Oleh Dr. Paul Budi Kleden
Makna Persahabatan
SALAH satu pengetahuan dasar yang dipelajari dalam logika tradisional atau ilmu tentang kelurusan berpikir adalah relasi antara keluasan cakupan dan kedalaman isi sebuah pengertian. Keduanya berbanding terbalik. Semakin luas cakupan sebuah pengertian, semakin sedikit isinya. Sebaliknya, semakin mendalam isi sebuah pengertian, semakin sempit cakupan pengertian tersebut.
Kalau saya mau mendefinisikan manusia, saya bisa meminjam pengertian klasik yang mengatakan bahwa manusia adalah binatang yang berakal budi. Pengertian yang luas ini mencakup semua manusia dari berbagai bagian dunia dan penggalan sejarah. Namun, apabila saya mau memberikan pengertian tentang manusia NTT, definisi umum di atas sudah tidak mencukupi. Saya harus memberikan pengertian yang lebih mendalam agar cakupannya sungguh terbatas. Saya mesti mempertimbangkan unsur biologis, mental, historis, kultural dan sebagainya. Biasanya, lebih mudah memberikan sebuah definisi untuk cakupan yang luas daripada sebuah pengertian khusus.
Persoalan seputar kedalaman dan cakupan pengertian ini dapat ditemukan apabila orang merefleksikan makna persahabatan, yang menjadi inti perayaan Hari Valentin. Tanggal 14 Februari menjadi hari perayaan cinta dan persahabatan. Perayaan yang dikaitkan dengan Valentin ini sudah menjadi sebuah kebiasaan meluas, kendati tidak sedikit orang yang mencoba membatasi, malah melarangnya dengan berbagai alasan. Konon, tanggal 14 Februari adalah hari peringatan bagi dua orang Valentin. Yang pertama adalah seorang imam yang dibunuh sebagai martir di kota Roma pada sekitar tahun 270, sementara yang lain adalah seorang uskup dari Terni, sebuah kota sebelah utara Roma, yang juga dibunuh sebagai martir pada waktu yang sama.
Diduga kuat, kedua versi cerita ini sebenarnya merujuk pada satu tokoh yang sama. Mulai abad ke-4 mulai muncul kebiasaan untuk menghormatinya sebagai orang kudus. Dikisahkan bahwa Valentin sering memberikan bunga kepada para pejalan yang lewat di depan tembok biaranya. Dalam tradisi Barat, pemberian bunga dipandang sebagai ungkapan cinta dan persahabatan. Sebab itu, hari peringatannya digunakan sebagai hari para pencinta untuk menyatakan cinta dan persahabatannya.
Pemberian bunga sebagai ungkapan perasaan secara niscaya membatasi cakupan persahabatan. Tidak banyak orang yang diberikan bunga pada hari itu. Persahabatan dihayati sebagai pengertian yang mendalam dengan cakupan yang terbatas. Aristoteles mengatakan, sahabat yang baik adalah dia yang tidak hanya mengharapkan sesuatu yang baik bagi sahabatnya, tetapi mengharapkan kebaikan itu demi kebahagiaan sahabatnya sendiri. Artinya, persahabatan tidak dijadikan sebagai sarana untuk pemuasan diri sendiri. Mencintai sahabat demi sahabat itu sendiri, inilah yang menjadi basis sebuah persahabatan sejati. Dalam nada yang sama, Yesus, sang Guru dari Nazaret pun berkata: tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih orang yang memberikan nyawanya untuk sahabatnya. Artinya, kasih sejati yang ditunjukkan kepada para sahabat adalah kesediaan untuk membatasi diri, untuk menahan diri dari keinginan untuk mendikte dan menguasai mereka. Persahabatan sejati menuntut kesediaan untuk mendengar dan mengindahkan apa yang dipikirkan dan dibutuhkan para sahabat. Di sini bunga tidak lagi sebatas. Dia menjadi ungkapan kesediaan pemberian dan pembatasan diri.
Dewasa ini, bunga masih tetap dikirim pada tanggal 14 Februari. Namun, dia berubah bentuk. Berbagai bentuk elektronik tersedia untuk merangkai dan mengirim bunga. Teknologi informasi memungkinkan penyebaran bunga ke seluruh pelosok dunia. Persahabatan menjadi sebuah lingkaran yang menggapai banyak orang, tidak jarang seluas jangkauan akses teknologi informasi. Apakah perluasan cakupan ini secara niscaya berarti pendangkalan makna persahabatan, sebagaimana dipikirkan dalam logika tradisional?
Sudah pada abad ke-18 Immanual Kant, filsuf besar dari Jerman, membedakan tiga macam sikap manusia terhadap persahabatan. Pertama, persahabatan yang didasarkan pada kebutuhan. Kant menyebut ini sebagai persahabatan semu, sebab persahabatan ini akan berubah ketika kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan berubah. Persahabatan seperti ini mudah didominasi oleh kepentingan ekonomi dan politik. Orang menjual diri sebagai sahabat, selama dia membutuhkan orang lain, entah daya beli, tenaga kerja atau kontribusi suara pada momentum pemilihan umum.
Kedua adalah persahabatan yang dibangun di atas dasar kenikmatan atau kesenangan. Kant tidak hanya berpikir tentang kenikmatan seksual, tetapi juga kesenangan intelektual dan emosional. Kita bersahabat sebab kita saling menyukai gagasan atau bakat yang ada dalam diri masing-masing kita. Dalam era informasi sekarang, kita dapat saja bersahabat karena kita hendak mendapat informasi dari berbagai tempat. Atau, sekadar membangkitkan kepuasan bahwa lingkaran persahabatan ini seluas bola bumi.
Sikap ketiga disebut sebagai persahabatan karena disposisi batin dan pikiran yang terarah kepada sahabat. Persahabatan ini didasarkan pada berbagai kesamaan tetapi terbuka menerima perbedaan. Kesamaan dasar di antara mereka adalah prinsip moral yang sama. Di atas dasar prinsip moral ini, seorang sahabat sejati adalah pendukung yang tulus serentak pengritik yang tajam. Hanya persahabatan inilah yang bertahan dan patut disebut sebagai persahabatan sejati. Tentu saja, persahabatan seperti ini memiliki cakupan yang sangat terbatas. Kalau hanya membatasi bunga pada lingkaran persahabatan ini, pasti tidak banyak yang mesti dikirim.
Kita tidak perlu terlampau idealis seperti Kant yang menilai secara negatif kedua sikap pertama. Bagaimana pun, kita memerlukan dan karena itu menghayati macam-macam sahabat dengan berbagai tingkat ikatan. Yang penting dari gagasan Kant adalah peringatan agar kita tidak mereduksi semua persahabatan pada kedua sikap pertama dan karena itu kehilangan daya dan kemauan untuk menjalin persahabatan dalam sikap yang ketiga. Ketika semua persahabatan hanyalah relasi kebutuhan dan pemenuhan kebutuhan atau saling menyenangkan, bukan mustahil orang akan kehilangan kedalaman makna kehidupan. Apabila yang menjadi sahabat saya adalah orang-orang yang saya perlukan untuk memenuhi ambisi ekonomis atau politis atau memuaskan dahaga intelektual dan emosional saya, tidak mustahil saya akan menjual mereka kalau itu saya pandang lebih menguntungkan dan memuaskan.
Mengaitkan persahabatan dan cinta memang bukan mengada-ada. Kata Inggris untuk sahabat adalah friend. Menurut Sandra Lynch dalam bukunya Philosophy of Friendship, kata ini berasal dari dua kata tua Inggris: freon yang berarti bebas dan freo yang berarti cinta. Cicero, pembicara ulung Romawi dari abad pertama sebelum Kristus, menunjukkan kaitan antara kata amicitia (persahabatan) dengan amor (kasih).
