Tubuh Dalam Kafan Itu Melayang
Ada Tulisan di Kain Kafan Turin
PENELITI dari Vatikan kembali menghidupkan debat berkepanjangan tentang kain kafan dari Turin (Shroud of Turin).
Tayang:
Kain kafan dari Turin telah lama menjadi kajian para ahli yang ingin mengungkap rahasianya. Kain kafan ini dipercayai sebagai kafan pembungkus Yesus setelah disalibkan.
Mereka mengatakan bahwa ada berkas tulisan samar pada permukaan linen kafan itu yang membuktikan bahwa kain itulah yang dipakai membungkus jenazah Yesus. Namun peneliti lain meragukannya. Mereka menganggap para sejarawan terlalu membesar-besarkan berkas tulisan itu, dan mereka kukuh pada pembuktian penanggalan-karbon yang mengindikasikan bahwa kafan itu hanyalah pemalsuan dari abad pertengahan.
Barbara Frale, peneliti dari Penyimpanan Arsip Vatikan, mengatakan dalam buku barunya bahwa ia menggunakan perjelasan-citra-komputer dari kafan itu untuk membaca tulisan samar berbahasa Yunani, Latin, dan Aram yang tersebar di permukaannya.
Ia memastikan bahwa di antara berkas itu ada tulisan "(J)esu(s) Nazarene" - atau Yesus dari Nazaret - dalam bahasa Yunani. Menurutnya tulisan itu tak mungkin berasal dari abad pertengahan, karena tak ada umat Nasrani di zaman itu yang berani menyebutkan Yesus tanpa mengacu pada keilahian-Nya karena ia bisa dicap bidat.
"Bahkan seorang pemalsu relikui pun akan menuliskan gelar keilahian pada kafan itu," kata Frale, Jumat (20/11/2009). "Namun kalau yang ditemukan kata 'Kristus' atau 'Anak Allah" maka kami justru bisa beranggapan itu adalah palsu, atau tulisan itu adalah tambahan sebagai tanda penghormatan."
Kafan Turin tersohor karena memampang citra dari pria yang telah tersalib, lengkap dengan resapan darah dari tangan dan kaki. Mereka yang percaya, meyakini bahwa itu citra dari Kristus yang terabadikan pada serat-serat linen saat ia bangkit dari mati.
Artefak rapuh milik Vatikan ini disimpan dalam ruang berpelindung di Katedral Turin dan jarang dipertunjukkan. Kain sepanjang 4 meter dan lebar 1 meter ini telah menderita kerusakan berat dari abad ke abad, bahkan pernah tersulut api.
Gereja Katolik sendiri tidak pernah mengklaim keaslian dari kafan tersebut, meski menyatakan bahwa itu merupakan lambang yang kuat akan penderitaan Kristus.
Perdebatan
Terlepas dari percaya atau tidak, kafan ini menjadi perdebatan sengit dalam komunitas ilmuwan. Kelompok skeptis mengatakan bahwa penanggalan radiokarbon yang dilakukan pada kafan itu tahun 1988 menyatakan bahwa kain itu dibuat pada abad ke-13 atau ke-14.
Tapi Raymond Rogers dari Laboratorium Nasional Los Alamos, 2005, mengatakan bahwa serat yang dulu diuji diambil dari tambalan yang digunakan untuk memperbaiki kafan itu setelah terbakar. Rogers, yang meninggal tak lama setelah mempublikasikan temuannya, memperhitungkan bahwa usia kafan itu 1.300 hingga 3.000 tahun, dan sangat mungkin berasal dari zaman Yesus.
Suatu penelitian lain, dari Universitas Ibrani (Hebrew University), menyimpulkan bahwa pola sebuk sari dan tumbuhan pada kafan itu berasal dari daerah sekitar Yerusalem dari suatu masa sebelum abad kedelapan.
Sementara berkas huruf-huruf yang tersebar pada permukaan kafan itu telah ditemukan sejak puluhan tahun lalu, tapi para peneliti mengesampingkan hal ini karena adanya hasil tes penanggalan radiokarbon itu.
Meski begitu, ketika Frale mengambil potongan kata-kata dari foto kafan yang telah diperjelas dan menunjukkannya pada para ahli, mereka setuju bahwa gaya penulisannya cocok dengan yang lazim dipakai di Timur Tengah pada abad pertama - yaitu zaman Yesus.
Frale juga percaya bahwa juru tulis jaman dulu menuliskan kalimat yang ditempel pada kafan di atas daerah wajah sehingga jenazah bisa dikenali oleh keluarga dan kemudian dimakamkan dengan layak. Kandungan logam pada tinta yang digunakan zaman itu memungkinkan tulisan itu meresap pada kain linen, kata Frale.
Ia mengatakan bahwa setidaknya ada 11 kata yang ia temukan dari citra-citra yang diproduksi oleh para ilmuwan Perancis pada penelitian tahun 1994. Kata-kata itu terputus-putus dan tersebar di sekitar daerah kepala dari citra itu, simpang-siur pada kain secara vertikal dan horizontal.
