Breaking News

Oleh Maria Matildis Banda

Pesawat Laut

KONON ikan-ikan di laut pada mau naik pesawat. Apalagi ikan-ikan besar di lautan yang dalam, yang hidupnya hanya layak di tengah-tengah samudra raya. Para penguasa laut ini mau beli pesawat khusus untuk melayani mereka bernomaden seputar antarpulau-pulau. Ikan-ikan kecil di pesisir mati kutu, tidak dapat berbuat apa-apa. Maklumlah, jenis teri yang hidupnya di pinggiran, bagaimana mungkin berenang ke tengah lautan untuk unjuk rasa, memprotes kebijakan pembelian pesawat yang diusulkan ikan-ikan besar kelas ikan paus dan hiu. Mereka hanya bisa berteriak di pinggiran, tepian ombak. Siapa yang mau dengar suaranya?

***
"Kamu dengar dari mana?" Rara menganga terheran-heran.

"Ada orang pintar yang punya batu hiu. Dia keker itu batu hiu, terus dia dengar dengan mata kepala sendiri, satwa laut jenis kakap setuju usulan para raja laut untuk beli pesawat. Mereka capek berenang, apalagi mereka juga sering kepanasan gara-gara global warning.  Jadi ikan-ikan pada mau naik pesawat. Biar ikan teri dan jenis ikan pinggiran lainnya pada protes, mereka tidak peduli. Menurut orang pintar, laut sekarang lagi  bergejolak, awan ngambek dan tidak mau tunjuk batang hidungnya, hujan pun menjauh dari langit. Entah hujan pergi ke langit yang mana!"

"Ajaib!" Hanya itu saja komentar Benza sambil mengkerutkan kening.

"Buat apa mengkerut seperti itu?" Sambung Jaki. "Bagiku, ini berita gembira. Kita bisa ikutan numpang pesawat amphibi milik raja laut! Aman bukan?"

"Ya betul! Bila perlu kita tambah modal supaya bisa ikut terbang bebas bersama warga laut yang dalam! Lebih aman lagi kan? Dari pada susah-susah beli pesawat!"

"Aneh!" Benza berpikir keras.

"Memang aneh!" Nona Mia memperlihatkan wajah empat lima yang sulit ditebak maknanya. "Apakah ini strategi para ikan besar penguasa laut untuk memanfaatkan situasi antarpulau di NTT yang lagi error gara-gara lumpuhnya penerbangan?"

"Ya! Mungkin saja!" Benza belum percaya. "Mungkin saja, dunia sudah terbalik. Ikan-ikan di laut tidak mau kalah dengan manusia-manusia di darat yang rada tidak peduli dengan transportasi laut dan rada reaktif kalau soal pesawat!"

***
Transportasi laut dan udara di NTT lumpuh. Itu artinya sama dengan Jaki tidak leluasa jalan-jalan ke Jakarta sesuai rencana. Nona Mia tidak bisa ke Kupang  untuk satu urusan yang menurutnya tidak dapat ditunda, demi nama baik. Sementara Rara putuskan tidak terbang. Katanya, "obat saja ada obat alternatif, masak sih tidak ada terbang alternatif! Ikan-ikan di laut saja mau naik  pesawat. Masak sih kita kalah sama ikan?"

"Bayangkan! Ada berapa lapangan terbang? Kupang, Lewoleba, Larantuka, Maumere, Ende, Turelelo Bajawa, Ruteng, Labuan Bajo, Atambua, Kalabahi,  Waingapu, Weetebula, Sabu Rote, belum ditambah dengan semua Kabupaten baru di NTT buat lapangan terbang." Jaki geleng-geleng kepala.

"Pasti! Kita punya hak otonomi, mau bangun lapangan terbang dengan dana miliar ya terserah, mau triliun juga terserah," sambung Rara.   "Makanya sekarang saatnya kita bekerja sama dengan raja ikan-ikan di laut. Soal ada unjuk rasa ikan-ikan teri di laut, bukan urusan kita. Urusan kita adalah bertemu denga anggota Depan Perwakilan Ikan alias  DPI, untuk bahas rencana kerja sama!"

***
"Penumpangnya dari mana saja ya?" Tanya Nona Mia yang baru sadar bahwa NTT ini punya lapangan terbang banyaaak sekali, dan baru sadar bahwa peluang kerja sama dengan kerajaannya para ikan ikan terbuka luas.

"Banyak!" Jawab Rara. "Anggota DPI dan segenap warga ikan yang berprofesi sebagai pengusaha, penguasa, para pejabat, konsultan, akademisi, dan tentu dan pasti yang paling banyak adalah pegawai negeri Kerajaan Laut yang sudah pasti lakukan perjalanan dinas ke luar daerah menjelang akhir tahun!"

"Jadi aku nantinya naik pesawat dengan para ikan? Ikan apa? Ikan hiu? Aduuuh mengerikan," Jaki menggigil ketakutan.

"Ikan-ikan besar di laut pada mau naik pesawat? Keajaiban apa yang sudah terjadi?" Benza masih ternganga memikirkan keajaiban itu.

"Lebih baik kita manfaatkan peluang yang ada," Nona Mia menemukan jalan keluar. "Kita kerja sama dengan ikan-ikan besar. Kita ikut numpang pesawat mereka, atau kita sewa pesawat mereka. Apalagi pesawat amphibi di laut bisa di udara oke!"
***
Ternyata kedatangan Benza, Jaki, Rara, dan Nona Mia ke dalam Kerajaan  Laut, ditolak mentah-mentah oleh Raja Ikan. Konon, DPI di bawah laut tersinggung berat ketika Rara membuka pembicaraan dengan menyanyikan lagu: "Nenek moyangku orang pelaut!" Maksud hati menarik simpati para anggota DPI, namun apa daya perahu kandas.

"Apa? Nenek moyangmu orang pelaut?" Ketua DPI marah bukan main. "Kalau nenek moyangmu orang pelaut, sejak dulu kamu punya armada laut yang handal dan utama untuk melayari lintas pulau. Pesawat jadi alternatif kedua, bukan utama! Sudah terlalu lama kamu mengingkari asal-usul leluhurmu. Sudah terlalu lama kamu abaikan kearifan antarpulau yang ditinggalkan nenek moyangmu dalam berperahu. Sombong benar kamu!   Kami warga laut hanya mau bekerja sama dengan sesama makluk yang menghargai laut. Itu saja!" Ketua DPI mengetukkan palu tanda pertemuan ditutup.  

"Sungguh! Nenek moyangku orang pelaut!" Rara memelas.

"Nenek moyangmu para pilot, bukan pelaut!" kata ketua DPI Kerajaan Laut sambil tak henti-hentinya menyemburkan air membuat gelembung udara. *
 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved