Anton Bele dan Yudith Yasintha Salassa
Didik Anak Hidup dari Karya Sendiri
LATAR belakang kehidupan dari keluarga petani dengan hidup pas-pasan membuat pasangan ini menularkan kepada anak-anaknya. Anak-anaknya diajarkan sejak kecil untuk hidup dari karya sendiri.
Salah satu prinsip dalam keluarga ini adalah hidup tidak boleh ada musuh dan tidak boleh mencuri. Hal ini merupakan warisan turun-temurun dalam keluarga Drs. Anton Bele, M.Si, dan Yudith Yasintha Salassa, S.Ag.
Pasangan ini memiliki tiga anak. Anak pertama, Graciana Amanda Bele, ST, saat ini bekerja membantu dirinya mengelola Yayasan Gita Kasih. Anak kedua, Agrippina Agnes Bele, S.Tp, dosen Politeknik Pertanian Negeri Kupang, dan anak ketiga, Amadeus Kristoforus Bele, masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Pasangan ini juga sudah dikaruniai seorang cucu, yaitu Heince.
Kepada Pos Kupang di kediamannya, Perumahan Lopo Indah Permai-BTN Kolhua, Blok R1 Nomor 51, pensiunan dari Kanwil Departemen Agama (Depag) Propinsi NTT tahun 2004, mengatakan, setelah pensiun ia giat menulis dan menerbitkan buku-buku melalui yayasan yang dikelola bersama anaknya Graciana, yaitu Yayasan Gita Kasih.
Sejak kecil anak-anaknya didik hidup sederhana. "Latar belakang hidup saya dari keluarga petani, dan istri saya dari keluarga sederhana yang taat beragama. Mungkin latar belakang ini yang kami tularkan kepada ketiga anak kami. Bahwa hidup harus dari hasil keringat sendiri, hidup tidak boleh ada musuh dan hidup tidak boleh mencuri," kata alumnus magister dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Saat ini Anton Bele sedang menyelesaikan disertasi doktornya.
Falsafah ini, kata Anton Bele, menjadi salah satu prinsip keluarga sehingga di mana pun anak-anaknya berada pasti disukai banyak orang. Terbukti anak-anaknya memiliki banyak teman dan dengan siap saja.
Alumnus STFK Ledelero tahun 1974 dan saat ini mengajar di Sekolah Tinggi Pastoral (Stipas) Keusukupan Agung Kupang (KAK) ini mengatakan, anak-anak dididik apa adanya dan tidak pernah memanjakan anak dengan materi apapun.
Kepada anak-anaknya ia selalu berpesan untuk selali kerja apa adanya dan jangan pernah memperhitungkan uang. Yang terpenting, katanya, adalah menjaga kepercayaan orang, menerima semua tugas dengan senang dan sesuai dengan kemampuan.
Padahal, dari segi ekonomi pasangan ini sangat matang. Ia sendiri pernah menjadi anggota DPRD Propinsi NTT dari Partai Golkar, Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten Belu dan istrinya adalah seorang guru PNS di SD Inpres Maulafa.
Anton biasa memberikan kursus perkawinan di Kota Kupang dan diminta sebagai penasihat perkawinan, sehingga ia juga menerapkan semua itu di rumah. Dalam kehodupan di rumah belum pernah ada kata kasar dan makian, apalagi kekerasan, baik sebagai suami dan istri, sebagai orang tua maupun anak. Dengan ini, anak terbiasa dan terbawa untuk berkata baik, berpikir baik pada orang lain.
Pria paruh baya yang menjadi anggota tim penulis buku-buku pelajaran agama Katolik untuk SMA dan SD ini mengatakan, karena hidup keluarga berasal dari hasil keringan sendiri, keluarga ini tidak memiliki banyak usaha. Di masa tua ini ia lebih banyak menuangkan pikirannya untuk banyak orang melalui tulisan-tulisan artikel. (nia)
Biasakan Sebut Nama Dalam Doa
SALAH satu kebiasaan yang selalu dilakukan dalam keluarga ini adalah menyabut nama anggota keluarga dan setiap kali berdoa. Nama-nama anggota keluarga ini selalu disebutkan dalam doa anjelus bersama di rumah seperti angelus pagi, siang dan sore atau pada doa malam dan doa makan bersama. Selain itu, dalam ekaristi harian dan saat komunio di gereja, setiap anggota keluarga wajib menyebut nama anggota keluarga lainnya. "Ini tradisi keluarga yang wajib dilakukan setiap hari sejak anak-anak masih kecil. Tradisi ini masih dilakukan sampai sekarang ketika mereka sudah dewasa dan berkeluarga," ujarnya.
Hal lain yang selalu disampaikan kepada anak-anaknya adalah kepemilikan. Biasanya ia menyampaikan orang punya-orang punya dan kita punya-kita punya dan wajib dirawat dan dijaga. Sejak awal keduanya sudah menyampaikan kepada anak-anaknya mengenai pendapatan keduanya.
Kepada ketiga anak dan keponakan yang tinggal di rumah selalu disampaikan tentang hal ini. Ada satu istilah yang selalu disampaikan kepada anaknya adalah Resklamat Dominum (barang berteriak/menangis pada tuannya). Dalam arti, orang punya barang yang dipakai apalagi disembunyikan, barang itu tetap akan mencari tuannya.
"Saya katakan kepada anak-anak untuk saling menghargai satu dan lainnya, sehingga kalau ada kebutuhan harus dibicarakan dan sepengatuan tuanya.
Jangan sampai diambil dengan sembunyi-sembunyi. Saya pernah menjabat sebagai ini dan itu, tetapi saya kerjakan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab saya dan menerima apa yang menjadi hak saya. Sehingga yah sampai saat ini saya hidup bahagia dengan keluarga dengan kesederhanaan," kata pria kelahiran Belu ini. (nia)