Suatu deretan pendek dari huruf-huruf Aram belum diterjemahkan sepenuhnya. Namun bagian lain tertulis dalam Bahasa Yunani - "iber" - kemungkinan merujuk pada Kaisar Tiberius, yang berkuasa pada waktu Yesus disalibkan, kata Frale. Ia mengatakan bahwa tulisan itu sebagian mengkonfirmasi kisah Injil tentang saat-saat terakhir Yesus.
Potongan lain dalam bahasa Yunani bisa diartikan "diturunkan (dari salib) pada jam kesembilan." Ini bisa saja merujuk pada waktu kematian Yesus yang dilaporkan juga dalam teks suci keagamaan, katanya.
Dalam bukunya "The Shroud of Jesus Nazarene" ('Kafan Yesus dari Nazaret'), yang diterbitkan berbahasa Itali, Frale merekonstruksi penghurufan pada kafan yang ia percayai sebagai isi dari sertifikat kematian Yesus, yaitu: "Yesus dari Nazaret. Terbukti (bersalah memicu pemberontakan rakyat). Dihukum mati pada tahun ke-16 dari masa Tiberius. Diturunkan pada jam kesembilan."
Ia berkata bahwa tulisan itu mengatakan bahwa jenazah akan dikembalikan pada keluarga setelah setahun. Frale juga mengaku bahwa risetnya dilakukan tanpa dukungan Vatikan. "Saya berusaha objektif dan mengesampingkan isu-isu keagamaan," katanya. "Apa yang saya pelajari merupakan dokumen kuno yang memastikan hukuman mati seorang pria, pada suatu waktu dan tempat tertentu."
Penelitian Frale biasanya berfokus pada dokumen abad pertengahan. Ia dikenal sebagai peneliti dari ordo Ksatria Templar, dan penemuannya dari dokumen yang tak diterbitkan mengenai kelompok tersebut kini ada di Penyimpanan Arsip Vatikan.
Sebelumnya di tahun ini, ia menerbitkan penelitian yang menyatakan bahwa para Ksatria Templar dahulu sempat memiliki kafan tersebut. Hal ini sempat dianggap aneh karena ordo itu dibubarkan di awal abad ke-14 dan keberadaan kafan itu pertama kali dicatat dalam sejarah sekitar tahun 1360 dalam kepemilikan seorang ksatria Perancis.
Buku terbarunya mengenai kafan Yesus bahkan menimbulkan lebih banyak keraguan di kalangan ahli.
Di satu sisi, memang benar bahwa pemalsu dari abad pertengahan akan melabel hasil buatannya dengan nama Kristus, seperti juga semua relikui yang dibuat di zaman itu, kata Antonio Lombatti, seorang sejarahwan gereja yang juga telah menulis tentang kafan itu. Tapi masalahnya dari awal memang tak ada tulisan.
"Orang yang bekerja mengamati foto berbercak-bercak bisa saja mengira mereka melihat suatu bentuk," kata Lombatti, "Ini akibat dari imajinasi bercampur dengan hasil software komputer. Bila foto kafan itu dicermati, ada banyak kontras gelap dan terang, tapi tak ada huruf."
Tetap mengkritik penemuan Frale, Lombatti mengatakan bahwa artefak yang mengandung huruf Yunani dan Aram memang pernah ditemukan pada pemakaman Yahudi di abad pertama, tapi penggunaan bahasa Latin justru tak lazim.
Ia juga menolak teori bahwa pihak yang berwewenang akan mengembalikan jenazah orang yang disalib secara resmi setelah mengisi berkas administrasi. Korban dari hukuman penyaliban yang diterapkan orang Romawi biasanya dibiarkan tergantung di salib atau disingkirkan ke pembuangan sampah agar lebih menakutkan.
Lombatti berkata, "pesan dari tindakan itu adalah bahwa seorang yang disalib (pemberontak/kriminal besar) takkan punya makam untuk ditangisi."
Seorang ahli kafan Turin lainnya, Gianmarco Rinaldi, mengatakan bahwa para ilmuwan yang percaya pada keaslian kafan itu pun telah mengabaikan citra-citra yang tak bisa diandalkan, yang menjadi dasar dari penelitian Frale.
"Perjelasan komputer ini meningkatkan kontras secara
berlebihan sehingga muncullah berkas-berkas ini," katanya, "kalau begitu maka berkas-berkas bisa ditemukan di seluruh kafan, bukan cuma di daerah yang membungkus kepala. Dengan sedikit imajinasi maka orang akan (mengaku) melihat huruf-huruf."
Penglihatan-penglihatan aneh seputar kafan Turin sudah lazim dan biasanya terbukti salah, kata Luigi Garlaschelli, seorang profesor kimia dari Universitas Pavia. Belum lama ini ia memimpin tim ahli yang meniru pembuatan kafan Turin dengan memakai bahan dan metode yang ada di abad ke-14. Hasilnya, mereka membuktikan bahwa kafan itu bisa saja dibuat orang pada abad pertengahan.