Etimologi ini menggarisbawahi dua unsur yang ada dalam persahabatan, yakni kedekatan batin dan pilihan bebas. Atau, kita dapat katakan, belarasa dan tanggung jawab. Kita bersahabat bukan karena kita ditentukan atau dipaksa bersahabat. Unsur keputusan bebas mewarna secara dominan setiap persahabatan. Di mana ada keputusan, di sana tanggung jawab.
Para sahabat mempunyai ikatan batin, kendati keras longgarnya bisa bervariasi. Ikatan batin ini mengandung konsekuensi solidaritas atau bela rasa. Persahabatan berorientasi pada diri seorang sahabat. Karena itu, persahabatan tidak bersifat instrumentalistis. Seorang sahabat sejati tidak akan menggunakan persahabatan sebagai batu loncatan demi sesuatu yang lain di luar kepentingan sahabatnya. Solidaritas bukanlah sebuah taktik politis untuk merebut simpati massa pendukung. Demi kebaikan itu, kadang-kadang dibutuhkan kritik dan teguran keras. Solidaritas antarpara sahabat menunjukkan dirinya juga dalam kesediaan untuk mengritik dan menegur keras, mungkin pula menyakitkan. Aksi solidaritas tidak hanya memberikan dukungan dan persetujuan, tetapi juga kritik dan teguran. Baik dalam dukungan atau teguran keras, kita menyatakan tanggung jawab kita.
Tahun ini, Hari Valentin bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Lunar. Di Indonesia etnis Tionghoa menjadi kelompok terbesar yang merayakan tahun baru ini. Kelompok etnis lain yang merayakan tahun baru misalnya kelompok Vietnam. Sebab itu, tahun ini baru lazim disebut sebagai Tahun Baru Cina. Dalam konteks ini, kita perlu mendalami dan merefleksikan makna persahabatan antarkita. Sebagai kelompok yang mempunyai pengaruh kuat dalam bidang ekonomi di wilayah ini, bukan mustahil kelompok ini sering menjadi sasaran jarahan dan pemerasan para penguasa. Mereka dipaksa untuk menjalin persahabatan semu dengan para penguasa demi keamanan usahanya. Saudara-saudari kita dari kelompok etnis Tionghoa memang kuat secara ekonomi, namun secara sosial mereka mudah dijadikan korban. Tidak jarang mereka dijadikan sapi perah untuk mendukung berbagai kegiatan politik atau mendanai berbagai kunjungan pejabat. Sering pula mereka dipaksa berulang-ulang untuk memberikan 'sumbangan sukarela' demi kelancaran kegiatan keagamaan.
Kehidupan sebuah entitas politik tidak dapat dikatakan sehat selama ada kelompok warga yang selalu berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian. Kalau kita memahami persahabatan sebagai cinta yang mengarah kepada solidaritas dan tanggung jawab, kita perlu memperhatikan kondisi saudara-saudari etnis Tionghoa ini. Bunga persahabatan pada Hari Valentin yang dirayakan Tahun Baru Cina tahun ini perlu menjadi satu momentum untuk menggalang persahabatan yang suportif kritis di antara sesama warga.
Valentin, kalau nama ini masih dikaitkan dengan sang tokoh dari abad ke-3 kehidupan gereja, adalah seorang martir. Seorang martir mengorbankan dirinya demi sebuah keyakinan. Korban selalu menjadi bagian dari persahabatan dan cinta. Ikatan persahabatan yang kini menjangkau demikian banyak manusia, dapat menjadi sebuah ikatan yang terlampau longgar tanpa banyak isi. Untuk mengimbanginya, perlu dibuat pembatasan. Perhatian terhadap situasi saudara-saudari kita etnis Tionghoa dapat menjadi sebuah pilihan yang mendesak. *
Staf Pengajar STFK Ledalero, Maumere-Flores