Air Minus Petani Sawah di Kupang Timur Beralih Pelihara Ternak
-Ancaman kekeringan dialami petani di Kecamatan Kupang Timur khususnya petani sawah di Desa Raknamo dan Desa Pukdale. Petani tidak bisa menanam kembal
Penulis: Dion Kota | Editor: Ferry Ndoen
Laporan Reporter POS KUPANG.COM, Edi Hayong
POS KUPANG.COM I OELAMASI--Ancaman kekeringan dialami petani di Kecamatan Kupang Timur khususnya petani sawah di Desa Raknamo dan Desa Pukdale. Petani tidak bisa menanam kembali padi karena minim pasokan air. Akibatnya petani mengambil langkah memelihara ternak sapi dan menanam tanaman holtikultura.
Kepala Desa Raknamo, Agusto Fernandes dan warga Pukdale, Herman menyampaikan hal ini ketika ditemui POS KUPANG.COM secara terpisah, Selasa (23/7/2019).
Agusto menjelaskan, persoalan kekeringan ini memang sudah dirasakan petani sejak awal tahun 2019 setelah hujan berhenti total. Kondisi yang paling parah dialami Kelompok Tani, Nitbani di wilayah Nunsono I. Luas lahan garapan sekitar 36 hektar dan lahan tidur sekitar 30-an hektar tidak dikerjakan.
"Letak lokasi pertanian kelompok tani ini berdekatan dengan Bendungan Raknamo. Pada awal tahun 2019 sempat petani persoalkan karena tanah retak-retak. Karena masalah itu, petani bertemu pihak Balai Nusra II agar bisa alirkan air lewat saluran. Waktu itu sempat buka lalu setelah panen hasil, ditutup kembali," katanya.
• 34 Desa di TTS Terditeksi Alami Kekeringan
• BREAKING NEWS: Di Kabupaten TTU-NTT, 130 Desa Alami Bencana Kekeringan
Agusto mengatakan, karena ketiadaan air lagi sambil menunggu waktu pastinya air dikeluarkan dari bendungan, petani mengambil langkah memelihara ternak.
"Petani di Raknamo memang habis panen sekali lalu tunggu musim hujan lagi baru penanaman kembali. Sekarang petani pelihara ternak saja," jelas Agusto.
Sementara petani Pukdale yang mengaku bernama Herman mengatakan, lahan sawah yang ada tidak bisa ditanam anakan padi. Hal ini karena pasokan air sangat minim walaupun ada sumur bor.
"Kami memang harapan cuma di hujan. Memang ada sumur bor di semua lahan tapi tidak cukup. Makanya kami tanam jagung dan ubi kayu. Sekarang baru tanam dan harapan kami air sumur tidak kering saja," ujar Herman.
Herman kuatir apabila pasokan air berkurang maka dampak ikutannya pada serangan hama. Saat ini diakuinya belum ada hama yang menyerang tanaman yang ada.(*)