Puluhan tahun yang lalu, banyak penelitian diterbitkan mengenai tanda koin-koin yang katanya terlihat pada kedua mata Yesus yang tertutup, tapi ketika gambaran berdefinisi-tajam dihasilkan pada restorasi di tahun 2002, tanda dari koin-koin itu tak terlihat dan teori itu diabaikan, kata Garlaschelli.
Ia berkata bahwa teori apa pun yang berkenaan dengan tinta dan logam harus diuji dahulu dengan menganalisa kafan itu sendiri. Kafan Turin terakhir dipertunjukkan tahun 2000, ketika lebih dari satu juta orang datang untuk melihatnya. Pertunjukkan selanjutnya dijadwalkan tahun 2010, dan Paus Benediktus XVI telah diminta kehadirannya. (surya.co.id/kompas.com)
Tubuh Dalam Kafan Itu Melayang
KAIN kafan dari Turin (shroud of Turin) telah lama menjadi kajian para ahli yang ingin mengungkap rahasianya. Ilmuwan kini mengungkap bahwa tubuh yang diselubungi kafan itu tidak tergolek di atas batu, tetapi melayang atau tanpa bobot sehingga menimbulkan bekas pada kafan yang misterius itu.
Dalam DVD yang diberi judul The Fabric of Time, ilmuwan menggunakan teknologi mutakhir yang mampu memunculkan hologram tiga dimensi dari foto kafan itu. Dan hasilnya bisa dikatakan spektakuler.
Mereka menunjukkan gambar pada kafan yang dihasilkan bukan dari tubuh yang tergolek di atas batu, melainkan dari tubuh yang tanpa bobot, barangkali melayang di atas tempat peristirahatannya. Film dokumen itu juga mempertegas pertanyaan sebelumnya mengenai tes karbon untuk mengetahui umur kain kafan itu. Pada penelitian sebelumnya, kain itu ditaksir dibuat di abad pertengahan.
Ahli forensik bersaksi bahwa bekas darah pada sudarium of Oviedo (kain penutup wajah Yesus) sama umurnya dengan kain kafan itu.
Sejarah dari sudarium merujuk pada abad ketujuh di Spanyol. Golongan darah pada kedua kain itu sama, yakni AB. Serbuk sari yang ditemukan pada sudarium juga cocok dengan kafan Turin.
Juni lalu Paus Benedict XVI mengumumkan, kain kafan itu akan dipamerkan pada 19 April hingga 23 Mei tahun 2010 mendatang. Menurut Vatican, Paus sendiri akan mengunjungi pameran itu pada 2 Mei 2010.
Sebelumnya ilmuwan Italia mengatakan, kain kafan Turin yang diklaim sebagai kain bekas pemakaman Yesus merupakan hasil rekayasa abad pertengahan berdasarkan hasil sejumlah eksperimen terhadap kain linen tersebut.
Disebutkan, kain yang panjangnya 14 kaki 4 inci (sekitar 4 meter) kali 3 kaki 7 inci itu memiliki bekas wajah seperti hasil negatif fotografik yang disebut-sebut wajah Yesus. "Kami sudah menunjukkan bahwa ada kemungkinan untuk mereproduksi sesuatu yang memiliki karakteristik yang sama pada kain tersebut," ujar Luigi Garlaschelli, profesor kimia di University of Pavia, yang memaparkan hasil eksperimennya melalui sebuah konferensi paranormal di utara Italia.
Kain Turin tersebut menunjukkan pada bagian belakang dan depan terdapat wajah seorang pria berjanggut dengan rambut panjang, kedua tangannya disilangkan di dada. Sementara di seluruh kainnya terdapat bercak darah di pergelangan tangan kaki dan sisi badan.
Dari uji coba penanggalan karbon yang dilakukan di sejumlah laboratorium di Oxford, Zurich, dan Arizona pada 1988 menimbulkan sensasi, kain tersebut terbuat antara tahun 1260 hingga 1390.
Hal itu menimbulkan spekulasi bahwa kain kafan Turin adalah hoax yang sengaja dibuat untuk tujuan bisnis wisatawan dan kunjungan ziarah. Namun, para ilmuwan lantas kehilangan petunjuk bagaimana kain tersebut dibuat. Kemudian para ilmuwan menempatkan selembar kain linen di atas tubuh seorang relawan dan kemudian mengusapnya dengan pigmen yang berisikan zat asam. Topeng digunakan untuk menutupi wajah si relawan.
Pigmen tersebut ssecara artifisial mulai dipanasi di oven dan kemudian dicuci, sebuah proses yang mengangkat permukaannya sehingga menghasilkan bekas pada kain tersebut. Kemudian para ilmuwan menambahkan tetesan darah, lubang-lubang bekas bakar untuk mendapatkan efek terakhir. (surya.co.id/kompas.com)