Oleh Maria Matildis Banda
Kopi Manggarai
DENGAN hati gembira berita itu dibacanya keras-keras. "PSE Luncur Kopi Bubuk Manggarai! Ini baru berita," katanya. Soalnya, sejak zaman dulu Flores, apalagi Manggarai terkenal dengan kopi, namun yang beredar di seluruh daratan Flores Lembata dan pulau sekitarnya juga NTT seluruhnya, justru kopi dari luar.
Bukannya tidak boleh, tetapi pertanyaannya, "mengapa yang ada dalam rumah tenggelam, ditutup dengan yang datang dari luar rumah?" Akibatnya potensi dalam angus perlahan-lahan, lemah, terpuruk, dan akhirnya habis. Adanya Kopi Manggarai akan membuat Kopi Flores yang sudah ada lebih kompetitif dan peluang berkembang lebih bagus lagi.
"Senang rasanya dengar berita dari Manggarai tentang kopi. Mengobati resah hati yang selama ini gunda gulana gara-gara tambang!" Kata Nona Mia sambil mengipas-ngipas lembaran koran ke wajahnya.
***
"Dari dulu kopi, kopi dan kopi. Mana buktinya? Buktinya petani tetap miskin! Coba kalau orang Manggarai setuju tambang! Pasti dalam lima tahun ke depan kita sudah kaya raya!"
"He he he kamu itu apanya bos tambang, Rara? Rasanya hanya kamu satu-satunya pejabat Manggarai yang plin plan dengan rakyat! Apa kamu mau tanah leluhurmu bolong dan porak poranda karena tambang!"
"Apa kamu tidak mau rakyat kaya dengan tambang?" Rara balik bertanya!
"Apa kamu punya data tambang di dunia ini yang ujungnya mensejahterakan rakyat sekitar? Coba jawab! Yang akan kaya itu pengusaha tambang dan penguasa wilayah saja! Tahu kamu! Sedangkan dengan kopi kita mungkin tidak perlu jadi kaya raya. Tetapi petani bisa hidup sejahtera!"
"Tetapi tambang bisa buka lapangan kerja bagi petani kita!"
"Ya, orang kita nanti jadi tukang sapu, tukang parkir, tukang angkot, satpam yang berang dengan saudaranya sendiri, dan yang paling hebat, kata Pater Steph Tupen Witin - orang kita bisa jadi tukang buka pintu mobilnya para bos tambang dan segelintir bos-bos lokal!" Nona Mia tetap menentang.
"Yang tertinggal nanti tanah nenek moyang kita yang bolong dan menganga dan rusak tanpa ampun! Apa kamu tega melihat petani mati tak berdaya?"
"Gampang!" Jaki menyambung membela Rara. "Bolongan tanah kita tutup kembali. Kita ambil tanah dari mana-mana. Kita bisa potong gunung dan bawa tanahnya ke sini. Kita sewa pesawat untuk ambil tanah yang subur dari Jawa, Bali, Sumatra, biar sepuluh, dua puluh, atau lima puluh tahun lagi, petani kopi kita nantinya sejahteraaaa..."
"Ayoh, mari minum kopi dulu," ajak Nona Mia untuk meredahkan otak tambangnya Jaki dan Rara.
***
"Kopi ini sedaaaap sekali," kata Rara sambil menghirup bergantian dengan Jaki. "Wah, benar-benar nikmat. Kalau masih punya, tolong buat lagi ya Nona Mia."
"Kamu dapat dari mana?" Tanya Jaki.
"Kiriman dari Romo Gusti di Katedral Ruteng!" Jawab Benza.
"Wah, enak." Jaki menghirup dari cangkir yang sama. "Kopi ini kalau ditemani kompiang dari Ruteng, pasti tambah sedap. Memangnya Romo Gusti dapat kopi dari mana? Pasti dapat kiriman dari Jawa atau pasti dari Denpasar!"
"Bukan! Kopi ini produksi PSE Ruteng!"
"PSE Ruteng? Hebat ya PSE Ruteng!" Kata Jaki.
"PSE Ruteng itu apa ya?" Tanya Rara.
***
"PSE itu singkatan dari Pengembangan Sosial Ekonomi, salah satu komisi dalam rumpun kemasyarakatan di Pusat Pastoral Keuskupan. PSE Ruteng itu Komisi Pengembangan Sosial Keuskupan Ruteng," Nona Mia menjelaskan.
"Oooh urusan keuskupan berarti urusan gereja? Kenapa gereja urus dagang?" Tanya Rara kebingungan.
"Siapa bilang PSE urus dagang?" Sambung Nona Mia. "Coba dengar ini! Gereja tidak terlibat dalam urusan dagang tapi semata-mata membantu masyarakat untuk meningkatkan produksi kopi. Produksi kopi bubuk asli Manggarai berasal dari hasil kopi binaan PSE Ruteng dengan anggota kelompok petani yang menyebar di wilayah Manggarai. Dalam hal ini PSE bekerja sama dengan Veco Indonesia. Mudah-mudahan usaha ini lancar, sehingga petani kopi dari Bajawa, Mangulewa, Mataloko, Detusoko, Moni, sampai Larantuka dan wilayah lainnya di Flores juga bebas menjual kopinya di sana! Bersama petani Manggarai. Syukuuuur," kata Nona Mia yang diamini Benza.
"Benar! Kita ini panen kopi asli dari jaman dulu tetapi selalu kalah! Pengolahan kopi pasca panen sangat memrihatinkan. Kita punya kebun pisang tetapi beli kripik pisang dengan harga mahal. Lagi-lagi kita kalah pasca panen. Mengapa kita tidak bisa ekspor kripik pisang dan kopi bubuk? Mungkin ekspor dalam skala kecil tetapi stabilitas harga pada tingkat petani berjalan aman? Bukankah sekarang saatnya kedaulatan pangan sama dengan kedaulatan petani?" Benza bicara panjang lebar.
***
"Ooh jadi peran PSE di mana-mana di tiap keuskupan berusaha sejahterakan ekonomi rakyat?"
"Ya, mereka juga menjadi pelopor bidang koperasi yang mendidik masyarakat untuk menabung dan membangun pola hidup hemat! Masih banyak lagi peran komisi PSE. Mau bergabung?" Tanya Benza.
"Apakah PSE setuju tambang?" Tanya Jaki dan Rara bersamaan.
"Kalau soal itu, tanyakan saja pada komisi JPIC..." jawab Nona Mia dan Benza bersamaan pula. "Mau tambah kopi Manggarainya?" *