Berita Cerpen

Cerpen Wildus Tuname: Di Cerita Fajar

Cerpen Wildus Tuname: Di Cerita Fajar. Perjumpaan kami sore itu adalah pelepasan rindu yang selalu menunggangi setiap langkah kami.

Cerpen Wildus Tuname: Di Cerita Fajar
ilustrasi
Cerita Fajar 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - "Seorang yang bijaksana hendaknya masuk ke dalam jalan-jalan yang pernah diambil oleh orang-orang hebat dan meneladani orang-orang yang paling hebat, " kata saya kepada Abe dengan mengutip ungkapan Machiavelli seorang pemikir politik abad modern.

Abe adalah saudara sepupu saya. Bertubuh kekar, hitam manis dan berwatak bijak. Ia baru kembali dari perantauan setelah enam tahun mencari pundi-pundi kekayaan di pedalaman Pulau Kalimantan.

Perjumpaan kami sore itu adalah pelepasan rindu yang selalu menunggangi setiap langkah kami.

305. 835 Surat Suara Pemilihan DPRD Kabupaten TTS Mulai Disortir

"Membayangkan saya seperti kamu itu santapan saya setiap hari. Menjadi seperti kamu adalah usaha saya setiap hari, " batin saya di sore itu ketika bersama Abe berada di pusara kakek Elias Fuka.

Langit tampak menguning. Hembusan angin laut menyapu tubuh. Terasa segar menusuk sumsum, memasuki sukma. Para petani lalu-lalang menelusuri jalan bebatuan.

Hal ini menjadi pemandangan kami sore ini. Alun-alun kaki mereka membentuk harmoni yang indah tepat di gendang telinga. Film kehidupan kampung ini sungguh merebut perhatian kami. Sampai-sampai kami lupa apa yang harus kami bicarakan.
Abe sekali lagi mengisap rokok yang ada di selangkangan jemarinya. Tiada satu kata pun dia utarakan. Entah apa yang mengganjal dalam hati dan pikirannya, sehingga tak mampu ia bahasakan. Hanya ekspresi memukul dada, dahi dan mengacak-acak rambutnya. Saya mengamatinya sungguh. Mencoba menjejaki kandungan isi hati dan pikirannya. Sebab kata orang, " Ekspresi selalu membahasakan sesuatu tanpa harus diucapkan."

"Hidup adalah perjuangan. Perjuangan untuk dianggap ada. Ukuran keberadaan manusia saat ini dilihat dari seberapa banyak dia memiliki, dia berbuat dan dia berpikir. Di kampung kita yang berada ialah mereka yang punya banyak kebun. Memiliki banyak ternak. Rajin bekerja. Dan mendiami rumah tembok beratap genteng atau seng. Itukan yang dilihat orang di sini?" Kata Abe penuh ekspresif.

"Kakek jalan hidup ini terasa sempit, pikiran terhimpit. Berjalanlah bersama kami, ringankanlah langkah dan perbuatan kami agar perjuangan kami tidak sia-sia, " lanjut Abe sembari melihat foto kakek Elias Fuka yang dipajang pada pusaranya.

Elias Fuka adalah tokoh tersohor di kampung ini. Baru setahun dipanggil kembali oleh Tuhan. Beliau pernah menjadi kepala desa di kampung ini.

Semasa kepemimpinannya wajah kampung ini mulai diterima oleh kampung tetangga, di kecamatan dan kabupaten. Bahkan, kampung ini pernah mengikuti lomba tata desa se-Propinsi NTT. Walau hanya sebagai runer up perlombaan itu.

Halaman
123
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved