang taruhan, judi, bahkan menang tanding perebutan selir tercantik. Pak Belalang selalu tebak benar, padahal jawabannya asal-asalan, sekedar menerka. Pak Belalang merasa aneh dengan jawabannya sendiri, karena selalu jitu.
Pada suatu hari, Raja menangkap seekor belalang dan menyembunyikannya di balik tangkupan rantang. Dia ingin benar menguji kemampuan Pak Belalang. Soalnya raja cemburu pada Pak Belalang yang lebih terkenal, memikat hati rakyat dan disanjung di seantero negeri karena kepiawaiannya meramal.
"Ini kesempatan saya menghancurkan dia!" Demikan raja bertitah bagi dirinya sendiri. "Sekali ini Pak Belalang pasti hancur berantakan!"
"Pak Belalang, coba tebak apa yang ada di balik rantang!" Kata Raja.
Pak Belalang terkejut bukan main. "Saya bukan tukang tebak!" Kata Pak Belalang dalam hati sambil memukul testanya. Selama ini memang kebetulan saja tebakannya benar. "Habis sudah nasibku," pikir Pak Belalang.
"Ayoh, tebak cepat!" Ultimatum Sang Raja. "Dalam hitungan ketiga engkau harus segera menjawab. Kalau tepat, engkau kuangkat menjadi panglima raja, tetapi kalau salah, hidupmu akan berakhir dalam penjara!" Suara Raja membuat Pak Belalang gemetar ketakutan. "Oh, Belalang... bagaimana nasibmu anakku, hidup tanpa bapakmu ini. Oh, belalang..." ratap Pak Belalang dalam hatinya.
"Satu," Raja berseru.
"Dua," Raja berseru dengan suara nyaring.
"Tiga!" Rara bertitah.
Pak Belalang pun tersungkur jatuh sambil berteriak dengan suara keras memanggil nama anaknya. "Belalaaaaaaaanng..."
***
Ah, tenyata suara Benza yang asyik mendongeng tentang Pak Belalang menggema di seantero jagat kampung halaman. Belalang yang lagi merajalela di sawah ladang milik petani berterbangan, mengudara, membentuk gumpalan awan berarak menuju laut dan berjatuhan di sana...
"Benza," ketiga sahabat benar-benar menganga.
"Belalang benar-benar terbang melayang-layang, diterpa angin, dan lenyap ditelan laut," Nona Mia menengadah ke langit.
"Benza! Dongengmu benar-benar jitu!" Jaki menggeleng-geleng.
"Apa rahasianya, Benza? Oh, hebat benar temanku!" Rara memuji.
"Rahasianya adalah dongeng!" Jawab Benza.
"Dongeng?" Tanya tiga sekawan.
"Ya, hanya dongeng sajalah yang dapat mengatasi bencana di tanah kita. Hanya dongeng pula yang sanggup meneduhkan petani...Hanya petani pula yang selalu dibuai dongeng tentang kesejahteraan petani..."
"Dongeng?"
"Ya, hanya dongeng!" *